Semenjak Ibu berpulang delapan tahun lalu, hanya Bapak satu-satunya orangtua yang saya miliki. Selama delapan tahun pula Bapak hidup sendiri. Cinta Bapak terlalu besar pada Ibu sehingga beliau tak mau menggantikan posisi Ibu dengan wanita lain. Hidup beliau kini hanya untuk anak dan cucu-cucunya. 

Saya adalah anak pertama dari empat bersaudara. Sebenarnya lima, hanya saja adik kedua saya meninggal di usianya yang ke 2 tahun karena sakit. Diantara kami hanya si bungsu saja yang belum menikah. Kami kini juga tinggal berpencar bersama keluarga kecil kami masing-masing dan si bungsu ikut tinggal bersama adik saya yang ke tiga di Solo. Jadilah kini Bapak benar-benar tinggal seorang sendiri di kampung. Sekali waktu, kami semua berkumpul di rumah Bapak dan terlihat benar di raut wajah Bapak yang bahagia dikelilingi anak cucunya.

Bapak ditengah anak cucunya
Bapak sebenarnya bukan tipe orangtua yang suka memaksakan kehendaknya. Beliau tidak pernah merasa keberatan jika anak-anaknya hanya bisa pulang sebulan bahkan dua bulan sekali. Bapak juga seorang yang ringan tangan. Hampir semua pekerjaan rumah bisa dikerjakannya sendiri. Bahkan sejak Ibu masih ada. Beliau yang menggantikan tugas Ibu mengurus rumah ketika Ibu sakit. Mulai dari memasak, mencuci, bersih-bersih rumah hingga menyetrika. Semua fasih dikerjakannya. 

Bapak bukan tipe orang yang hanya suka berdiam diri di rumah. Sejak kecil beliau sudah terbiasa bekerja keras. Kalau sedang sehat, apa saja dikerjakannya. Mulai dari ternak ayam, ikan dan berkebun. Bahkan sesekali beliau masih menerima pekerjaan sebagai sopir. Iya, Bapak saya dulu adalah seorang sopir. Beliau pernah menjadi sopir truk material dan sopir bus namun berhenti ketika Ibu mulai sakit-sakitan. Saat itu Ibu butuh perawatan ekstra karena penyakit komplikasinya. Jadi mau tidak mau Bapak harus berhenti dan merawat Ibu. 

Sebagian tanaman yang ditanam Bapak
Bapak bukan tipe orang yang suka bergantung pada orang lain. Apalagi soal makanan. Sebisa mungkin beliau memanfaatkan apa yang ada di sekitarnya. Bapak menanam sayur, cabai hingga bumbu dapur di sekitar rumah. Hanya bila ada bahan lain yang dibutuhkan saja beliau belanja di warung. Belanjanyapun secukupnya karena di rumah Bapak tak ada kulkas untuk menyimpan bahan makanan. Pernah suatu ketika saya belanja banyak bahan makanan dan keperluan dapur untuk Bapak. Maksud hati meringankan beban Bapak, supaya beliau tidak perlu berbelanja selama beberapa hari ke depan. Namun sayang, karena tidak memiliki tempat penyimpanan yang memadai, bahan-bahan makanan harus terbuang sia-sia karena rusak dan membusuk. Seandainya di rumah Bapak ada kulkas, tentu keperluan dapur di rumah Bapak bisa tersimpan dengan baik.

Makanya saya pengen banget bisa membelikan kulkas untuk Bapak. Kalau ada kulkas di rumah Bapak kan saya dan adik-adik bisa memenuhi kulkas dengan bahan-bahan makanan yang dibutuhkan Bapak. Bahan-bahan makanan yang dibutuhkan Bapak pasti bisa lebih awet jika disimpan dengan baik di kulkas. Dengan begitu, kami anak-anaknya bisa tenang karena Bapak tak perlu repot-repot belanja bahan makanan setiap hari.

Hadiah ini hanya sebentuk kecil bakti kami kepada Bapak. Kulkas ini tentu belum sebanding dengan apa yang telah Bapak beri kepada kami anak-anaknya.

Sebagai anak, saya merasa belum berbakti. Saya belum bisa membahagiakan Bapak. Saya belum bisa membalas apa yang Bapak beri. Meski Bapak tak pernah sekalipun meminta balasan, saya ingin sekali bisa mewujudkan impian Bapak untuk berhaji. Semoga, kami anak-anaknya bisa mewujudkannya bersama-sama suatu hari.

Sehat terus ya, Pak. Kami masih ingin berbakti pada Bapak. Kami masih ingin membahagiakan Bapak.