Tuesday, 30 June 2015

Mobil Impian untuk Keluargaku

23:34:00 23 Comments
       "Yah, mbok Ayah beli mobil. Biar kita bisa pergi bareng-bareng, nggak pergi sendiri-sendiri" kata kak Fina anak pertama saya.
        "Iya Yah, masak kalau pergi kita pisah-pisah. Nggak enak" mas Aufa, adiknya menimpali.
        "Iya...iya, doakan Ayah ada rezeki buat beli mobil" jawab si Ayah.

Impian kami setelah memiliki rumah sendiri memang memiliki mobil. Apalagi keluarga dengan tiga anak-anak yang sudah beranjak besar seperti keluarga kami. Mau tidak mau saya dan suami harus serius merencanakan untuk membeli mobil. Kalau belum mampu membeli mobil baru, mobil bekas juga tak apalah. Yang penting bisa mengangkut kami berlima.
Selama ini, kami sekeluarga memang selalu bepergian secara terpisah dengan dua sepeda motor. Saya dengan motor matic sedangkan suami dengan motor bebeknya. Seperti Lebaran tahun lalu, kami sekeluarga harus mudik dengan sepeda motor dari Semarang ke Purworejo. Kerepotan semakin bertambah ketika sepeda motor juga harus membawa barang-barang seperti tas pakaian dan keperluan selama di perjalanan. Belum lagi, cuaca  yang tak menentu. Di kota A panas, eh ketika sampai di kota B ternyata hujan. Lagi-lagi kami harus berhenti karena harus berteduh. Kalau nekat menerobos hujan, barang-barang bawaan kami tentu akan rusak karena kehujanan. Kebayang kan, betapa repotnya kami waktu itu.

Mobil impian
Pernah juga kepikiran untuk sewa mobil supaya kami bisa berangkat bersama-sama, tapi tahu sendiri kan berapa harga sewa mobil saat hari raya. Harganya melonjak tinggi. Harga sewa sehari saja sudah mencapai 500 ribu. Nah, kalau tiga hari? Bisa tekor dong, anggaran lebaran saya.
Bicara soal mobil, sebenarnya saya dan suami sudah sejak lama ingin membeli mobil, tetapi apa daya harga mobil yang cukup tinggi belum terjangkau oleh keuangan keluarga kami. Mau tak mau, kami harus menunda keinginan kami untuk memiliki mobil. Meski begitu, saya dan suami selalu update jenis-jenis mobil dan type mobil keluaran terbaru. Barangkali ada mobil murah yang cocok dengan selera dan kantong kami. Saya sendiri suka dengan mobil dengan jenis minibus. Selain besar pastinya juga nyaman karena kami tidak akan berdesak-desakan didalamnya. Sebagian keluarga besar saya juga memiliki mobil berjenis minibus seperti mobil impian kami ini. Merk mobil ini memang terkenal, bahkan harga jualnya juga cukup tinggi.
Disamping itu, mobil kami harus memiliki mesin yang tangguh karena medan menuju kampung halaman saya yang lumayan berliku. Mobil impian keluarga kami termasuk mobil sejuta umat, karena begitu banyak keluarga yang memilikinya. Karena banyak yang punya tentunya suku cadang mobil serta bengkelnya ada dimana-mana. Dan yang pasti harus irit bahan bakar, dong.
Lalu dimana bisa nyari mobil bekas dengan spesifikasi diatas namun tetap ramah di kantong? Cari di showroom adanya mobil baru, lah.
Kemudian saya mencoba browsing dan ketemu dengan RajaMobil.com. Mau cari informasi tentang mobil dengan berbagai merk dan type yang kita inginkan? Bisa. Cari informasi harga mobil? Ada. Daftar showroom, outlet, bahkan spesifikasi mobil serta komparasinya juga ada.


Fitur pencarian di RajaMobil.com cukup mudah, apalagi bagi emak gaptek macam saya. Klik saja laman di menu, banyak jenis dan type mobil baik baru maupun bekas yang bisa kita temukan.

