Samsung Galaxy Note 5, Beautiful and Useful



Dear Friends,

Otak manusia diciptakan begitu rupa oleh Tuhan agar bisa bertahan hidup. Semakin hari kemampuan manusia semakin menakjubkan saja. Berbagai macam teknologi telah dihasilkan dan dimanfaatkan oleh manusia. Termasuk gadget salah satunya. Manusia seolah tak pernah berhenti melakukan inovasi. Yaah...demikian halnya dengan Samsung yang tak pernah berhenti melakukan inovasi.

Perusahaan raksasa dari Korea Selatan ini terus berupaya memuaskan konsumen dengan mengeluarkan produk-produk baru. Tahun 2015 ini saja Samsung telah meluncurkan Samsung Galaxy S6 dan S6 Edge. Belum lagi habis rasa takjub dengan kehadiran Samsung Galaxy S6 dan S6 Edge, baru-baru ini Samsung meluncurkan lagi produk terbarunya.

Pada hari Kamis tanggal 13 Agustus 2015 kemarin di New York Samsung Galaxy Note 5 akhirnya resmi diluncurkan. Pada event  Samsung Unpacked 2015 tersebut  ditampilkan Samsung Galaxy Note 5 dan Samsung Galaxy S6 Edge Plus dengan desain terbaru dan pembaharuan fitur-fiturnya.
Saya sendiri sudah memiliki Samsung Galaxy Tab 3V, tapi begitu lihat Samsung Galaxy Note 5 ini, haduh...jadi  tambah pengen memilikinya.


Mengapa kita harus memiliki Samsung Galaxy Note 5? 
Samsung Galaxy Note 5 ini tampil dengan desain terbaru yang mengusung layar Super Amoled berukuran 5,7 inchi Quad HD resolusi 2560 x 1440 pixel dengan kepadatan pixel mencapai 518 ppi (pixel per inch). Note 5 ini memiliki tebal 7,6 mm dan bobot 171 gram dengan desain unibodi yang berarti baterainya tidak dapat dilepas. Pokoknya pas lah dalam genggaman. Note 5 ini memakai prosesor Exynos 7420 octa score (2,1 GHz quad + 1,5 GHz quad) 64 bit yang ditunjang dengan RAM 4 GB (duh, ribet bener istilahnya). Powerful banget kan. Untuk memori internal kita bisa pilih yang 32 GB atau yang 64 GB karena tidak ada slot microSD seperti halnya Galaxy S6. So, mau pilih yang mana nih gaes?

samsung-galaxy-note-5-beautiful-and-useful
Desain Samsung Galaxy Note 5 yang cantik

Samsung Galaxy Note 5 ini memiliki  pembaharuan dari fitur-fiturnya antara lain  S Pen, Smart Multitasking, Refined Camera, Battery, Video Live Broadcast, Sidesync (PC-Phone Connection). Sebuah terobosan baru yang sangat menarik karena Samsung Galaxy Note 5 ini selain beautiful juga useful. Beautiful dari segi desainnya yang cantik, useful dari segi fitur-fiturnya yang memungkinkan kita untuk multitasking.

1] S Pen

Seperti generasi pendahulunya, Note 5 ini juga memiliki stylus S Pen di sudut bodynya dengan desain dan fungsi yang lebih canggih dari sebelumnya. Dengan sekali klik, S Pen akan keluar dari sarangnya...eh dari tempatnya. S Pen ini bisa digunakan dalam keadaan layar tidak aktif (off screen), lho. Jadi bila kita mendapatkan ide yang tiba-tiba muncul, kita tinggal mengeluarkan S Pen dan menuliskannya di layar. Kita tak perlu khawatir ide yang kita tuliskan hilang, karena aktivitas ini akan langsung terhubung dengan memo dan bisa disimpan. S Pen Note 5 ini juga bisa melakukan editing file PDF, lho. Kita bisa langsung membubuhkan tandatangan saat itu juga dan me-reply email yang masuk.

Jadi keinget waktu kemarin saya harus bolak-balik ke warnet untuk scan dokumen yang harus ditandatangi agar naskah saya bisa segera terbit. Lebih lanjut ada fitur Air Command yang menjadi lebih intuitif dan praktis dimana ikon hovers untuk akses instan ke semua fitur S Pen berasal dari layar apapun setiap saat.

