Monday, 2 October 2017

# Finansial # KEB Collaborative Blogging

Atur Keuangan demi Masa Depan

Dear Friends,

Sedikit cukup, banyak tidak habis. Judul tulisan mbak Henny Puspitarini di KEB ini cukup menohok ya. Terutama buat kita (kita? elu aja kalik. LOL) yang sering kesulitan mengatur dan mengelola penghasilan. Bicara mengenai keuangan memang sensitif ya. Terutama buat para istri yang mengelola penghasilan suaminya. Cukup nggak cukup, mesti dicukup-cukupin. Jujur saya akui, dulu saya tak pandai mengatur keuangan. Berapapun uang yang saya pegang, selalu habis tak bersisa. Dapat sedikit habis, dapat banyakpun juga habis. Seringnya habis untuk keperluan yang nggak jelas. Akibatnya sudah bisa ditebak. Saya nggak punya tabungan, nggak punya uang cadangan dan selalu kehabisan uang saat tanggung bulan. Hari-hari menunggu gaji jadi terasa begitu lama dan menyiksa.

Tapi itu dulu, sih. Sekarang alhamdulillah sudah insyaf, friends. Hahaha. 

Awalnya sayalah yang mengatur keuangan keluarga, tetapi karena sering banget "failed" jadi saya menyerahkan semua urusan keuangan pada suami. Untuk urusan keuangan, suami saya lebih pandai mengatur keuangan dibanding saya *akhirnya jujur juga. LOL. Ternyata sudah hampir beberapa tahun ini suami menyisihkan gajinya untuk tabungan pendidikan anak-anak. Bahkan bisa menyicil renovasi rumah sedikit demi sedikit. Sekarang untuk urusan uang sekolah anak, bensin, uang saku anak-anak hingga tagihan-tagihan lainnya beliau yang pegang. Sedangkan saya bagian mengatur keuangan untuk belanja keperluan rumah dan dapur saja. Dan saya hepi, karena beban saya untuk mengatur keuangan keluarga jadi lebih ringan. 



Sebenarnya kondisi keuangan kami hingga saat ini belum bisa dibilang berlebihan, bahkan lebih tepat pas-pasan. Pas butuh, pas ada. Haha. Sekarang sih, saya sudah lega dan nggak merasa terbebani lagi (eh, emang beban ya mengatur keuangan) soal atur mengatur keuangan keluarga.

Pengen tahu gimana caranya suami saya mengatur keuangan keluarga? Boleh diintip, kok.

Bayar Tagihan-tagihan Lebih Dulu

Suami saya menerima gaji setiap tanggal 25 dan biasanya beliau langsung membeli pulsa listrik, membayar cicilan sepeda motor (masih pecicilan, bo) dan membayar tabungan pendidikan anak-anak. Suami langsung membayar begitu gaji masuk karena sistem pembayarannya melalui online. Beliau juga langsung menyisihkan biaya sekolah anak-anak (SPP), uang saku, uang bensin dan tabungan anak-anak di sekolah. Setelah dikurangi untuk pengeluaran tak terduga, sisanya baru deh ditransfer ke rekening saya. 

Belanja Kebutuhan Bulanan

Kebutuhan bulanan seperti sembako, toiletries biasanya dibeli sebulan sekali. Kebiasaan ini memang sudah cukup lama dilakukan, sih. Biasanya saya yang kebagian tugas belanja. Lumayan irit juga, karena saya biasa belanja di toko grosiran. Kadang kalau sedang beruntung, bisa dapat harga promo. Jadi dobel hemat, kan.


Belanja Dapur Mingguan

Ada belanja bulanan ada pula belanja mingguan. Hal ini dilakukan agar kita nggak perlu bolak-balik belanja ke pasar atau warung. Cukuplah seminggu sekali, kecuali ada kebutuhan mendadak ya. Belanja mingguan ini hanya untuk kebutuhan dapur seperti sayuran dan lauk pauk. Kalau ada uang lebih biasanya saya beli buah, tapi kalau pas nggak ada kelebihan uang ya nggak beli. Belanja mingguan ini disesuaikan juga dengan menu makanan selama seminggu. Biasanya yang paling banyak adalah kebutuhan lauk. Kalau hari ini makan dengan lauk protein nabati, besoknya lagi makan dengan protein hewani. Kalau sudah punya stok sayuran dan lauk pauk untuk seminggu, lega deh rasanya. 

