Liburan Impian ke Gili Trawangan [part 2. habis]

Dear Friends,

Kita lanjut lagi cerita liburan impian bagian 2, ya. Tapi ceritanya habis di bagian 2 ini kok, nggak kayak sinetron tersanjung yang baru selesai setelah 7 tahun tayang. Haha.

5 November 2016

Sekitar pukul 5 pagi saya terbangun. Tapi, begitu melihat keluar jendela masih gelap saya kembali merebahkan badan dan terlelap lagi. Nggak sholat subuh? Jangan suudzon dulu ya, saya lagi dapat bonus waktu itu. Jam 6 ada morning call yang menandakan bahwa kami harus segera bersiap untuk melanjutkan petualangan liburan di Gili Trawangan. Hari kedua ini, kami memang dijadwalkan untuk mengeksplor Gili Meno dan Gili Trawangan. Mau mantai, bo.

Setelah mandi dan membereskan barang bawaan, kami sarapan bersama. Pukul 08.30, bus mulai melaju membawa kami ke Teluk Nare. Perjalanan ditempuh dalam waktu kurang lebih satu jam. Sepanjang perjalanan saya menikmati pemandangan laut yang berwarna hijau kebiruan. Tak bosan rasanya mata ini memandang.

Sampai di Teluk Nare rombongan dibagi menjadi dua kelompok karena slow boat yang akan membawa kami ke Gili Meno hanya bisa menampung 14 orang. Setelah sekitar 45 menit terombang ambing ombak di tengah lautan biru (((sok puitis))) akhirnya kami berlabuh juga di Gili Meno. Perut rasanya seperti diaduk-aduk. Untung aja saya nggak mabok laut. Haha.

Panasnya Gili Meno
Yang di seberang itu Gili Trawangan 
Langit hari itu nampak cerah, berwarna biru senada dengan warna laut Gili Meno. Rasanya tak sabar pengen segera nyemplung ke laut. Tapiii...ternyata kami harus bersabar, karena ternyata kami harus ikut syuting My Trip My Adventure terlebih dahulu. Nggak nyangka deh, ternyata liburan bersama Insto ini bekerjasama dengan Trans TV, khususnya untuk program My Trip My Adventure. Keren, kan. Yang lebih menyenangkan lagi adalah saya bisa foto-foto bareng host MTMA, Marshal Sastra dan Rikas Harsa. Yeaay.

Bersama Marshal Sastra, tinggi bangeeet
Bersama Rikas Harsa
Persiapan syuting MTMA
Saya yang itu tuuh..
Meski ini bukan kali pertama saya ikut syuting, tetapi syuting untuk MTMA ini merupakan pengalaman tak terlupakan bagi saya. Apalagi saat kami harus berkali-kali retake untuk satu adegan saja. Fiuuh...melelahkan, tapi asik.

Setelah selesai tapping, akhirnya kami menuju spot snorkling. Meski nggak begitu jauh dari pinggir pantai, kami harus tetap menggunakan slow boat menuju ke area snorkling. Setelah boat melempar sauh, satu persatu kami mengenakan pelampung dan peralatan untuk snorkling. Saya sempat ragu untuk turun karena belum pernah snorkling sebelumnya.

Beberapa teman sudah turun, di kedalaman sekitar 3 meter. Saya bisa melihat ikan-ikan yang berenang juga terumbu karang. Di seberang boat yang saya tumpangi, ada dua speed boat yang membawa kru MTMA dan host nya. Ternyata syuting berlanjut hingga ke laut. Makin seru deh ceritanya.

Tebak, saya yang mana?
Syuting di tengah laut
Melihat keseruan teman-teman lain yang sudah terlebih dulu turun, sayapun segera menyusul. Rupanya karena terlalu semangat turun, air laut pun masuk ke mulut saya. Mungkin karena belum terbiasa memakai peralatan tersebut, jadi dengan reflek saya melepaskan selang dari mulut saya. Jadi, di dalam tubuh saya ada air laut dari Gili Meno. Hihi.

Bersama teman-teman saya mencoba untuk melihat pemandangan di bawah laut tetapi  gagal. Penyebabnya adalah karena saya tak bisa berenang. LOL. Ya sudah, akhirnya saya hanya main-main air saja. Arus laut Gili Meno hari itu cukup bergelombang, jadi saya hanya bisa menikmati bagaimana rasanya tubuh saya diombang ambing ombak.

Saya ada di ujung sana itu, hehe
Tapi kenapa semakin lama tubuh saya semakin menjauh dari boat, ya.

Lalu saya.....PANIK. Haha. LOL

Karena panik, saya berteriak hingga akhirnya ada seseorang yang membawa saya kembali ke boat. ((harusnya bagian ini di skip, yak? ))

Akhirnya setelah cukup lama terapung, saya bisa kembali ke boat. Di dalam boat nampak beberapa teman yang tidak ikut turun menahan mual karena mabok laut. Yah wajar saja, karena boat yang kami tumpangi bergoyang cukup kencang.