2] Smart Multitasking
Note  ini dibekali dengan perangkat yang sangat memadai untuk kategori "phablet". Samsung Galaxy Note 5 ini memakai prosesor Exynos 7420 octa core (2,1 GHz quad + 1,5 GHz quad) 64 bit yang ditunjang RAM 4 GB. Kapasitas memori internal Note 5 ini 32 GB dan 64 GB dengan sistem operasi Android 5.1 Lollipop. Dengan dukungan 4G LTE kategori 9 yang mampu melakukan download sampai tingkat 300 mbps dan upload 75 mbps. Kombinasi perangkat tersebut memungkinkan Note 5 ini untuk multitasking ketika beberapa aplikasi dijalankan sekaligus. Pas sekali bila Samsung Galaxy Note 5 disebut sebagai smartphone impian. Apalagi bagi blogger seperti saya yang harus bisa mejalankan beberapa aktivitas sekaligus.

Multitasking kapan saja, dimana saja
So powerful, kaan.

3] Refined Camera

Kualitas kamera Note 5 ini sejatinya sudah teruji melalui dua generasi terdahulu. Dibekali dengan kamera  belakang 16 megapixel OIS (F1.9) dan kamera depan 5 megapixel (F1.9) dengan mudah mengatasi kondisi outdoor maupun indoor, dapat diandalkan ketika berada di suasana low light (temaram) dan mampu menyorot objek yang jauh di depan mata. Kamera Samsung Galaxy Note 5 ini mampu menghasilkan gambar dengan kualitas yang sudah tak diragukan lagi. 

Hasil jepretan kamera indoor
Mengambil gambar jarak jauh
4] Battery
Dengan segala kecanggihan yang dimiliki,  Note 5 ini pasti memerlukan daya yang cukup besar untuk menunjangnya. Tak perlu takut kehabisan baterai (low bat) karena Samsung Galaxy Note 5 ini memiliki kapasitas baterai sebesar 3000 MAh. Meski berkapasitas besar, tak perlu waktu lama untuk mengisi baterainya. Note 5 ini memiliki baterai yang bisa diisi dengan metode fast charging. Kita hanya perlu waktu sekitar 80 menit menggunakan charger aslinya dan 120 menit menggunakan wireless charging pad untuk mengisi baterai.  


Jadi kita nggak perlu khawatir akan bete karena harus menunggu berjam-jam untuk mengisi baterai. 

5] Video Live Broadcast
Buat yang suka narsis di YouTube, kamera Samsung Galaxy Note 5 juga dilengkapi dengan fitur steady video yang menyediakan Video Digital Image Stabilization pada kamera depan maupun belakang untuk hasil video yang tajam dan hebat serta Video Collage Mode dimana kita dapat merekam dan mengedit video dengan mudah dalam beberapa pilihan frame dan efek.
Ada juga live broadcast yang merupakan hasil kolaborasi Samsung dan YouTube yang mengakomodir kita untuk melakukan live stream full HD Video langsung dari ponsel ke kontak perorangan atau publik melalui YouTube Live. Orang yang mendapat tautan YouTube dari pengguna dapat menikmati live stream video dari smartphone, tablet, PC atau Smart TV dengan jaringan YouTube. Assyiik, kaan. Puas-puasin deh bikin video yang menarik.


Fitur lain yang menambah keren adalah sistem advanced camera Samsung, quick launch (klik tombol home dua kali) untuk menggunakan kamera dalam waktu kurang 1 detik., auto real-time High Dynamic Range (HDR) dan Smart Optical Image Stabilization (OIS) dan filter terbaru. 
Kurang apalagi, coba?

6] Sidesync (PC-Phone Connection)


Sidesync merupakan fitur yang memungkinkan Samsung Galaxy Note 5 kita terhubung dengan PC atau laptop. Meski sedang di charge, kita tetap dapat menggunakannya dengan cara mirroring di monitor PC atau tablet. Keren, kan? Samsung Galaxy Note 5 memang mempermudah pekerjaan kita. Samsung Galaxy Note 5 memang Beautiful dan Useful. Tidak hanya sedap dipandang dari segi tampilannya tetapi juga dapat diandalkan dari segi fitur-fitur yang dimilikinya.



