All about my life

Friday, 14 August 2015

[Masih] Mengejar Cita-Cita

"Gantungkan cita-citamu setinggi bintang di langit"

Itu adalah nasehat yang hampir setiap hari saya dengar. Mungkin maksudnya agar saya memiliki tujuan hidup yang jelas. Siapapun pasti memiliki tujuan hidup yang tinggi. Nggak pernah terdengar cerita kalau ada anak yang bercita-cita jadi penjahat atau jadi orang susah. Iya, kan. Saya sendiri belum yakin apakah saya sudah benar-benar meraih cita-cita saya. Sama nggak sih...cita-cita dengan passion? Dulu saya sama seperti anak-anak kecil pada umumnya, kalau ditanya cita-cita pasti selalu berubah-ubah. Kemarin bilang ingin menjadi dokter (cita-cita mainstream anak-anak...hahaha), hari ini berubah pengen jadi insinyur pertanian (padahal nggak suka nanem-nanem...idih), eeh besoknya berubah lagi pengen jadi intel (gegara liat film seri The A Team....ya ampyuun ketauan kalo saya ini udah tuwir).
Kembali ke cita-cita. Saya bukan sekali dua kali gagal meraih apa yang saya cita-citakan. Pernah bercita-cita menjadi wartawan (dulu kayaknya jarang yang bercita-cita jadi wartawan) ketika SMA karena seringnya menulis di Mading. Pernah juga bercita-cita jadi penyanyi gara-gara dulu sering menang lomba nyanyi dan sering diundang di berbagai event. Bahka rival saya menyanyi sekarang sudah menjadi penyanyi beneran, meski doski jadi penyanyi dangdut. Tapi cita-cita itu kemudian berantakan karena orangtua menginginkan saya masuk STAN (yang gratis...hehe). Berhubung saya nggak mau dianggap membangkang, ikutlah saya test untuk masuk ke STAN. Tapi saya gagal, sodara-sodara....*tutupan kresek.

Masuk ke dunia kerja

Orangtua saya bukanlah dari kalangan berada, jadi saya diarahkan untuk mencari perguruan tinggi yang tidak perlu mengeluarkan biaya. Karena saya tidak lolos masuk STAN akhirnya saya memilih ikut om (adik dari Ibu) dan bekerja. Berkat bantuan om dan tante akhirnya saya bisa bekerja di sebuah perusahaan kayu sebagai staff administrasi. Meski bukan cita-cita saya, tapi saya mesti menjalaninya dengan bahagia. Tapi sebagai ABG yang baru lulus SMA dan masih unyu-unyu, saya anggap pekerjaan saya adalah sekolah saya. Yang tadinya nggak bisa mengoperasikan komputer jadi bisa, meski dulu masih pake Lotus release 5 dan WS yang kudu dipancing pake DOS* idiih...ketahuan deh, umur saya berapah. Untunglah beberapa karyawan senior banyak membantu. Senengnya lagi kalo pas gajian. Puas...puaaaas banget pegang hasil keringat sendiri meski hanya beberapa ribu. Bisa menyisihkan sedikit uang untuk orangtua, rasanya bangga bukan main. Terbayang mata almarhumah Ibu yang berkaca-kaca ketika menerima beberapa ribu uang hasil keringat anaknya. *mendadak pilu lagi...hiks...hiks.

Menikah muda dan Mengajar

Hampir tiga tahun saya bekerja dan hasilnya apa? Selain materi yang cuma segede upil, hasilnya dapat jodoh, sodara-sodara. Alias dapat suami. Saya yang masih kinyis-kinyis ini akhirnya menikah di awal usia 21 dengan manajer personalia tempat saya bekerja. Haha...saya curiga sejak awal suami saya itu naksir saya ketika beliau mewawancarai saya. Pantesan saya dijadikannya asisten. Asisten manajer personalia yang direkrut selama-lamanya*lelucon apa pula ini. Pupuslah sudah cita-cita saya, berganti status sebagai ibu rumah tetangga..eeh tangga.
Saya jadi mikir, apa saya terlalu tinggi menggantungkan cita-cita ya, kok saya nggak bisa meraihnya. Apalagi setelah punya anak dua tahun kemudian, sepertinya cita-cita saya semakin membumbung tinggi kemudian terhapus angin. Kesiaaaa....aaan *ala Upin Ipin

