dokpri. bidadariku Dikara Khaleed Tsaqib. Bunda setiap hari merindumu dek

Dear friends,

Akhirnya dengan susah payah bisa selesai juga tulisan tentang adek Khaleed. Meski nulisnya dengan deraian air mata karena selalu teringat adek. Tulisan ini sebagai bentuk kerinduan saya pada dek Khaleed yang berpulang 1 Maret 2024 lalu. Rindu yang teramat dalam namun sudah tidak bisa bertemu. Setelah dek Khaleed nggak ada, hari demi hari saya lalui sambil menanti kapan akan bertemu lagi dengan dek Khaleed. Tulisan ini juga untuk mengenang 100 hari berpulangnya dek Khaleed ke rahmatullah, tanggal 7 Juni lalu. 

Ini adalah imajinasi saya tentang dek Khaleed sebelum lahir ke dunia dan setelah berpulang....

InsyaAllah, kita akan segera bertemu lagi ya dek. 😭😭

                                            koleksi pribadi. kumpulan video dek khaleed


Suara bocah-bocah kecil terdengar riuh dan saling berkejaran. Terlihat ratusan bocah sedang menikmati keindahan pepohonan di tengah padang rumput bebungaan yang luas tak terbatas. Beberapa di antara mereka bermain di bawah pohon rindang. Beberapa lainnya terbang dengan sayap kecilnya. 

Seorang bocah kecil sedang berenang di sungai susu yang mengalir tenang di antara bebukitan. Dia berenang, meliuk-liukan badannya, menyemburkan air yang setengahnya telah ia minum. Bocah kecil tadi bersama dengan beberapa temannya sangat menikmati hari-hari mereka di tepian sungai susu. Mereka lebih menyukai hal itu dibanding bermain atau memanjat pohon. 

Seorang malaikat berwajah tampan dengan sayap putih bersih membentang datang menghampiri bocah itu. 

"Hai nak, kemarilah!" Malaikat setengah berdiri datang menyambut si bocah. 

"Apakah kau memanggilku?" tanya si bocah. Bocah itu menoleh ke kanan kiri, memastikan bahwa memang benar ia yang dipanggil Sang Malaikat. 

"Iya. Kamu! Sudah saatnya kamu untuk terjun ke dunia. Ikuti aku dan berbarislah di sana untuk mengambil daun kehidupanmu." Malaikat menggengam tangan si bocah yang masih sedikit ragu-ragu. 

"Kenapa giliranku begitu cepat, Wahai Malaikat? Aku masih ingin bermain di sungai bersama teman-temanku. Bolehkah aku bermain sebentar lagi?" Bocah itu menarik tangan sang Malaikat sembari berusaha bernegosiasi. 

Malaikat hanya menatap wajah bocah tampan itu sambil menggelengkan kepalanya,  lalu menggendong si bocah agar masuk dalam antrian. 

Tampak di  bawah sebuah pohon yang sangat besar, daun-daun yang memiliki nama itu jatuh perlahan lalu terbang menuju ke tangan masing-masing bocah yang sudah berbaris rapi. Selembar daun tadi secara ajaib berubah ukuran setelah dipegang oleh sang pemilik nama. 

Malaikat menurunkan bocah tadi dan memposisikan di urutan paling belakang dalam barisan. Setelah itu, selembar daun yang dari tadi melayang-layang di atas kepalanya, telah tergenggam di tangan. 

"Duhai Malaikat, mengapa lembar daunku tidak setebal daun milik teman-temanku yang lain?" Bocah itu mengibas-ngibaskan daun di tangannya sambil membandingkan ketebalan daun miliknya. 

"Katamu tadi, kamu masih ingin bermain bersama teman-temanmu, jadi Tuhan memberimu beberapa lembar saja."

"Ahhhhh... Tapi aku mau lebih tebal, Malaikat,. Aku mau yang seperti punya mereka!" Bocah itu menunjuk daun milik teman-temannya. 

Sejenak malaikat terdiam, seperti mendapat perintah, lalu Sang Malaikat tadi menyentuh daun si bocah, seketika daun tadi mengganda menjadi tiga lembar. 

"Namaku, Dikara Khaleed Tsaqib?" 

Bocah tampan itu membaca bagian atas daun. 

"Ini siapa? Ini? Ini? Apakah ini keluargaku?" Bocah itu membalik lembar kedua daun. 

Malaikat mengangguk pelan, lalu berkata, "Ya, wanita itu, ibumu. Kulitmu itu, Allah turunkan dari miliknya. Ini kakak perempuan tertuamu, dan yang tersenyum itu kakak perempuanmu, sedangkan yang di sana itu kakak laki-lakimu." Malaikat menjelaskan dengan pelan pada bocah menggemaskan yang sedang menyimak layar bergerak di lembar daun miliknya. 