Bukan Bebek Biasa

Bebek-bebekku...mari kemari
ikutlah aku ke kebun bibi...
disana banyak kesukaanmu..
cacing yang gemuk hai...ayo diserbu...

Eeeh, malah nyengnyong. Ada yang suka kulineran bebek? Saya...sayaa...sayaaa...*ealah pada ngacung semua. Sama dong kayak eykeh...suka sama bebek, menthog...unggas-unggas yang doyan main becek-becekan. Biar jorok tapi kalo sudah mateng rasanya...wow endess tenan.
Ngomong-ngomong soal kuliner bebek, saya paling seneng makan di Bebek Pak Latief BLK. Meskipun tidak setenar bebek goreng H. Slamet, bebek goreng Kang Bejo atau bebek Sinjay tapi rasanya nggak kalah deh. 

bebek-goreng-bukan-bebek-biasa
Bebek Pak Latief BLK
Bebek goreng Pak Latief ini terletak tepat di sebelah BLK Semarang jalan Majapahit. Pantesan namanya ada embel-embel BLK-nya. Dulu, ukuran bebeknya besar dan harganya murah lagi. Sempat tanya pada beliau tentang ukuran bebeknya yang besar dan dagingnya yang tebal. Ternyata bebeknya itu bukan bebek biasa. Bebeknya itu hasil perkawinan bebek dan menthog atau biasa disebut tiktok. 
Beberapa waktu yang lalu saya kesana lagi tapi sayangnya saya tak menemukan si tiktok lagi. Hanya ada bebek biasa. Oke, tak masalah...yang penting masih bebek. Hihihi..

Gadis penggila bebek
Uniknya di warung bebek Pak Latief BLK ini, kita bebas mengambil nasi sendiri. Mau sedikit atau banyak juga boleh, pokoknya sesuai kemampuan perut kita menampungnya. Hihi..
Cara menyajikan bebeknyapun langsung diletakkan di satu piring. Kebetulan waktu itu saya pesan 5 potong..eh diberi bonus ati ampela dan dua leher. Asyik nggak tuh. Rasa sambalnya juga cukup nendang dan bikin keringetan.
Bon Appetit
Pada penasaran nggak sama bebek Pak Latief ini? Iya? Langsung cuuz aja ke jalan Majapahit Semarang ya? kalo belum tahu tempatnya, hubungi aja saya....trus traktir saya disana. Hihi...maunya.




Hikmah Dibalik Musibah

Hikmah-dibalik-musibah
Kondisi sepeda motor suami
Setiap makhluk hidup, lahir ke dunia ini dengan membawa nasib dan takdirnya masing-masing. Rezeki, jodoh dan maut adalah kuasa Allah SWT. Senang, susah, sedih, bahagia sudah tergaris di tangan. Kita harus percaya bahwa apa yang telah dan akan terjadi adalah karena takdir Allah SWT. Itulah mengapa kita percaya akan Rukun Iman yang ke 6 yaitu Iman kepada Takdir. 
Iman kepada takdir itu yang akan membuat kita yakin dan percaya bahwa apapun yang terjadi adalah kehendak Allah. Apapun kehendak Allah pasti adalah yang terbaik bagi makhlukNya.