Saya dan suami sudah menemukan mobil impian untuk keluarga kami, yaitu Toyota Avanza. Semoga impian keluarga kami untuk memilikinya bisa segera terwujud. Jadi, kami bisa mudik bersama-sama. Yeeayy....nggak sabar pengen mudik dengan mobil impian.
Fitur pencarian RajaMobil.com








Friday, 19 June 2015

Doa Bapak

12:57:00 23 Comments

Beberapa waktu lalu hape jadul saya error, benar-benar nggak mau nyala *mungkin dia lelah. Dan payahnya, itu hape saya satu-satunya. Bingung, kan jadinya. Mau telpon nggak bisa, sms, WA, BBM apalagi. Berbagai cara dicoba untuk menghidupkan kembali hape warisan bulik saya itu, tapi apa daya si merah memang sudah lelah. Akhirnya saya benar-benar puasa dari hape. Nggak telpon-telponan, nggak whatsapan, nggak sms an. Tersiksa? Huhuuu...jangan ditanya. 

Mau beli hape baru? Belum ada budget buat belinya. Padahal banyak iklan-iklan hape berseliweran yang bikin semakin mupeng liatnya. Minta dibeliin hape sama suami, eh beliau nya cuma bilang..."iya nanti dibelikan, tapi nabung dulu". Haaak...rasanya seperti mustahil bisa beli hape baru. Okelah kalo begitu. Akhirnya saya nemu hape yang lebih jadul lagi dari hape saya sebelumnya. Itupun hape adik saya yang dihibahkan pada saya beberapa tahun lalu. Ini kok hapenya dapet dari warisan mulu, ya. Yaah, mungkin sudah nasib saya...dapetnya warisan mulu. 
Tapi hape ini, sangat nolong banget loh...disaat-saat begini. Meski cuma bisa buat telpon sama sms doang. Alhamdulillah.

Bapak dan mantunya

Nah, seminggu yang lalu Bapak menelpon saya. Beliau memang sering menelpon anak-anaknya yang tinggal berjauhan. Kadang saya yang menelpon dulu, tapi lebih sering Bapak yang menelpon, sih. *anak macam apah diriku ini. Seperti biasa, beliau selalu menanyakan kabar cucu-cucunya dan ngobrolin apa aja, macem-macem pokoknya. Seperti biasanya pula, saya dan Bapak mengobrol hingga berjam-jam (sampai kuping panass..).
Tak lupa saya minta doa agar rezeki lancar, bisa buat beli hape. Hehe...*modus
Bapak pun mengiyakan dan berkata..."Yo, mugo-mugo rezekimu lancar, iso nggo nyukupi kebutuhan" (bagi yang roaming, ada terjemahannya di bawah ini, yak...:p)
Dan telpon pun ditutup.

Sekitar jam 3 sore, masuklah sms. Nomor asing. Begitu di buka ada pesan begini 
"Mba, gado-gado nenek kucing apakah karya orisinal dan belum pernah dimuat di media lain/ elektronik? Ratna-femina "
Aaaaakk. Rasanya pengen teriak-teriak kalo nggak malu sama kucing, deh. Gimana nggak excited, baru aja minta di doain sama Bapak, udah langsung ada jawaban dari Allah. Seneeeng.
Langsung aja deh, saya balas sms nya kalo artikel itu benar-benar karya saya sendiri dan belum pernah diterbitkan di media manapun. Okesip.
Beberapa hari kemudian, ada sms masuk lagi. 
"Mba, mohon cek email dan menandatangani surat tersebut" . Finally, detik-detik yang mendebarkan tiba. *Lebay mode on (baru pertama kali artikel ku dimuat di majalah itu, Maak)
Buka email, download surat pernyataan persetujuan, isi form, tempel materai, tandatangani, kirim lagi. Fyyuuhh...akhirnya terkirim lagi. Kilat judulnya.
Sekarang tinggal nunggu dikiiit lagi, untuk melihat artikel gado-gadoku benar-benar terpampang nyata di majalah Femina itu. 
Adakah yang penasaran sama tulisanku itu? Tunggu cerita selanjutnya, ya. 
Terima kasih atas doamu, Bapak. Love you full....