Matahari semakin terik, kamipun mulai lelah.  Kami dijadwalkan untuk singgah di Gili Trawangan. Sekitar 20 menit dari spot snorkling, akhirnya boat yang kami tumpangi berlabuh ke Gili Trawangan. Setelah membersihkan badan, kami makan siang di Juku Restaurant dan beristirahat. Sementara yang lain ada yang melanjutkan syuting, ada pula yang berkeliling Gili Trawangan menggunakan Cidomo. Untuk berkeliling Gili Trawangan menggunakan Cidomo, cukup membayar 75 ribu rupiah saja per orang.

Saya bersama mbak Shinta akhirnya berjalan-jalan di sekitar ikon Gili Trawangan. Suasana Gili Trawangan cukup ramai dengan wisatawan. Di sana sini tampak wisatawan domestik maupun wisatawan asing yang berlalu-lalang. Ada yang berjalan kaki, ada pula yang mengendarai sepeda yang banyak di sewakan di sepanjang jalanan Gili Trawangan. Banyak juga yang sedang bermain air dan berjemur di pinggir pantai. Gili Trawangan memang menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan, khususnya wisatawan mancanegara. Tak heran, Gili Trawangan menjadi salah satu destinasi wisata favorit di Lombok.

Berpose di depan ikon Gili Trawangan

Bersantai di tepi pantai
Gili Trawangan in blue
Menjelang petang kami semua berkumpul dan harus segera menuju Teluk Nare. Perjalanan kami belum selesai. Masih ada beberapa destinasi lain yang harus kami datangi antara lain Sunset point di bukit Malimbu, pusat souvenir dan oleh-oleh serta makan malam di Ocean Blue Restaurant. Perjalanan yang ditempuh cukup lama, karena kami harus menyeberang terlebih dahulu ke Teluk Nare. Ombak yang sore itu cukup tinggi, menyebabkan kami basah karena cipratan ombak. Belum lagi, boat yang kami tumpangi juga berayun cukup kencang. Fiuuh, benar-benar sport jantung dibuatnya.

Begitu merapat di Teluk Nare, kami harus segera naik ke bus yang akan membawa kami ke Sunset Point di Bukit Malimbu. Hujan mengiringi perjalanan kami menuju Bukit Malimbu. Semoga segera reda ketika kami sampai di sana. Sayang dong, sudah sampai di sana tapi nggak bisa lihat sunset?

Sekitar 40 menit kami tiba juga di Sunset Point bukit Malimbu. Hujan sudah cukup reda dan hanya menyisakan rintiknya. Namun rupanya kami terlalu awal tiba di sana. Matahari masih bersinar dengan terang. Butuh sedikit waktu lagi untuk menyaksikan sang surya benar-benar kembali ke peraduannya. Rombongan kamipun berpencar, mengambil posisi sendiri-sendiri untuk mengambil foto. Berkali-kali saya mengucap syukur kepada Allah, karena atas izinNya saya bisa menginjakkan kaki di tempat seindah ini melalui Insto.

Melihat sunset di Bukit Malimbu
Pantai Senggigi di kejauhan
Kenangan Liburan Impian bersama Insto
Gerimis mulai turun lagi, kami harus segera meninggalkan Bukit Malimbu menuju destinasi berikutnya. Sebetulnya kami dijadwalkan untuk mampir ke Esany Gallery, hanya saja dalam perjalanan hujan kembali turun sangat deras, sehingga kami  rencana mampir di galeri harus batal. Akhirnya kami menuju Sasaku, sebuah toko souvenir dan oleh-oleh besar khas Lombok. Nah, kalau suatu hari kalian mampir ke tempat ini, siap-siap kalap deh. Kekepin dompet kalian kalau nggak mau isi dompet kalian terkuras. Haha.

Puas berbelanja di Sasaku, kamipun menuju Ocean Blue Restaurant untuk makan malam. Makan malam kali ini dengan menu ala Sea Food. Restaurant ini berada di pinggir pantai. Sayangnya karena gelap dan hujan, kami nggak bisa menikmati suasana romantis makan malam di pinggir laut, deh. Yang terdengar hanya suara debur ombak saja. Makan malam ini sekaligus menjadi malam "farewel" bagi kami, karena besok kami akan kembali ke kota masing-masing. 

Makan malam ini menjadi malam ramah tamah sekaligus pembagian hadiah bagi pemenang kuis dan lomba foto Insto. Sayang banget karena saya terlalu antusias dengan liburan ini jadi lupa upload foto-foto buat lomba. Jadi ya, saya nggak menang deh. Haha. 

The last dinner with Insto Buddy
Selesai makan malam, kami kembali ke hotel untuk beristirahat. Tubuh rasanya penat, menuntut untuk rehat. Setibanya di hotel saya langsung bergegas membersihkan diri dan packing barang-barang bawaan. Perasaan waktu berangkat cuma satu tas ransel, pulang-pulang jadi dua tas. Haha. Setelah packing beres, saya menyempatkan diri untuk bertemu sebentar dengan adik sepupu yang tinggal di Mataram. Yang penting rasa rindu pada adik saya ini terobati. Setelah itu saya kembali ke kamar, dan zzzz......tertidur pulas. 