Musibah sebagai Tanda Cinta

Seperti yang terjadi pada suami saya seminggu yang lalu. Sekitar pukul 21.30, suami mengabari saya bahwa beliau baru saja kecelakaan. Kontan saja saya kaget dan shock. Takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan pada beliau. Selang satu jam kemudian, beliau datang dengan taksi. Dengan langkah tertatih, saya papah beliau masuk ke rumah. Tak tega rasanya melihatnya kesakitan ketika saya bersihkan luka di pipinya. Ditambah dengan rasa sakit di dada, bahu, tangan kanan, telapak tangan sampai kaki yang dirasakannya. Malam itu juga suami dibawa ke tukang urut oleh adik ipar saya.Setelah diurut rasa sakitnya sudah berkurang, kata suami saya. Meski begitu, saya masih tetap khawatir pada kondisinya.
Setelah kondisinya lebih baik, suami menceritakan kronologis kecelakaan yang dialaminya. Berkali-kali suami mengucapkan syukur karena hanya menabrak bagian ban truk trailler dan terjatuh. Akan lain ceritanya kalau sepeda motornya menabrak bagian tengah truk dan masuk ke kolongnya. Aduuh, membayangkannya saja sudah ngeri. Suami saya malah  menasehati saya supaya ikhlas menerima musibah yang menimpanya. Ini adalah wujud kasih sayang Allah pada keluarga kami. Mungkin kami lalai akan sesuatu sehingga Allah mengingatkan kami. Kejadian yang menimpa suami membuat kami lebih mawas diri, lebih berhati-hati dan lebih meningkatkan kualitas keimanan kami.
Musibah bisa menimpa kita kapan saja dan dimana saja. Berdoalah sebelum menjalani aktivitas apapun, kapanpun dan dimanapun.




30 Hari Mencari Trivi

30 hari mencari Trivi? Siapa tuh, Mak? Sodara apa teman?
Bukan...bukaaaan. Trivi itu nama soulmate saya yang baru. Iyaa....dia Samsung Galaxy Tab 3V yang menggantikan soulmate saya yang tewas beberapa waktu yang lalu. Mungkin memang sudah waktunya saya ganti gadget ya. Curhat sama suami..eeh..disuruh ngumpulin duit dulu. Sabaar....sabaaar. Butuh waktu sekitar 30 harian bagi saya untuk mencari dan memilih gadget yang tepat buat emak-emak seperti saya. Meski sebenarnya saya juga lagi ngumpulin duit buat beli gadget baru...hihi. Selama belum memiliki gantinya si merah, saya pake hape jadul lungsuran adek saya Arinta. Biarin lah, yang penting bisa buat sms dan telpon. 
Sambil menunggu uang terkumpul, pak suami menyuruh saya mencari dan memilih gadget yang saya mau. Tapi nggak enaknya itu lho...pesannya jangan yang mahal-mahal. Padahal saya pengennya bisa punya Samsung S6  atau S6 Edge*kalo ini sih...musti jual motor dulu...hahaha. 
Setelah browsing berkali-kali dan mencari yang harganya bersahabat, akhirnya saya memilih Samsung Galaxy Tab 3V sebagai soulmate saya. 

credit. samsung.co.id
Mengapa saya memilih Samsung Galaxy Tab 3V?

Selain harganya bersahabat (nggak nyampe 2jt, kok) fiturnya lengkap. Bentang layarnya 7.0 inchi, pas lah buat saya yang juga besar *nyadar diri. Layar tablet saya ini mengggunakan TFT capacitive touchscreen berkedalaman 16 juta warna dengan resolusi 1024 x 600 piksel. Untuk konektivitas, Samsung Tab 3V ini dibekali satu slot SIM jadi saya bisa menggunakan tablet ini layaknya sebuah smartphone untuk berkirim SMS, MMS atau telepon. Tablet saya ini juga memiliki kecepatan HSDPA 21 Mbps dan HSUPA 5.76 Mbps ketika browsing. Apalagi tab saya juga mendukung jaringan 2G GSM dan 3G HSDPA dan dilengkapi dengan fitur Wi-Fi dan Hotspot. Kalo mau mindahin data atau foto-foto ke perangkat lain, tablet saya ini sudah dibekali fitur bluetooth v4.0 dan port microUSB. Memori penyimpanan Samsung Galaxy Tab 3V ini terbilang besar loh. Memori internalnya 8 GB yang juga digunakan untuk menyimpan data sistem operasi tablet. Tak perlu cemas memori akan penuh karena tablet ini memiliki slot microSD untuk keperluan perbesaran memori penyimpanan hingga kapasitas 32 GB. Jadi aktivitas penyimpanan data dan file dalam tablet akan lebih nyaman, kan.
Seperti seri Samsung Galaxy Tab lainnya, tablet ini menggunakan baterai non removable. Artinya baterainya tidak dapat dilepas karena menjadi satu dengan casing belakang tablet. Memiliki daya 3100 mAh dari Li-Ion terbilang kecil bagi sebuah tablet berlayar luas dengan processor 4 inti yang memakai banyak daya dalam kinerjanya. Pantesan...agak boros baterainya...hihi. Ya wajarlah, wong harganya aja murah kok.
Tapii...saya happy banget karena akhirnya bisa memiliki tablet ini. Aktivitas saya untuk nulis dan ngeblog tercover dengan si Trivi ini. Saya bisa nulis dan ngeblog dimana saja dan kapan saja. Hanya saja harus lebih hati-hati dan pelan-pelan nulisnya biar nggak sering typo karena jari-jari saya yang gendut belum terbiasa dengan layar touchscreen. *LOL
Saya juga bisa mengabadikan momen-momen penting sebagai bahan tulisan. Pokoknya si Trivi ini adalah soulmate saya sekarang.