Hingga kemudian, suami mengijinkan saya untuk kembali terjun ke kancah peperangan...eh maksudnya dunia kerja. Keluarga menyarankan agar saya mengajar. Meski awalnya sempat ragu karena nggak yakin bisa mengajar, tapi lama kelamaan saya mulai menikmati dunia pendidikan. Saya mengajar di Sekolah Dasar selama  3 tahun tapi karena suatu hal saya  beralih mengajar anak usia dini (pra sekolah) hingga tahun 2013. Sekian lama menjadi pendidik, saya jadi yakin mengajar adalah passion saya.
Belajar bersama anak-anak unyu
Mendongeng
Saya sadar bahwa  tugas seorang Guru tidak hanya mengajar tapi juga mendidik. Dengan dukungan suami dan keluarga sayapun memutuskan untuk kuliah. Ketika mengajar Sekolah Dasar saya mengambil jurusan PGSD, tapi hanya sampai  semester 3 saja. Setelah mengajar di lembaga PAUD, jurusan Pendidikan Guru PAUD menjadi pilihan saya. Meski berstatus ibu rumah tangga dengan tiga anak, akhirnya saya bisa lulus juga dengan nilai yang tidak mengecewakan *emak-emak songong...hihi
Akhirnya lulus jugaa...
Pada akhir tahun 2013 lalu kebersamaan saya dengan anak-anak yang unyu-unyu itu harus berakhir. *syedihnya nggak habis-habis. Saya harus meninggalkan mereka demi berkumpul dengan keluarga saya. Artinya saya harus memupus lagi..(..dan lagi) cita-cita saya. Kini saya sepenuhnya mengabdi pada suami dan anak-anak. Setelah nggak ada kegiatan, lalu saya harus apa?
Now what?? *niru istilah pilem-pilem ituuh
Apakah saya masih dan harus memiliki cita-cita lagi? Setelah bertapa, mendaki gunung, melewati lembah dan bertualang *emang ninja Hatori...hihi akhirnya sayapun memilih, menimbang dan memutuskan. Saya memilih bekerja di rumah dengan menjadi penulis.
Penulis?? deng..deng..*pede abis.
"Emangnya kamu bisa nulis?" tanya hati kecil saya.
"Eiits, jangan salah. Dulu saya sering nulis cerpen, nulis cerber dan nulis resep lho (yang terakhir itu perlu ditulis nggak, siih)".
"Iya kamu bisa nulis, tapi apa tulisanmu cukup bagus untuk kau pamerkan?"
Eh..iya ya, mana buktinya kalo saya bisa nulis. Kayaknya belum pernah deh...tulisan saya mejeng dimana-mana. Mikiiir...lagi.

Bergabung dengan komunitas menulis

Setelah memutuskan untuk menulis (belum pede menyebut diri ini penulis), saya bergabung dengan beberapa komunitas untuk menambah wawasan saya di dunia kepenulisan. Komunitas Penulis Kreatif, Fiksiana Community, Komunitas Penulis Bacaan Anak, Ibu-ibu Doyan Nulis, Dendang Indah Nada Sastra. Hampir setiap hari saya menggali ide untuk menulis. Tentang apa saja. Sebagian saya kirimkan ke beberapa media, sebagian saya simpan di file.