Monday, 8 June 2015

Dari Hati ke Hati

20:13:00 35 Comments
Jenderal Aufa ku

"Bun, nilai ulanganku ada yang jelek", ujar mas Aufa, anak kedua saya sambil menyerahkan hasil ulangannya pada saya. 
Saya menerima kertas ulangan si mas dengan raut muka yang kecewa. (Aduuh, maapin bundamu ini ya, mas). Spontan saya buka dan melihat ada beberapa nilai yang memang kurang dan pas-pasan. Diantaranya Matematika, IPS, Bahasa Jawa dan Bahasa Inggris (padahal emaknye guru privat Bhs. Inggris). Emaknya gagal ngajarin Bahasa Inggris ke anaknya. Hiks...syediiih pemirsah.
Sebenarnya di dalam hati, pengennya langsung bilang "makanya to mas kamu itu harus..", "tuuh, kan bener kata bunda",  "kamu nggak nurut siih sama bunda","main terus sih"..bla..bla..bla... Tapi tadi saya berhasil mengalahkan setan dalam diri saya (biasanya sih, mulut ini nggak berhenti ngomel). Saya sudah berjanji pada diri saya sendiri untuk  tidak ngomel-ngomel lagi pada anak-anak.
Melihat saya yang terdiam, si mas berkata lirih "Nanti di tandatangani ya, Bun". Saya tahu si mas galau. Rasa bersalah dan takut terlihat di matanya.
"Iya, nanti ditandatangani kalau sudah dilihat Ayah", ujar saya.
Setelah beberapa saat, saya dekati si mas yang sedang bermain dengan adiknya. 
"Mas, ingat nggak cita-cita mas besok mau jadi apa", tanya saya.
Mas Aufa mengangguk "Jadi tentara".
"Kalau mau jadi tentara, sebaiknya bagaimana?", tanya saya lagi.
"Belajar".
"Kira-kira kalau mas Aufa  belajarnya lebih rajin, bisa dapat nilai bagus nggak?". Si mas mengangguk. 
"Kira-kira mas Aufa kemarin banyakan belajarnya atau banyakan mainnya?".
Eeeh si mas tersipu-sipu. Ngaku juga dia kalau lebih sering main daripada belajar. Anak-anak saya, yang pertama dan kedua kalau di suruh belajar itu alasannya macam-macam. Baru juga lima menit mulai belajar, sudah menguap berkali-kali. Ngantuk *kayaknya saya dulu nggak gitu-gitu amat deh....sepuluh menit baru ngantuk...hihi.
Pelan-pelan saya beri pengertian padanya. Bahwa cita-cita itu tidak bisa di raih begitu saja tanpa usaha. Belajar itu bukan kewajiban melainkan kebutuhan. Seperti manusia membutuhkan air kalau haus, seperti manusia membutuhkan makanan jika lapar *widiih, kadang2 keminter sayah. 
Saya jadi ingat dua tahun lalu, ketika kak Fina anak pertama saya mau UAN SD. Saya dan suami prihatin dan khawatir. Bagaimana tidak khawatir, nilai si kakak sepanjang 5 tahun sangat biasa-biasa saja. Padahal kami berencana mendaftarkannya di SMP Semarang. Ketakutan kalau-kalau si kakak tidak diterima di SMP Negeri karena nilainya kurang. Berbagai upaya saya coba agar si kakak bisa mengejar ketinggalannya, tapi hingga semester 1 di kelas 6 tak membuahkan hasil. Nilainya minim. Hingga suatu hari, saya ajak si kakak bicara dari hati ke hati layaknya orang dewasa.
Waktu itu, saya berkata "Kak, Bunda tahu kakak sudah berusaha keras untuk belajar, untuk memahami, untuk mengerti apa yang sudah diajarkan bu Guru. Ayah dan Bunda sangat menghargai usaha kerasmu. Sekarang, kakak tidak usah memikirkan bagaimana supaya nilai ujian kakak bagus, tapi berusahalah yang terbaik semampumu, sebisamu. Ayah dan Bunda hanya bisa berdoa, supaya kakak bisa mengerjakan ujian kakak dengan baik. Ayah dan Bunda terima berapapun nilaimu". 