6 November 2016

Pagi harinya, setelah bersiap dan membereskan barang bawaan, kami turun ke lobi untuk sarapan dan check out. Iya, hari ini perjalanan liburan impian kami harus berakhir. Sebenarnya belum puas menikmati liburan impian kami di Lombok, tapi apa boleh buat, liburan telah usai. Pukul 08.30 kami semua check out dan diantar menuju bandara. Kami juga mampir sejenak di pusat oleh-oleh makanan khas Lombok. Saya juga membeli beberapa untuk buah tangan keluarga di rumah. Sayang kan, sudah jauh-jauh ke Lombok tapi nggak bawa oleh-oleh. 

Berfoto sebelum berpisah
Di Lombok International Airport (LIA) inilah akhir kebersamaan kami. Beberapa teman dijadwalkan terbang terlebih dahulu sedangkan beberapa teman yang lain di flight berikutnya. Saya sendiri harus transit ke Cengkareng sebelum ke Semarang dan saya ditinggal sendiri. Huhuu. Tapi untunglah, saya hanya menunggu sekitar dua jam saja.

Pukul 13.40 WIT saya harus boarding. Saya pikir saya benar-benar sendiri, ternyata tidak. Allah memberi saya teman perjalanan yang tak pernah saya duga sebelumnya. Beliau adalah bu Dyah Pari Koening dan mbak Farah Fedia, sosok-sosok hebat dibalik Liburan Impian kami. Sepanjang perjalanan, kami bertiga mengobrol kesana kemari hingga tak terasa kami telah sampai di Jakarta dan harus berpisah.

Bu Dyah & mbak Farah, teman perjalanan yang asik
Di saat teman-teman lain sudah tiba di rumah dan bertemu dengan keluarganya, saya masih harus melanjutkan perjalanan menuju Semarang beberapa jam lagi. Pesawat yang akan saya tumpangi dijadwalkan terbang  pukul 17.50 WIB dan diperkirakan tiba di Semarang sekitar pukul 18.40 WIB. 

Sembari menunggu boarding, saya kembali merenung. Saya kembali mengucap syukur karena saya bisa mendapatkan kesempatan ini. Kalau bukan karena memenangkan lomba Insto Let's Go to Lombok ini, belum tentu saya bisa pergi berlibur ke Lombok. Saya jadi ingat resolusi tahun lalu, bahwa saya ingin bisa traveling karena tulisan saya dan Allah mengabulkannya. Terima kasih ya Allah. Terima kasih Insto telah memberi kesempatan pada saya untuk mewujudkan liburan impian. Semoga akan ada liburan impian-liburan impian berikutnya. 


10 Cara Mengatur Peralatan Dapur Dengan Ruang Kecil

Banyaknya peralatan masak yang dimiliki kadang membuat kita sebagai ratu rumah tangga bingung untuk menyimpannya. Apalagi kalau ternyata dapur yang kita miliki tidak lah besar. Pasti kita akan sulit menata semua peralatan masak yang kita punya. Tetapi tak perlu khawatir karena ada beberapa cara untuk menyimpan semua perlengkapan peralatan masak yang kita miliki didapur agar menjadi lebih tertata rapih.  


  • Buatkah gantungan di sisi dinding dapur, fungsinya adalah untuk menyimpan berbagai jenis panci yang kita punya. Disini juga kita bisa mengatur untuk menaruh panci yang sering dipakai agar mudah dicari. 
  • Jika mempunyai lemari di dapur, cobalah untuk memanfaatkan pintu lagi tersebut sebagai rak penyimpanan berbagai macam bumbu dapur disana. 
  • Kita juga bisa memanfaatkan area diatas tempat cuci piring, dengan memasang rak untuk menaruh piring serta gelas yang sudah dibersihkan. Selain berfungsi untuk menyimpan piring, gelas dan lainnya rak piring tersebut juga berfungsi untuk meniriskan air setelah dicuci. 
  • Atau  bisa juga memanfaatkan pintu kulkas. Dengan memasang magnet di bagian belakang tempat bumbu, kita bisa meletakan berbagai macam bumbu kering di bagian depan pintu kulkas. 
  • Untuk menyimpan resep atau menu makanan yang akan dibuat, moms bisa pintu laci tempat penyimpanan makanan atau peralatan dapur yang lain. Dengan begitu pada saat moms membutuhkannya, moms akan mudah menemukannya. 
  • Kita bisa menyulap wastafel dengan membuat laci benam, disitu kita bisa menaruh berbagai macam peralatan untuk mencuci piring seperti spons, sarung tangan, penyikat botol dan lainnya.
  • Untuk menyimpan talenan, nampan dan lainnya, kita bisa membuat sekat didalam cabinet yang ada didapur. Gunanya adalah untuk memudahkan kita dalam mengambil serta menata peralatan tersebut. 
  • Manfaatkan juga atap cabinet di dapur kita untuk menyimpan peralatan yang jarang dipakai. Seperti panci berukuran besa, panggangan dan lainnya. Karena biasanya peralatan tersebut hanya dipakai pada hari-hari tertentu saja. 
  • Kita juga bisa menumpuk beberapa peralatan masak, sehingga bisa menghemat ruangan penyimpanan. Sebagai contoh, kita bisa menumpukan beberapa piring dengan mangkuk atau wajan penggorengan dengan panci. 
  • Yang terakhir, manfaatkanlah sela-sela kecil didalam lemari makanan untuk menyimpan beberapa makanan kaleng seperti sarden atau kornet. Susunlah makanan kaleng tersebut diatas papan terbuka yang berbentuk vertikal, supaya  mudah untuk menjangkaunya.
Punya dapur kecil dirumah bukan berarti tidak bisa menyimpan banyak peralatan masak, kan. Selamat mencoba ya,  semoga tips di atas bermanfaat untuk para ibu rumah tangga seperti saya.