[Masih] Mengejar Cita-Cita

"Gantungkan cita-citamu setinggi bintang di langit"

Itu adalah nasehat yang hampir setiap hari saya dengar. Mungkin maksudnya agar saya memiliki tujuan hidup yang jelas. Siapapun pasti memiliki tujuan hidup yang tinggi. Nggak pernah terdengar cerita kalau ada anak yang bercita-cita jadi penjahat atau jadi orang susah. Iya, kan. Saya sendiri belum yakin apakah saya sudah benar-benar meraih cita-cita saya. Sama nggak sih...cita-cita dengan passion? Dulu saya sama seperti anak-anak kecil pada umumnya, kalau ditanya cita-cita pasti selalu berubah-ubah. Kemarin bilang ingin menjadi dokter (cita-cita mainstream anak-anak...hahaha), hari ini berubah pengen jadi insinyur pertanian (padahal nggak suka nanem-nanem...idih), eeh besoknya berubah lagi pengen jadi intel (gegara liat film seri The A Team....ya ampyuun ketauan kalo saya ini udah tuwir).
Kembali ke cita-cita. Saya bukan sekali dua kali gagal meraih apa yang saya cita-citakan. Pernah bercita-cita menjadi wartawan (dulu kayaknya jarang yang bercita-cita jadi wartawan) ketika SMA karena seringnya menulis di Mading. Pernah juga bercita-cita jadi penyanyi gara-gara dulu sering menang lomba nyanyi dan sering diundang di berbagai event. Bahka rival saya menyanyi sekarang sudah menjadi penyanyi beneran, meski doski jadi penyanyi dangdut. Tapi cita-cita itu kemudian berantakan karena orangtua menginginkan saya masuk STAN (yang gratis...hehe). Berhubung saya nggak mau dianggap membangkang, ikutlah saya test untuk masuk ke STAN. Tapi saya gagal, sodara-sodara....*tutupan kresek.

Masuk ke dunia kerja

Orangtua saya bukanlah dari kalangan berada, jadi saya diarahkan untuk mencari perguruan tinggi yang tidak perlu mengeluarkan biaya. Karena saya tidak lolos masuk STAN akhirnya saya memilih ikut om (adik dari Ibu) dan bekerja. Berkat bantuan om dan tante akhirnya saya bisa bekerja di sebuah perusahaan kayu sebagai staff administrasi. Meski bukan cita-cita saya, tapi saya mesti menjalaninya dengan bahagia. Tapi sebagai ABG yang baru lulus SMA dan masih unyu-unyu, saya anggap pekerjaan saya adalah sekolah saya. Yang tadinya nggak bisa mengoperasikan komputer jadi bisa, meski dulu masih pake Lotus release 5 dan WS yang kudu dipancing pake DOS* idiih...ketahuan deh, umur saya berapah. Untunglah beberapa karyawan senior banyak membantu. Senengnya lagi kalo pas gajian. Puas...puaaaas banget pegang hasil keringat sendiri meski hanya beberapa ribu. Bisa menyisihkan sedikit uang untuk orangtua, rasanya bangga bukan main. Terbayang mata almarhumah Ibu yang berkaca-kaca ketika menerima beberapa ribu uang hasil keringat anaknya. *mendadak pilu lagi...hiks...hiks.