"Apakah ini ayahku?" Bocah tampan itu menunjuk ke arah layar, tampak seorang lelaki berbaju koko dengan sarung hijau sedang duduk sambil membaca kitab di sebuah teras sebuah rumah. 

"Ya itu ayahmu. Ia yang akan menimang sembari memandikanmu dan mengantarkanmu kembali ke sungai susu tempatmu biasa bermain."

"Sepertinya seru. Aku mau lembar cerita lebih banyak lagi. Boleh aku minta lembaran berikutnya? Aku mau daunku setebal mereka!" Bocah itu merengek menarik jubah putih Sang Malaikat tadi. 

Malaikat kembali memejamkan mata sejenak. Lalu menyentuh lagi daun dalam genggaman si bocah, seketika daun menjadi tiga lembar. 

"Wooow..., " seru si bocah takjub. 

"Ini rumahmu. Kamu akan singgah sejenak merasakan kehangatan keluargamu. Mereka ini bibimu. mereka yang akan membantu ibumu menyiapkan hidangan untuk menyambut kedatanganmu."

"Bisakah aku...." Bocah itu menyela penjelasan malaikat. Ada sepotong daun lagi yang tak sempat ia buka. Dia hanya melihat sekilas. 

"Aku rasa cukup sampai di situ. Meski waktumu cuma sebentar, tapi tugasmu cukup besar." Sang Malaikat menuntaskan penjelasannya. 

"Tapi, sepertinya aku akan merindukan air susu di sungai itu. Apa aku akan mendapatkannya di dunia?"

"Tenang saja, Hai bocah. Kamu akan merasakan sensasi yang sama di detik kelahiranmu di dunia." Malaikat melepaskan genggaman tangan si bocah dan mengantarkannya menuju sebuah pintu yang sudah terbuka lebar di tengah pohon besar tadi. 

"Sampai jumpa...!" 

Rabu, 27 Februari 2024, di dalam ruang operasi di sebuah klinik ibu dan anak, pukul 19.45 WIB.

"Alhamdulillah, selamat ya bu. Adek bayi sudah lahir, laki-laki, beratnya 2.3 kg, panjangnya 45 cm."

**

Seorang perempuan muda berlari menuju UGD sebuah rumah sakit bersalin sambil menggendong seorang bayi yang sudah tampak membiru.  Namun ia tak menemukan seorang pun di sana. Dengan panik, dia memasuki setiap ruangan untuk mencari pertolongan. Beberapa saat kemudian ia keluar bersama seorang perawat yang kemudian memeriksa si bayi sambil memarahi perempuan muda yang membawa bayi tadi. 

“Udah tahu bawa bayi, kok nggak dipakein baju yang rapet to mbaak..” kata si perawat. 

“Maaf ya mbak, tadi di rumah kami panik, jadi kami nggak sempat ganttin baju. Tapi kan adek saya pakein selimut tebal mbak,” perempuan muda yang ternyata adalah kakak si bayi menjawab. 

“Ini dokter jaganya belum datang, jadi tunggu dulu sampai dokternya datang ya,”

“Tolong dulu adek saya mbak, adek saya dalam keadaan darurat ini, butuh pertolongan pertama.”

“Maaf, silahkan bawa adik anda ke rumah sakit lain saja. Saya khawatir adik anda tidak tertolong,”ujar perawat itu kepada kakak si bayi. Tanpa banyak bicara, perempuan muda yang ternyata kakak si bayi menggendong bayi kecil itu dan segera berlari menghampiri ayahnya. 

“Ayo kita ke rumah sakit lain yah, yang terdekat dari sini,”ujarnya dengan nafas memburu.

*****

Jum'at, 1 Maret 2024. Innalilahi wa innailaihi roji'un....

Jumat pagi, tanggal 1 Maret 2024 di tengah suasana mendung mengiringi tangisan pilu seorang ibu di sebuah rumah. 

"Hai bocah tampan, sudah waktunya kau pulang." Seorang malaikat datang menghampiri jiwa bocah tampan yang masih terbang berputar-putar bermain ke sana kemari di antara ibu dan kakaknya. 

"Benarkah? Secepat itukah, Duhai Malaikat? Rasanya aku baru mengejapkan mata sebentar saja."

"Tugasmu sudah selesai. Mari kuantar kembali kamu pulang ke tepian sungai tempatmu bermain tadi." Malaikat itu tersenyum sembari mengulurkan tangan. 