Warna-Warni Cerita Baik Bersama JNE

Saya termasuk salah satu perempuan yang suka belanja online, meskipun bukan penggila belanja online. Sesekali aja sih, kalau sedang butuh barang tapi malas keluar rumah. Lebih praktis belanja melalui situs market place  yang kini menjamur jumlahnya. Tinggal buka-buka situsnya, pilih barangnya, bayar lalu tinggal tunggu barangnya diantar di depan pintu. Enak banget, kan.

Yang paling deg-degan  kalau yang terima paketan barang belanjaan adalah suami. Sudah pasti, pertanyaannya adalah "belanja apa lagi?". Hehe. Tapi itu dulu, sih. Kalau sekarang, nanyanya "dapat endorse an apa lagi?".

Setelah menjadi blogger, alhamdulillah saya merasakan juga bagaimana rasanya di endorse. Brand yang bekerjasama dengan saya mengirimkan produknya untuk saya review di blog. Inilah awal mula saya makin akrab dengan jasa ekspedisi JNE. Sebenarnya saya mengenal JNE cukup lama, hanya saja setelah menjadi blogger makin intens saja acara kirim mengirim barang melalui JNE. 


Pertama kali mendapatkan kiriman paket melalui JNE Express, mas kurir sempat kesulitan ketika mencari alamat rumah saya. Pernah si mas kurir sampai bertanya ke RT sebelah hanya untuk mencari nama "Ika Puspitasari". Padahal dia sudah berkali-kali lewat depan rumah saya. Sebenarnya bukan karena alamat saya yang susah dicari sih,  tetapi karena nama saya yang kurang dikenal di sekitar rumah saya. Maklum saja, saya termasuk warga baru di sini. Para tetangga lebih mengenal nama panggilan daripada nama asli saya. Hehe. Lagian, harusnya si pengirim mencantumkan nomor hape saya, kan? Jadi, siapa yang salah?

Berdasar pengalaman itu, si mas kurir akhirnya menyimpan nomor saya. Yakin banget dia, kalau saya bakalan dapat kiriman paket terus. Ternyata benar sih prediksi mas kurir, saya sering dapat kiriman paket lagi setelah itu. Pernah suatu hari, saya sedang tidak berada di rumah dan kebetulan rumah juga sedang kosong. Mas kurir menelpon saya dan mengabarkan bahwa paket sudah diletakkan di dalam ban mobil bekas yang sengaja saya letakkan di teras rumah. Sempat khawatir kalau paket saya akan hilang atau rusak. Ternyata si mas kurir meletakkan paket di dalam tumpukan ban kemudian menutupnya dengan papan kayu, jadi aman deh. Wah, kreatif juga ya si mas kurirnya.

Pernah juga si mas kurir tiba-tiba mampir ke rumah tanpa menghubungi saya terlebih dulu. Sempat senang karena saya pikir saya mendapat kiriman paket lagi, eh ternyata hanya menanyakan alamat saja. Meski merasa di PHP tapi seneng sih, karena bisa membantunya menemukan alamat si penerima paket.  Sayang, si mas kurir sekarang diganti dengan mas kurir lainnya. Sedih deh, jadinya.

Pengalaman bersama JNE Express yang lain adalah ketika saya mengirimkan paket pada sahabat saya yang berada di Luwuk Banggai, Sulawesi Tengah. Di dalam paket itu saya mengirimkan mug yang rentan pecah. Meskipun saya bungkus sedemikian rupa, ada kekhwatiran kalau-kalau mug itu pecah dalam perjalanan. Tahu sendiri kan, jarak Semarang ke Luwuk harus memerlukan waktu hingga beberapa hari. Saat itu saya menggunakan paket regular dan hanya membayar 68 ribu rupiah sebagai ongkos kirimnya. Awalnya saya pikir, mahal banget ongkosnya ya. Setelah beberapa hari kemudian, saya mendapat kabar dari sahabat saya bahwa paket telah diterima dengan kondisi baik dan mug tidak pecah. Aah, leganya. Rasa sayang karena harus keluar ongkos kirim yang mahal tergantikan dengan rasa lega tak terhingga.