Menikah muda dan Mengajar

Hampir tiga tahun saya bekerja dan hasilnya apa? Selain materi yang cuma segede upil, hasilnya dapat jodoh, sodara-sodara. Alias dapat suami. Saya yang masih kinyis-kinyis ini akhirnya menikah di awal usia 21 dengan manajer personalia tempat saya bekerja. Haha...saya curiga sejak awal suami saya itu naksir saya ketika beliau mewawancarai saya. Pantesan saya dijadikannya asisten. Asisten manajer personalia yang direkrut selama-lamanya*lelucon apa pula ini. Pupuslah sudah cita-cita saya, berganti status sebagai ibu rumah tetangga..eeh tangga.
Saya jadi mikir, apa saya terlalu tinggi menggantungkan cita-cita ya, kok saya nggak bisa meraihnya. Apalagi setelah punya anak dua tahun kemudian, sepertinya cita-cita saya semakin membumbung tinggi kemudian terhapus angin. Kesiaaaa....aaan *ala Upin Ipin

Hingga kemudian, suami mengijinkan saya untuk kembali terjun ke kancah peperangan...eh maksudnya dunia kerja. Keluarga menyarankan agar saya mengajar. Meski awalnya sempat ragu karena nggak yakin bisa mengajar, tapi lama kelamaan saya mulai menikmati dunia pendidikan. Saya mengajar di Sekolah Dasar selama  3 tahun tapi karena suatu hal saya  beralih mengajar anak usia dini (pra sekolah) hingga tahun 2013. Sekian lama menjadi pendidik, saya jadi yakin mengajar adalah passion saya.
Belajar bersama anak-anak unyu
Mendongeng
Saya sadar bahwa  tugas seorang Guru tidak hanya mengajar tapi juga mendidik. Dengan dukungan suami dan keluarga sayapun memutuskan untuk kuliah. Ketika mengajar Sekolah Dasar saya mengambil jurusan PGSD, tapi hanya sampai  semester 3 saja. Setelah mengajar di lembaga PAUD, jurusan Pendidikan Guru PAUD menjadi pilihan saya. Meski berstatus ibu rumah tangga dengan tiga anak, akhirnya saya bisa lulus juga dengan nilai yang tidak mengecewakan *emak-emak songong...hihi
Akhirnya lulus jugaa...
Pada akhir tahun 2013 lalu kebersamaan saya dengan anak-anak yang unyu-unyu itu harus berakhir. *syedihnya nggak habis-habis. Saya harus meninggalkan mereka demi berkumpul dengan keluarga saya. Artinya saya harus memupus lagi..(..dan lagi) cita-cita saya. Kini saya sepenuhnya mengabdi pada suami dan anak-anak. Setelah nggak ada kegiatan, lalu saya harus apa?
Now what?? *niru istilah pilem-pilem ituuh
Apakah saya masih dan harus memiliki cita-cita lagi? Setelah bertapa, mendaki gunung, melewati lembah dan bertualang *emang ninja Hatori...hihi akhirnya sayapun memilih, menimbang dan memutuskan. Saya memilih bekerja di rumah dengan menjadi penulis.
Penulis?? deng..deng..*pede abis.
"Emangnya kamu bisa nulis?" tanya hati kecil saya.
"Eiits, jangan salah. Dulu saya sering nulis cerpen, nulis cerber dan nulis resep lho (yang terakhir itu perlu ditulis nggak, siih)".
"Iya kamu bisa nulis, tapi apa tulisanmu cukup bagus untuk kau pamerkan?"
Eh..iya ya, mana buktinya kalo saya bisa nulis. Kayaknya belum pernah deh...tulisan saya mejeng dimana-mana. Mikiiir...lagi.

Bergabung dengan komunitas menulis

Setelah memutuskan untuk menulis (belum pede menyebut diri ini penulis), saya bergabung dengan beberapa komunitas untuk menambah wawasan saya di dunia kepenulisan. Komunitas Penulis Kreatif, Fiksiana Community, Komunitas Penulis Bacaan Anak, Ibu-ibu Doyan Nulis, Dendang Indah Nada Sastra. Hampir setiap hari saya menggali ide untuk menulis. Tentang apa saja. Sebagian saya kirimkan ke beberapa media, sebagian saya simpan di file.

