Dear Friends,

Saya ciumi berkali-kali pipi kecil itu dengan perlahan, karena takut dia terbangun. Saya raba keningnya yang masih hangat dan saya pandangi wajah mungilnya. Rasanya saya masih ingin memeluknya lebih lama dan menemaninya tidur hingga dia terbangun. Dengan suara lirih, suami mengingatkan kalau taksi online yang saya pesan sudah menunggu di depan rumah. Pagi itu saya harus segera berangkat menuju bandara karena saya berangkat ke Jakarta dengan pesawat paling pagi dari Semarang. Saya berangkat dengan hati berkecamuk diantara dua pilihan, menemani si kecil yang sedang demam atau menunaikan pekerjaan yang sudah lama terjadwal. Beruntung saya memiliki partner hidup a.k.a suami yang sangat pengertian dan selalu siaga menggantikan tugas saya sebagai Ibu.

Hati Ibu mana yang tidak teriris manakala melihat buah hatinya yang biasanya lincah dan ceria tiba-tiba tergolek tak berdaya karena demam. Apalagi Rara yang biasanya mandiri, tiba-tiba jadi manja dan maunya nempel pada Bundanya saja. Rasa bersalah makin menjadi, ketika membayangkan bagaimana reaksi Rara ketika bangun nanti tak menemukan saya disampingnya. Tapi apa boleh buat, saya harus tetap berangkat untuk menunaikan kewajiban saya kepada pihak klien yang sudah memberi pekerjaan. Apapun kondisinya, saya harus bertanggung jawab untuk menyelesaikannya.



Tahun ini memang lebih banyak pekerjaan yang mengharuskan saya pergi ke luar kota dan meninggalkan keluarga hingga berhari-hari lamanya. Meski begitu, tugas dan tanggung jawab saya sebagai Ibu tetap saya tunaikan. Sebelum berangkat, saya  menyiapkan semua kebutuhan anak-anak dan suami mulai dari menyetok makanan, menyiapkan pakaian (seragam sekolah) hingga obat-obatan kalau tiba-tiba anak sakit. Yah, inilah wujud cinta dan perhatian dari seorang Ibu. Meski sedang tidak bersama, tetapi ingin selalu merasa ada untuk anak-anaknya melalui apa yang disiapkannya.

Meski sedang berada jauh dari anak-anak, saya tetap berusaha memantau kondisi anak-anak melalui suami. Kami saling berkabar hampir setiap ada waktu. Biasanya sih, bertanya kabar seputar aktivitas anak-anak. Saya memang bukan sosok Ibu yang sempurna buat anak-anak tetapi saya selalu berusaha melakukan yang terbaik untuk mereka. Saya ingin menjadi orang pertama yang ada di hati anak-anak.

Sepanjang perjalanan saya berusaha untuk tenang. Saya terus berpikiran positif kalau Rara, putri kecil saya akan segera turun demamnya. Lagipula ada suami saya juga yang menungguinya di rumah dan ada Tempra Syrup yang selalu tersedia untuk mengatasi demamnya.

"Yah, nanti kalau masih demam, coba kasih Tempra lagi, ya. Jangan lupa, kompres ketiaknya juga biar panasnya turun. Kalau nggak ada perubahan, bawa ke Dokter aja," pesan saya pada suami.

Selalu ada buat berjaga-jaga

Tahun ini usia Rara 5 tahun, jadi saya berikan Tempra Syrup tiap kali demam. Tempra Syrup mengandung paracetamol yang bekerja sebagai antipiretika pada pusat pengaturan suhu di otak dan analgetika dengan meningkatkan ambang rasa sakit. Selain bisa meredakan demam, Tempra Syrup juga meredakan rasa sakit dan nyeri ringan, sakit kepala dan sakit gigi, demam setelah imunisasi. Tentu saja dengan petunjuk Dokter, ya.

Tempra Syrup ini aman di lambung, dosisnya tepat sehingga tidak menimbulkan over dosis ataupun kurang dosis.  Tidak seperti obat penurun demam lainnya, Tempra Syrup tidak perlu dikocok karena larut 100%. Makanya saya selalu sedia Tempra di rumah sebagai pertolongan pertama saat anak-anak demam. Tempra selalu menemani keluarga saya, sejak anak pertama saya hingga anak ketiga. 

Tak bisa selalu menemani bukan berarti tak mengasihi. Tak bisa selalu bersama bukan berarti tak cinta. Saya hanya ingin anak-akan tahu bahwa kasih sayang seorang Ibu tak akan pernah tergantikan meski kebersamaan terhapus oleh waktu.


Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh Blogger Perempuan Network dan Tempra