Sebagai tanda cinta JNE Express terhadap para pelanggannya, tanggal 26-27 November yang lalu JNE menyelenggarakan HARBOKIR loh. Kalian tahu HARBOKIR kan? Itu lho, Hari Bebas Ongkos Kirim.
HARBOKIR berlaku untuk layanan YES, REG dan OKE dengan maksimal pengiriman 2 kg. HARBOKIR ini berlaku untuk 55 kota besar di seluruh Indonesia dari Ambon hingga Medan. Nah, kalau pengiriman antar kota hanya berlaku di daerah Jabodetabek saja.  Sayangnya kemarin saya nggak memanfaatkan momen HARBOKIR ini. Nyesel, deh.

Ini cerita baik bersama JNE saya. Bagaimana cerita baik bersama JNE kalian?

Liburan Impian ke Gili Trawangan [part 1]

Dear Friends,

Rasanya seperti kejatuhan durian runtuh ketika tanggal 21 Oktober yang lalu tiba-tiba ada yang menghubungi saya dan mengabarkan bahwa saya menang liburan ke Gili Trawangan Lombok. Sempat terdiam sejenak karena tak percaya, benarkah saya menang? Benarkah ini bukan mimpi? Saya sampai tergagap-gagap menjawab pertanyaan-pertanyaan dari si mbak penelpon. Haha..lebay. 

Setelah selesai menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, saya malah bingung. Saya menang lomba yang mana, ya? Bener deh, ini kocak banget. LOL. Beberapa kali saya ikut lomba berhadiah traveling tapi hasilnya "zonk" melulu. Jadi ini lomba yang mana? Saya masih berusaha memutar kembali ingatan tentang lomba mana yang pernah saya ikuti hingga mbak Shintaries menulis status bahwa dirinya menang lomba berhadiah travelling ke Lombok yang diadakan oleh Insto. Dweng...baru "ngeh" deh saya menang lomba apa. 
Ini lho Lombanya
Ternyata saya adalah salah satu dari 25 pemenang liburan impian ke Lombok. Bayangkan, ada 13 ribu lebih peserta yang ikut serta dalam lomba ini, loh. How lucky I am. Padahal saya sendiri sudah lupa kalau pernah ikut lomba ini. Saya jadi penasaran sendiri, saya nulis apa sih kok bisa menang? *akibat seringnya "zonk" melulu. Saya aduk-aduk microsite Buka Insto Let's Go yang berisi ribuan tulisan peserta dan akhirnya menemukan tulisan saya. Fiuuh, finally.

Tulisan ini membawa saya ke Lombok, loh
Liburan impian saya sebenarnya adalah ke Luwuk Banggai, sebuah tempat di propinsi Sulawesi Tengah yang memang sejak lama ingin saya kunjungi. Meskipun gagal berlibur ke sana, tapi saya tetap seneng karena saya belum pernah pergi ke Lombok sebelumnya. Kapan lagi bisa liburan ke Lombok? Gratis lagi.

Kalau ditanya mengenai persiapan, bisa dibilang saya hanya melakukan persiapan fisik saja karena semuanya telah disediakan oleh pihak penyelenggara. Saya juga "sounding" jauh-jauh hari kepada anak-anak terutama si bungsu kalau  mereka akan saya tinggal selama beberapa hari. Pun dengan suami yang akhirnya mengambil cuti demi mengantikan tugas selama saya tidak ada.

Finally The "D" Day 

Tanggal 4 November 2016, saya dijadwalkan terbang dari Semarang menuju Jakarta dengan penerbangan pertama. Meeting point pertama adalah di Gate 3 Bandara Soekarno Hatta. Ini kali kedua pengalaman saya bepergian dengan moda transportasi udara. Deg-degan. Ya iyalah pasti, saya kan jarang-jarang traveling menggunakan pesawat terbang. Pukul 04.00 pagi, saya berangkat menuju bandara Ahmad Yani diantar suami. Awalnya sempat mikir kalau saya bakalan sendirian di bandara, eh ternyata di sana sudah banyak calon penumpang yang berdatangan. Pukul 05.30 saya dan penumpang lain boarding, bersiap terbang menuju Jakarta.

Penghilang nervous
Tak sampai satu jam, saya sudah tiba di bandara Soekarno Hatta. Sempat bingung juga mencari lokasi meeting point rombongan Insto Buddy. Maklum lah, saya baru sekali ke bandara ini. Setelah bertanya ke sana sini, akhirnya ketemu juga deh rombongan Insto Buddy dan berkenalan dengan peserta lain. Saya juga bertemu dengan Shintaries, sesama blogger yang memenangkan liburan impian ini.

Para pemenang berasal dari berbagai kota
Para pemenang liburan impian bersama Insto ini berasal dari berbagai kota. Ada yang dari Medan, Palembang, Singkawang, Surabaya, Bogor, Lampung, Bandung, Jakarta, Malang dan saya sendiri dari Semarang. Beberapa pemenang lain ada yang langsung berangkat menuju Lombok sedangkan sebagian lain berangkat bersama melalui bandara Soekarno Hatta termasuk saya.

Perjalanan menuju Lombok akan ditempuh dalam waktu 1 jam 40 menit. Fiuuh...artinya sehari ini  sudah dua kali saya naik pesawat. Haha. Alih-alih nervous, saya menyibukkan diri dengan mengambil foto dari balik jendela. Beruntung dalam perjalanan ini saya selalu mendapat tempat di pinggir jendela, jadi bisa leluasa memandang keluar jendela dan mengambil gambar. Sementara yang lain asik menonton film dan tidur.