Mulai Ngeblog

Awal tahun ini saya membuat blog ini. Tepatnya bulan Februari 2015. Setelah beberapa waktu ngeblog, sayapun bergabung dengan beberapa komunitas blogger antara lain Kumpulan Emak Blogger, Warung Blogger, BRid, Blogger Muslimah, Gandjel Rel, dan Blogger Perempuan. Setelah berbulan-bulan belajar dari para senior dan berkomuniti, saya semakin yakin pada pilihan saya. Saya memilih menjadi penulis sebagai cita-cita saya saat ini. Hingga saat ini saya masih mengejar cita-cita saya. Berharap bahwa saya bisa meraihnya sebelum saya tiada. Saya ingin meninggalkan sesuatu berupa karya suatu hari nanti. Semoga saya bisa.
Oh ya...selain menjadi penulis, cita-cita terakhir saya adalah masuk surga Allah bersama keluarga dan sahabat-sahabat tercinta. Aamiin......



Gado-gado: Nenek Kucing

Gado-gado Nenek Kucing saya dimuat di edisi ini

Setelah tidak aktif mengajar, aktivitas harian saya hanya mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Sesekali saya mengajar privat. Selain itu ya...di rumah full menemani anak-anak. Beberapa bulan belakangan, untuk mengisi waktu senggang saya mulai menulis (lagi). Selain menulis di blog, saya menulis fiksi. Kadang juga menulis artikel, resep atau tulisan ringan lain untuk dikirim ke media. 
Beberapa waktu lalu, saya mendapat surprised dari seseorang yang memberi kabar bahwa salah satu tulisan yang saya kirim akan dimuat di majalah Femina. Woww. Benar-benar kejutan manis ditengah hari yang gerimis *wuidih sok puitis. 
Setelah semua persyaratan dipenuhi, akhirnya muncul juga tulisan saya di majalah Femina edisi 31 hari Kamis tanggal 6 Agustus 2015 kemarin. Sayangnya bukti terbitnya belum sampai, jadi nggak bisa di foto deh.
Eh...pada penasaran nggak sih pengen liat tulisan rubrik Gado-Gado saya? *ih ge er banget ini mah..
Biar nggak pada penasaran, berikut ini tulisan aslinya ya.


Nenek Kucing

Sejak memakai kalung dengan liontin berbentuk kucing, anehnya saya jadi suka sama kucing. Bahkan terbersit dibenak saya untuk memelihara kucing. Sayup dikejauhan, suara kucing mengeong.