Punya Dana Darurat

Alhamdulillah, setelah beberapa tahun ini aktif ngeblog saya memiliki penghasilan tambahan. Besaran penghasilan saya sebagai blogger tidak menentu. Kadang banyak, kadang sedikit, kadang juga tidak ada pemasukan sama sekali. Sejak itu saya memiliki dua rekening. Satu rekening khusus untuk jatah bulanan dari suami dan satu lagi rekening khusus untuk penghasilan saya dari ngeblog. Uang hasil ngeblog saya pergunakan sebagai dana cadangan, yang akan digunakan bila dalam keadaan darurat. Misalnya ketika mendadak harus pulang kampung atau kondisi darurat lain.

Buatlah  Skala Prioritas

Kalau dipikir-pikir, kebutuhan kita dari waktu ke waktu semakin meningkat dan semakin bertambah. Kalau menuruti hawa nafsu, semuanya pasti akan kita penuhi dalam waktu bersamaan. Akibatnya tentu saja pengeluaran membengkak. Untuk mengatasinya, pilih kebutuhan yang benar-benar mendesak. Misalnya, saat harus memilih antara membeli ban sepeda motor dengan sepatu. Ban sepeda motor tentu lebih urgent penggunaannya daripada sepatu baru, karena hampir semua aktivitas dilakukan menggunakan sepeda motor. Resiko yang diakibatkan oleh ban sepeda motor lebih besar daripada resiko tidak memakai sepatu baru. Ya, kan?

Bawa Bekal dari Rumah

Sebisa mungkin suami dan anak-anak saya berangkat dalam kondisi perut terisi (sudah sarapan). Pagi-pagi sekali saya usahakan sarapan sudah siap. Untuk mengurangi pengeluaran jajan di luar, suami dan anak-anak biasa membawa bekal dari rumah. Lumayan, bisa hemat uang jajan kan.

Itu aja sih trik yang kami pakai selama ini untuk mengatur keuangan keluarga. Pastinya cara untuk mengatur keuangan tiap keluarga berbeda-beda. Ya iyalah, secara kebutuhan tiap keluarga kan juga beda-beda. Bijaklah mengatur keuangan agar tidak menyesal kemudian. Yuk, mulai atur keuangan demi masa depan!

Artikel ini untuk #KEBloggingCollab ke-3 untuk kelompok Sri Mulyani dengan tema Finansial : Hemat dalam Keluarga.


32 comments:

  1. Nyisihin dana darurat itu susah buatku mbak. Soalnya dana darurat sering buat darurat jalan2 hahaha....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haha...sekarang aku udah mulai ngerem2 kebiasaan burukku ngabisin duit buat yg ga penting. Ya ga pa2 buat jalan2, kan itu termasuk darurat...darurat pingin piknik :p

      Delete
  2. Triknya bisa ditiru nih. :D

    ReplyDelete
  3. Alhamdulillah, sudah melakukannya dari kapan hari. Memang jauh lebih hemat. :D Apalagi kalau pas ada diskon.

    ReplyDelete
  4. Bener banget nih setuju ama tips mbak ika dalam menghemat dana keluarga, bener harua dipisah, biar tercukupi semuanya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak Vita, baru kerasa kegunaannya sekarang

      Delete
  5. memisahkan rekening gaji dan rekening untuk kebutuhan hari-hari memang penting yaa Mba Ika. Saya juga punya beberapa rekening yang peruntukannya beda-beda dan sejak punya penghasilan dari blog, saya juga membuat satu rekening khusus untuk menerima fee dari ngeblog dan sosmed yang insyaallah gak akan saya tarik uangnya bila gak ada keperluan yang mendesak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Penting banget mb Ira, kalo kepake semua...ya bubar semua deh uangnya.