Melihat laut dari ketinggian
Melintasi gunung
Sempat terjadi guncangan sesaat sebelum landing karena cuaca yang buruk. Sempat was-was juga sih, karena saya belum pernah mengalami hal semacam ini. Untunglah tidak berapa lama, pesawat dapat landing dengan mulus. Alhamdulillah, akhirnya kami semua tiba di Lombok dengan selamat. Kami semua disambut oleh travel yang akan mengantar kami selama berlibur di Lombok. Peserta lain yang sudah lebih dulu tiba juga bergabung.  

Lombok International Airport (LIA)
Udara yang cukup panas menyambut kedatangan kami di Lombok. Setelah selesai dengan urusan bagasi dan makan siang, kamipun bersiap untuk melanjutkan perjalanan menuju destinasi wisata yang telah ditentukan.

Desa Sade 

Destinasi wisata pertama kami adalah mengunjungi Desa Sade. Sade adalah salah satu dusun yang ada di Desa Rembitan, Pujut, Lombok Tengah. Desa yang masih memegang teguh adat tradisi suku Sasak ini berada di pinggir jalan yang menghubungkan Mataram dengan daerah Lombok Selatan. Kedatangan kami disambut oleh tetua adat yang kemudian menceritakan sejarah Desa Sade dan adat tradisi suku Sasak yang masih dijaga hingga kini. Setelah itu kami diajak berjalan mengelilingi perkampungan dan melihat  aktivitas warga Desa Sade lebih dekat. 

Rehat di Bale pertemuan warga Desa Sade
Melihat dari dekat aktivitas warga Desa Sade
Kain tenun asli suku Sasak
Masjid Desa Sade, berada di tengah perkampungan
Sayang, waktu kami terbatas karena harus segera menuju destinasi selanjutnya. Meski sebentar, saya cukup puas karena akhirnya bisa melihat secara langsung aktivitas suku asli Sasak di Desa Sade.

Pantai Tanjung Aan

Perjalanan kami berlanjut menuju Pantai Tanjung Aan. Menurut mbak Desak tour guide kami, di pantai Tanjung Aan kami akan disuguhi pemandangan yang belum pernah terbayangkan oleh kami sebelumnya. Lokasi pantai Tanjung Aan berada di Kuta, Pujut, Kabupaten Lombok Tengah. Masih ingat kan cerita tentang legenda putri Mandalika? Nah, di pantai Tanjung Aan inilah legenda putri Mandalika berasal. Tiap bulan Februari ada event besar yang rutin diadakan di pantai Tanjung Aan, yaitu Ritual Bau Nyale. Nyale sendiri adalah sebutan masyarakat setempat untuk jenis cacing laut yang muncul pada waktu tertentu di Pantai Tanjung Aan dan beberapa tempat lainnya di Indonesia seperti Sumbawa dan Maluku. Menurut masyarakat setempat, Nyale atau cacing hijau itu merupakan jelmaan dari putri Mandalika yang sengaja terjun ke laut. Nyale, oleh masyarakat Lombok dan sekitarnya ditangkap untuk dikonsumsi. Wah, jadi penasaran seperti apa rasanya Nyale itu. 

Benar kata mbak Desak, sampai di pantai Tanjung Aan kami dibuat takjup dengan pemandangan yang terhampar di depan mata. Pasir putih, air laut yang berwarna hijau kebiruan, karang-karang yang berdiri kokoh benar-benar membuat kami terpana.

Pantai Tanjung Aan
Karangnya mirip kura-kura
Beberapa teman menyeberang ke pulau dengan menaiki kapal untuk mengambil gambar. Kalau saya sudah cukup puas menikmati pemandangan di pinggir pantai sembari menikmati segarnya air kelapa muda bersama teman-teman lain.

Pantai Kuta Lombok

Sore mulai menjelang, waktunya kami untuk berpindah ke lokasi lain. Pantai Kuta lombok menjadi tujuan kami berikutnya. Hanya saja, karena terbatasnya waktu kami hanya bisa berhenti sejenak untuk sekedar berfoto di depan ikon pantai Kuta selama 5 menit. Tak apa lah, yang penting kami sudah mampir.

Berpose di depan pantai Kuta Lombok

Desa Sukarara

Desa Sukarara adalah tujuan kami berikutnya. Desa Sukarara adalah nama sebuah desa kecil yang merupakan salah satu pusat kerajinan tenun tradisional. Lokasinya berada di Kecamatan Jonggat, Kabupaten Lombok Tengah. Sebagian besar perempuan yang ada di Desa Sukarara ini bekerja sebagai penenun. Untuk menjaga dan melestarikan budaya dan tenun tradisional yang diwarisi oleh nenek moyang mereka maka para perempuan di Desa Sukarara ini diwajibkan untuk belajar menenun. Katanya perempuan yang belum bisa menenun, belum diperbolehkan menikah loh.