Mulai Ngeblog

Awal tahun ini saya membuat blog ini. Tepatnya bulan Februari 2015. Setelah beberapa waktu ngeblog, sayapun bergabung dengan beberapa komunitas blogger antara lain Kumpulan Emak Blogger, Warung Blogger, BRid, Blogger Muslimah, Gandjel Rel, dan Blogger Perempuan. Setelah berbulan-bulan belajar dari para senior dan berkomuniti, saya semakin yakin pada pilihan saya. Saya memilih menjadi penulis sebagai cita-cita saya saat ini. Hingga saat ini saya masih mengejar cita-cita saya. Berharap bahwa saya bisa meraihnya sebelum saya tiada. Saya ingin meninggalkan sesuatu berupa karya suatu hari nanti. Semoga saya bisa.
Oh ya...selain menjadi penulis, cita-cita terakhir saya adalah masuk surga Allah bersama keluarga dan sahabat-sahabat tercinta. Aamiin......



18 comments:

  1. cukup panjang perjalanan mba meraih cita2 yaa, tapi asik lho jadi penulis dan blogger dengan latar belakang pendidikan, guru, bisa nulis artikel2 mencerahkan seputar dunia pendidikan mbak..keep sharing...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe...sudah kayak ninja Hatori ya. Masih harus banyaaaak belajar dari penulis-pemulis hebat seperti dirimu mb Dew...

      Delete
  2. Menjadi guru anak-anak yang unyu2 itu bikin hati ceria ya mbak. Keren ah tulisannya sudah mejeng di femina, kan? :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak...bisa jadi penghibur hati saat galau melanda...haha *halah
      Baru satu yang mejeng disana mb Lianny ;)

      Delete
  3. Mantep neh mba perjalanannya. Semangat terus mak mengejar cita-citanya ya.

    ReplyDelete
  4. Cita-cita yang terakhir saya ikutan juga ya Mbak..

    ReplyDelete
    Replies
    1. InsyaAllah...sahabat sejati sampai surga ya mb... ;))

      Delete
  5. Pokoknya yang namanya cita cita harus dikejar dan berusaha serta berdoa ya bu'..
    aku juga punya cita cita walaupun saya sendiri yg tau :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Harus dong..., cita2 membuat kita bersemangat menjalani hidup ;))

      Delete
  6. Mbaa, pengalaman ngajar anak-anak unyu-unyu ditulis dan diterbitkan, kayaknya seruu deh :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Eh iya ya....*semedi dulu bikin konsepnya...hihi :D

      Delete
  7. Aamiin. Wah perjalanan meraih cita-cita yang seru dan inspiring, Mbak Ika ...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Panjang dan berliku tajam mb Kayla....hihi *kayak lagu ... ;)

      Delete
  8. keren mak, udh nongol di femina,udh seringdpet job review, prnh menang lomba, tuuhh, prestasi dikau kece mak, pdhal baru jg mulai ya mak, 2015, keren dah pokoknya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe....lagi merangkak rangkak nih, Muma....
      dikau udah lari2an ajaah...

      Delete
  9. Kalo aku daridulu cita2nya (selain keliling dunia hahhaha) ya jadi guru mbak.entah knp cinta sama dunia ini padahal tau sendiri gaji guru berapa mana cukup buat kliling dunia hiks...
    Tp setelah jd blogger aku merasa bisa mencapai mimpi jd penulis dan keliling dunia. Insyaallah...
    Semangat kakaaaakkk :*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebenarnya bisa pergi ke luar negeri terutama Norway, Korea, Jepang, Mekkah Madinah (banyak amat yak) itu juga cita-citaku.
      Wish that I can reach my destiny and make it come true *sok ngenggres haha :D

      Delete

Terima kasih sudah berkunjung dan tidak meninggalkan link hidup. Jangan lupa komentarnya yaaa.....
bundafinaufara.com

ID Corners

ID Corners

KEB

BRID

Blogger Perempuan

Fun Blogging Community

IDFB

Blogger Muslimah

Gandjel Rel

IIDN

IIDN

Warung Blogger

Warung Blogger

KOPI

KOPI

Copyright © My Life on Words | Powered by Blogger

Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com