Si kakak hanya terdiam waktu itu, entah apa yang dipikirkannya. Tapi yang saya ingat waktu itu, si kakak jadi lebih aktif belajar dan bertanya pada tantenya (Arinta, adik saya). 
Hingga kemudian, saat pengumuman hasil ujian diberikan si kakak memberikan kejutan. Surprised...si kakak menjadi juara 3 dengan nilai ujian 26,90. Mungkin bagi sebagian besar orangtua, nilai itu tidak seberapa (biasa saja). Tapi bagi saya dan suami, prestasi si kakak luar biasa. Akhirnya si kakak bisa diterima di SMP Negeri di Semarang.

Selain memotivasi belajarnya, sebisa mungkin saya dukung minatnya pada bidang lain. Misalnya si kakak seneng masak..ya sudah suruh aja kakak masak terus. Rencananya nanti si kakak akan masuk ke SMK Boga. 

Nah, kalo si mas hobinya main komputer (sejak usia 2,5 tahun). Dia hobi utak atik, gambar-gambar di komputer. Selain itu dia juga jago menyusun leggo, lho. 

Lagi main komputer
robot dari leggo buatan mas Aufa

lukisan mas Aufa di komputer

Sampai sekarang saya dan suami masih terus belajar bagaimana menjadi orangtua yang baik bagi anak-anak kami. Sebisa mungkin, kami fasilitasi kebisaan anak-anak selain bidang akademiknya. Semoga anak-anak kami kelak tidak hanya menjadi anak-anak yang pintar, tapi juga anak-anak yang beruntung. Bicara dari hati ke hati, lebih efektif daripada emosi.

Monday, 1 June 2015

Blogger Wannabe

19:32:00 37 Comments
Baru nulis sekali dua kali, sudah nyebut dirinya sendiri penulis.
Ngeblog yang isinya cuma satu dua tulisan sudah nyebut dirinya sendiri blogger.
Masak cuma sekali dua kali sudah nyebut dirinya cheff.
Baru bikin satu dua baju sudah menyebut dirinya desainer.
Baru sekali dua kali beranak sudah menyebut dirinya emak. (lah...ini beda, kaleee) *di lemparin duit se plastik kresek.
........dan lain sebagainya...dan sebagainya..

Because I love Blogging

Kira-kira itu yang saya tangkap dari tulisan pemred satu majalah wanita terkenal yang saya baca dari TL nya mak Uniek. Wuaaah....nampol banget pedesnya. Apalagi buat saya yang notabene blogger wannabe...writer wannabe...yang apalah..apalah inih.
Emang nggak boleh ya, nyebut diri kita blogger meski blog kita penuh sarang laba-laba? Emang nggak boleh ya, nyebut diri kita penulis meski baru sekali dua kali tulisan kita di muat di media?
Terus apa dong, sebutan buat para wannabe wannabe seperti saya ini? 
Bukankah sebutan itu juga semacam doa, ya? Saya sendiri, suka melabeli anak-anak saya dengan cita-cita mereka, lho. Anak saya yang cowok, dari kecil pengen jadi tentara...jadi kalo saya memanggil namanya...selalu saya tambahi "pak Jenderal Aufa". 
Kembali ke masalah profesi. Profesi itu apa? Profesi itu sama dengan pekerjaan. Kemarin aja diundang di pelatihan, di acara sharing dan launching produk...kita diundang dengan label Blogger. Lha, kalo saya dan teman2 yang disebut wannabe itu kerjaannya nulis di blog, lalu sebutannya apa dong?
Blogger wannabe? Blogger ecek-ecek? Writer wannabe? Writer ecek-ecek? *ealaaah...aku ra po2 mbak...(sambil ngasahi piring).
Yo wis lah, mbak. Kalo memang saya dan teman-teman belum pantas menyandang predikat atau profesi itu. Yang penting saya tetap pada pekerjaan saya. Ya nulis, ya jalan-jalan, ya masak, ya momong anak *profesinya rangkep-rangkep.
Eiits...tulisan saya ini, bukan tulisan untuk memprovokasi lho, ya. Damai-damai saja. 
Semoga kita semua bisa menjadi seorang blogger profesional dan melahirkan banyak karya.



Follow Me @ikapuspita1