Alat tenun yang digunakan
Hasil tenunan para perempuan Desa Sukarara
Selain melihat hasil tenunan perempuan desa Sukarara, beberapa teman juga mencoba memakai pakaian adat suku Sasak. Beberapa yang lain membeli tenun dan oleh-oleh khas Lombok lainnya. Saking asyiknya, tak terasa malam mulai menjelang. Kami juga harus melanjutkan perjalanan. Desa Sukarara ini menjadi destinasi wisata terakhir di hari pertama liburan impian ini.

Ayam Taliwang Irama

Sebelum menuju hotel, kami makan malam terlebih dulu di Resto Ayam Taliwang Irama. Wah, sudah lama saya penasaran pada salah satu makanan khas Lombok ini. Beruntung malam itu kami semua dijamu dengan masakan khas Lombok seperti ayam taliwang, bebalung, sambal beberuk, plecing kangkung, sambal matah hingga urap. Hmm, bayangin deh mantapnya makan malam kami saat itu.

Ayam taliwang, urap dan bebalung
Alhamdulillah, puas dan kenyang. Hehe. Jadi nggak penasaran lagi deh, gimana rasanya ayam taliwang dan bebalung. Ayam taliwang rasanya seperti ayam bakar pada umumnya, hanya saja rasanya lebih pedas dan gurih. Ayam yang digunakan adalah ayam kampung yang masih berumur beberapa bulan jadi tekstur dagingnya cenderung empuk. Sedangkan bebalung adalah masakan khas Lombok berbahan tulang iga sapi yang dimasak mirip dengan sop, hanya saja sedikit asam. Dan saya suka. Haha.

Menginap di Fave Hotel Mataram

Malam beranjak larut, badanpun mulai penat menuntut untuk rehat. Tak hanya saya, teman-teman semua juga merasakan hal yang sama. Ingin segera membersihkan badan dan beristirahat. Sekitar pukul 21.00 kami check in. Saya dan mbak Shinta akhirnya bisa satu kamar setelah bertukar tempat dengan teman lain. Yeay, finally bisa rehat. Oh iya, malam itu saya dan mbak Shinta juga kopdar dengan blogger yang berdomisili di Lombok yaitu mbak Andy Hardiyanti. Seneng deh, akhirnya bisa kopdar juga setelah sekian lama hanya bertegur sapa di dunia maya. This is the beauty of blogging, kata om NHer. Hehe.

Mbak Shintaries, saya dan mbak Andy
Setelah puas mengobrol, mbak Andy pun berpamitan. Saya dan mbak Shinta langsung terlelap, besok kami harus bangun pagi dan siap untuk berpetualang di hari kedua liburan di Gili Trawangan. 

Tunggu cerita keseruan hari kedua liburan impian di Gili Trawangan, ya. 


Cara Merawat Perabot Keramik Supaya Awet

Dear Friends,

Ibu rumah tangga seperti saya sangat suka mengoleksi berbagai jenis perabotan rumah tangga, dari yang berbahan aluminium, plastik, kaca sampai dengan keramik. Setiap bahan memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, dan setiap bahan perabotan rumah tangga tersebut juga memiliki waktu masing-masing untuk digunakan. Misalnya perabotan plastik dan aluminium untuk sehari-hari, perabotan kaca dan keramik digunakan khusus untuk momen-momen spesial seperti idul fitri dan arisan keluarga.


Salah satu perabotan rumah tangga yang memberikan gengsi besar pada ibu rumah tangga adalah perabotan keramik. Sekalipun sekarang banyak sekali perabotan rumah tangga berbahan keramik yang dijual di pasaran, keramik berkualitas tinggi dan memiliki harga yang tinggi juga tetap merajai pasaran. Misalnya Sango, kecantikannya pasti bisa membuat hati setiap ibu rumah tangga dan gadis remaja langsung meleleh.

Nah, bagi teman-teman yang memiliki alat makan atau berbagai perabotan rumah tangga berbahan keramik (termasuk hiasan dinding, poci teh dan lain sebagainya), sebaiknya tahu seperti apa cara merawat perabot keramik supaya awet berikut ini :

  • Gunakan air hangat. Setelah digunakan, segera cuci perabotan keramik dengan menggunakan air hangat dan sabun cuci piring. Usap dengan lembut dan segera keringkan menggunakan lap yang lembut, letakkan di tempat piring dengan hati-hati, jangan dibiarkan menumpuk satu sama lain karena bisa menimbulkan goresan di permukaan keramik.
  • Jangan biarkan noda mengerak. Jangan menunda-nunda waktu untuk membersihkan perabotan, saat ada noda langsung bersihkan dan jangan sampai noda tersebut menjadi kering, mengerak. Semakin kering, semakin sulit dibersihkan dan hasilnya permukaan keramik tergores.
  • Gunakan pasta khusus untuk membersihkan dan memoles keramik. Ada pasta pembersih khusus yang dijual di pasaran, tetapi jika malas Googling untuk mencari produk apa yang dimaksud, boleh menggunakan pasta buatan sendiri yang terbuat dari soda kue. Caranya adalah dengan mencampurkan dua atau tiga sendok soda kue dengan sedikit air, diaduk sampai mengental dan gunakan untuk membersihkan keramik. Kalau soda kue tidak berhasil, bisa menggunakan campuran cuka dan garam, rendam perabotan keramik yang bernoda dalam campuran tersebut lalu gosok perlahan dengan spon.
Harga perabotan keramik memang bervariasi, dari mulai belasan ribu rupiah, ratusan ribu bahkan ada yang berharga jutaan rupiah. Apalagi jika perabotan tersebut merupakan perabotan klasik peninggalan masa silam, harganya pasti menyilaukan mata! Nah, kalau sudah dibuat pening dengan harga perabotan keramik klasik yang memang lumayan, sekarang tinggal cuci mata saat Harbolnas