"Aku tidak mau terbang dengan sayap kecilku ini. Bisa kau gendong aku ?" Jiwa bocah kecil itu berceloteh sembari berputar mengelilingi Sang Malaikat yang wajahnya berbeda dengan malaikat sebelumnya. 

"Tuhanmu sudah menyiapkan jalan pulang untukmu, ikuti cahaya itu. Nanti kau akan sampai di tepian sungai tempatmu biasa bermain."

dokpri. rumah baru dek Khaleed

Sebelum keluar dari rumah itu, bocah itu terbang rendah mengelilingi sudut-sudut rumah, menebarkan wewangian nan harum menenangkan. Setidaknya ia sudah memberi jejak indah untuk ibunya. Lalu, jiwanya perlahan terbang menuju langit tertinggi. Dari kejauhan bocah itu melihat ibunya sedang menangis dan berpelukan dengan beberapa wanita paruh baya yang datang ke rumahnya. 

cintaku...bidadariku


*****

Jiwa bocah tadi terus melangit, lalu sampai lagi ke tempat asalnya di surga. Malaikat yang mengantarnya di pohon waktu itu, kini datang menyambutnya kepulangannya. 

"Hai bidadari kecil, apa kabarmu?" Malaikat itu berjongkok menyetarakan posisinya dengan jiwa bocah tadi. 

"Namaku Dikara Khaleed Tsaqib, bukan bidadari!" ujarnya setengah protes. 

" Ya, memang benar itu namamu tetapi gelarmu sekarang adalah bidadari. Kamu kelak menjadi penuntun orang tuamu ke surga nanti." 

"Hore... Asyik..." teriak bidadari kecil itu kesenangan. Tawanya seketika terhenti setelah dari kejauhan ada dua pasang laki-laki dan perempuan yang tersenyum mendekat ke arahnya tapi tetap diam tak berkata apapun. Selain mereka ada juga dua lelaki lain yang berjalan mendekatinya. 

"Duhai Malaikat, siapakah mereka?" Bidadari kecil itu mendekati lelaki tampan tersebut. 

"Mereka ini kakek nenekmu, Bidadari kecil. Mereka adalah  ayah ibu dari orang tuamu yang sudah menunggumu sejak lama. Dua lelaki itu adalah paman dari ibumu. Bermainlah bersamanya. Ajaklah mereka bermain di tepian sungai itu."

Keenam orang itu kemudian berlalu mengajak bidadari kecil ke tepian sungai susu. Namun, baru beberapa saat, Sang Malaikat kembali memanggil bidadari itu. 

"Hai bidadari kecil, bawa dua kambing jantan ini untuk kendaraanmu bermain. Ayah dan ibumu baru saja mengirimkannya." Rona mukanya menyiratkan kegembiraan. 

"Terima kasih, Ayah bunda." Dielusnya dua kepala kambing dengan kedua tangannya. 

Malaikat hendak berlalu, meninggalkan bidadari kecil bersama kakek nenek dan dua kambingnya, tapi ujung jubahnya kembali ditarik oleh si bidadari imut menggemaskan tadi. 

"Ada apa lagi, Hai bidadari kecil?"

"Duhai Malaikat, bolehkah kau sampaikan permintaanku pada Tuhan?"

"Sebutkan saja!"

"Bolehkah aku kembali lagi ke dunia, menjadi anak dari ayah dan ibuku, hidup lebih lama dengan mereka dan menjadi pelindung mereka di hari tua mereka. Aku melihat ibuku sangat sedih karena berpisah denganku" Mata bidadari kecil itu berbinar, menanti jawaban dari Sang Malaikat. 

Malaikat diam sejenak, lalu berkata sambil berlalu, "Kau tunggu saja di sini, Tuhan sedang mempertimbangkan hal itu. "

dokpri. ayah, bunda dan kakak-kakaknya dek Khaleed


Hingga saat ini, saya berharap ini hanya mimpi. Namun, ternyata ini nyata. Jangan ditanya bagaimana perasaan saya, yang pasti hati saya hancur berkeping menerima kenyataan bahwa putra bungsu saya, yang sangat saya nanti kehadirannya harus berpulang di usia 3 hari. 3 hari saja Allah memberi kami kesempatan untuk memeluknya, namun bagi kami 3 hari itu sangat berharga. Meski saya belum puas memeluknya, menciumi pipinya tetapi saya ikhlas. Kini, saya memiliki bidadari yang akan menjemput saya di akhirat nanti. 

lebaran kemarin akhirnya bisa foto, dg fotonya dek Khaleed


Allah sudah menetapkan takdir terbaik bagi kami. 
Alhamdulillah.. terima kasih ya Allah