      Delete
  6. Aku paling banyak pengeluaran di makan mba Ika :( susah banget ngatur uang makan ... eh sama jajan juga ding

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hmm...itu juga dulu pernah terjadi padaku Uzha, waktu masih single dulu...wkwkwk

      Delete
  7. Biasanya aku atur pengeluaran dengan memisahkan uang yang belum kepake di bank yang memang jarang disentuh. Jadi biar aman aja misal ada apa-apa baru lah ditarik.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Top deh Kok Deddy, pantesan bisa piknik kemana-mana ya, tabungannya banyaak :P

      Delete
  8. Toss mba. Aku juga masih suka susah atur duit nih. Dulu tabungan paling di arisan2 dan koperasi2 sekolah. Wkwkwk.Tapi skg sdh kutrik i dgn nabung di bank yg gda atm dan jaraknya jauh dr rumah. Biar kalo mo kesana males. Hahahaaa. Jadi uang aman ta tersentuh kecuali butuh bin kepepet

    ReplyDelete
    Replies
    1. harus bener-bener kenceng pegangnya ya mbak Rahma

      Delete
  9. Bayar tagihan selalu dibayarkan pas gajian hehe takut uangnya keburu abis haha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah, bener itu Teh...kalo ditunda-tunda, keburu habis ya

      Delete
  10. Dana daruratku belum bisa 9x biaya bulanan. Ada aja kebutuhan. Eh kepakai buat renov rumah lah. Yang belum ini menyisihkan uang buat investasi..masih ragu memilih bentuk investasi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku juga belum punya dana darurat sebanyak itu mbak..hihi. Masih dikit kali lah.

      Aku juga ga investasi apapun, kecuali tabungan anak-anak aja.

      Delete
  11. iyaaa, gajian langsung bayar2 dan nabung dulu :) nabung dikit2 nanti jd bukit, aamiin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Biar nggak bangkrut di kemudian hari ya, ya mbak Wur

      Delete
  12. Yang masih PR itu dana darurat Mba,buat saya

    ReplyDelete
    Replies
    1. sama mb Uci...masih bolong2 ngisinya

      Delete
  13. Yang agak repot kyk kami ini yg ga punya penghasilan tetap. Jd ga bisa bikin anggaran bulanan #Alesan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe, nggak punya penghasilan tetap tapi pendapatannya besar

      Delete
  14. aku masih belum konsisten mengatur keuangan Mbak, kalau lagi rajin, aku budgeting semua, tulis di excel dan kuprint daftar belanjaan bulanan, belanja dapur mingguan, sampai beli air galon dan gas. Penting sich ditulis, tujuannya untuk mengetahui seberapa besar pengeluaran selama satu bulan dan bisa dibandingkan untuk bulan bulan sebelumnya atau selanjjutnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo aku semua yang urus suami, hihi. Aku memang ga bisa atur keuangan (jujur), jadi mending urus yg kecil2 aja

      Delete
  15. Aku honor dari ngeblog juga dipisahkan dari duit dari suami. Sejak nggak kerja malah aku bisa nabung, hihiii.. entah napa dulu jaman kerja kok pengennya jalan-jalan nggak jelas ngemall mulu yaaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihi...jadi keliatan hasil ngeblognya kalo aku mbak. Alhamdulillah bisa bantu2 lah, buat simpenan juga

      Delete
  16. Sama! Abis gajiannya suami, langsung buat bayar2 tagihan. Jadi bisa ngira2 berapa uang lebuh buat ditabung. Hehe...kami nabungnya bukan di awal tapi di akhir setelah itung2an

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak, lebih enak yg wajib2 kita keluarin dulu...sisanya baru kita kelola

      Delete

Terima kasih sudah berkunjung dan tidak meninggalkan link hidup. Jangan lupa komentarnya yaaa.....
bundafinaufara.com

Follow Me @ikapuspita1