Hari Belanja Nasional 2016 ini adalah momen yang bisa memanjakan semua penggila belanja, bagaimana tidak? Bisa belanja berbagai macam barang yang sudah diidamkan sejak lama, tetapi dengan harga yang lebih hemat karena diskon gila-gilaan? Jangan sampai dilewatkan kesempatan ini. Siapa tahu bisa dapatkan salah satu produk keramik impian di momen setahun sekali ini.


Tampil Penuh Gaya dan Modis dengan Model Baju Batik Modern

Dear Friends, 
Kalau ditanya tentang apa yang paling khas dari Indonesia tentang pakaiannya tentu yang terlintas dalam pikiran kita adalah “BATIK”. Ya, kain batik memang sangat khas dan identik dengan Indonesia. Sejarah batik erat kaitannya dengan perkembangan Kerajaan Majapahit serta penyebaran ajaran Islam yang ada di Pulau Jawa. Sejarah panjang mencatatkan bahwa batik merupakan hasil kreasi leluhur kita yang patut kita jaga kelestariannya. Namun apalagi melestarikan, terkadang dalam pikiran kita adalah batik sangat identik dengan orang tua, kuno dan motifnya itu-itu saja. Padahal hal ini keliru besar. Kita sebagai kawula muda tetap bisa tampil modis dan keren dengan model baju batik modern.


Mungkin kita banyak yang tidak mengetahui bahwa motif batik itu sangat beragam dan terus mengalami perkembangan. Batik tidak hanya bisa diaplikasikan pada selembar kain panjang yang hasilnya disebut jarik yang biasa digunakan orang-orang jaman dahulu sebagai pakaian kebesaran maupun sehari-hari. Batik bisa diaplikasikan pada baju model terbaru, tas, topi, dan lain-lain. Seiring dengan kreativitas anak bangsa, kini sudah banyak sekali model baju batik yang terbaru dan modern. Bahkan dengan model baju batik yang modern bukan hanya menambah rasa percaya diri dalam memakainya namun juga bisa dipakai pada acara-acara santai, tidak terbatas pada acara resmi saja.

Siapa sangka bahwa ada sekitar 12 kota penghasil batik yang tersebar di seluruh Indonesia. Ragam batik dari masing-masing kota berbeda antara satu dengan lainnya. Masing-masing daerah penghasil batik memiliki ciri khas dan motifnya masing-masing. Selama ini kita hanya tahu batik berasal dari Pekalongan, Yogya dan Solo saja, padahal masih banyak daerah penghasil batik lainnya seperti Madura, Jawa Timur, Cirebon, Bali, Kalimantan, Lasem (Rembang), Jambi, Banten, Betawi hingga Papua. Semua batik-batik ini bisa diaplikasikan dan dijadikan model baju batik modern.

Bagaimana padu padan baju batik modern yang tepat? Berikut ini ada 3 tips padupadan:

  1. Flare skirt atau mini skirt batik.
Rok. Memakai rok terutama yang pendek atau selutut membuat wanita terlihat lebih manis dan seksi. Siapa yang dapat menolak pesona seorang wanita yang memakai flare skirt atau mini skirt batik? Rok jenis ini bukan hanya menampilkan kaki wanita yang jenjang tapi juga akan terlihat sangat manis dipadu padankan dengan kaos ketat atau tank top polos sehingga rok ini sangat cocok untuk dipakai saat pergi hangout bersama teman-teman atau ke kampus.

  1. Bolero batik.
Bolero atau jaket tanpa resleting dengan panjang ¾ lengan ini kini sedang populer di kalangan para wanita. Terutama bagi wanita pekerja kantoran. Bolero ini bisa dipakai untuk pergi bekerja atau acara-acara formal. Padu padankan bolero ini dengan dress polos, rok span, atau bahkan celana jins dan tank top berwarna gelap.

  1. Blazer batik.
Bagi Anda para hijabers juga jangan mau kalah untuk tetap tampil gaya dan modis dengan batik. Biasanya wanita yang memakai hijab hanya terpaku pada pemakaian blues atau dress batik panjang saja, padahal model baju batik modern ini adalah sebuah blazer batik yang cocok dipakai bersama maxi dress panjang polos. Untuk hijabnya, Anda bisa menggunakan pashmina yang polos yang warnanya sesuai dengan warna dominan batik. Dijamin, Anda akan terlihat semakin modis dan lebih nyaman karena blazer ini bahannya tidak kaku seperti bahan blues atau dress batik pada umumnya.