Sebenarnya nama beliau adalah nenek Ranti, tapi kami biasa memanggil beliau dengan sebutan nenek kucing. Beliau tinggal di depan rumah kami. Beliau sangat mencintai kucing. Entah berapa ekor kucing yang tinggal di rumah beliau. Yang pasti banyak, karena setiap hari Mbak Gi, asisten rumah tangga yang bekerja di rumah beliau membeli berkeranjang-keranjang ikan tongkol untuk makanannya. Bahkan nenek Ranti mempekerjakan dua orang untuk membantu beliau mengurus kucing-kucing itu. Aiih, sampai segitunya ya?
Kucing-kucing peliharaan nenek Ranti bukanlah kucing ras yang cantik-cantik seperti kucing Persia atau Anggora tapi kucing kampung. Kucing-kucing kampung itu ternyata dipungut nenek Ranti dari jalanan. Nenek Ranti merawat kucing-kucing kampung itu seperti merawat anaknya sendiri. Seolah tahu membalas budi, kucing-kucing itu juga sangat setia pada beliau.  Bila nenek Ranti pulang dari bepergian, kucing-kucing itu sudah menyambut di depan pintu pagar. Mereka seolah berebut menyapa nenek Ranti.
Kata eyang saya yang juga teman nenek Ranti sejak kecil, dulu nenek Ranti tidak suka pada kucing. Bahkan sangat membenci kucing. Namun ada satu peristiwa yang kemudian mengubah sikap nenek Ranti terhadap binatang kesayangan Rasulullah itu. Ketika nenek Ranti remaja, beliau pernah diselamatkan oleh seekor kucing.
Ceritanya, dulu ada seekor ular yang cukup berbisa masuk ke dalam rumah beliau. Nenek Ranti hanya bisa berteriak-teriak saking takutnya. Hingga kemudian datanglah seekor kucing yang mencoba melawan si ular (kayak dongeng aja). Si kucing kampung dengan gagahnya mencoba menggigit si ular. Konon katanya, terjadilah pertempuran yang sengit antara si kucing dengan si ular. Ularpun mati karena gigitan dan cakaran si kucing. Tapi sayang, si kucing juga akhirnya mati karena terkena racun si ular.
Sejak saat itulah, nenek Ranti berubah jadi penyayang kucing. Kucing-kucing kampung terlantar yang beliau temukan di jalanan beliau bawa pulang. Tak jarang ada juga orang yang mengantarkan kucing ke rumah beliau dan tentu saja nenek Ranti dengan senang hati menerimanya. Kucing-kucing kampung itu diperlakukan istimewa. Dimandikan, diberi makanan yang cukup, hingga kalung dengan lonceng kecil yang tergantung di leher mereka.
Kebiasaan itu tak berubah sampai nenek Ranti menikah dan punya anak. Bahkan anak-anak beliau juga mengikuti jejak beliau menjadi penyayang kucing. Semakin hari, semakin banyak kucing yang beliau pelihara. Karena  itulah nenek Ranti kemudian mempekerjakan dua orang yang membantu beliau merawat kucing-kucing itu. Mantri hewan juga datang setiap bulan untuk memberi vaksin dan memeriksa kondisi kucing-kucing itu.
Ada salah satu kucing nenek Ranti yang aneh menurut saya. Tidak seperti layaknya kucing lain yang doyan makan ikan, kucing ini hanya doyan kue apem. Kucing vegetarian ini bisa menghabiskan sebungkus kue apem isi sepuluh dalam sehari. Lucunya kucing vegetarian nenek Ranti ini hanya doyan kue apem bikinan mama saya. Iya, mama saya kebetulan punya usaha katering kue. Makanya setiap hari sayalah yang bertugas mengantar kue apem buat si kucing. Pernah suatu hari, ketika mama saya sakit dan tidak bisa membuat kue apem jadi asisten rumah tangga nenek Ranti membelikannya kue apem di pasar. Si kucing tak menyentuh sedikitpun kue apem dari pasar itu.
“Kasihan si Menci jadi tidak makan seharian karena nggak ada kue apem mama Ita,” kata nenek Ranti. Hehehe…,mungkin si kucing sudah benar-benar menjadi penggemar fanatik kue apem mama saya. Nggak bisa pindah ke lain apem.
Ada lagi cerita yang juga aneh menurut saya. Dari empat anak nenek Ranti, ada salah satunya yang bermata mirip mata kucing. Mata tante Sofie, putri bungsu nenek Ranti berwarna hijau seperti mata kucing. Tante Sofie juga seperti nenek Ranti. Di rumahnya, beliau juga memelihara kucing. Hanya saja, jenis kucingnya berbeda dengan kucing peliharaan nenek Ranti. Tante Sofie lebih banyak memelihara kucing ras Persia. Beliau bahkan tak segan merogoh koceknya dalam-dalam hanya untuk membeli kucing Persia dan segala assesorisnya.
 Nenek Ranti pernah cerita pada saya kalau tante Sofie rela mengeluarkan uang lima juta hanya untuk membelikan kucing kesayangannya sebuah kalung. Wah, kalau saya pasti pikir-pikir dulu deh.
Pengeluaran bulanan nenek Ranti untuk kucing-kucingnya pun terhitung fantastis buat saya. Tak kurang dari Rp 3 juta perbulan demi mengurus kucing-kucing itu. Wooww…., sama dengan gaji saya sebulan.
“Nenek apa nggak sayang keluar uang banyak hanya buat kucing-kucing itu,” tanya saya pada nenek Ranti.
“Enggak lah Ta, kucing-kucing itu juga membawa rejeki. Buat nenek, tidak ada yang sia-sia atas apa yang nenek lakukan,” ujar beliau.
Saya sungguh salut atas apa yang nenek Ranti lakukan. Tak banyak orang seperti nenek Ranti yang rela mengeluarkan banyak uang hanya untuk merawat kucing. Mungkin itu cara nenek Ranti berterima kasih pada kucing atas kejadian yang pernah menimpa beliau dulu, saya hanya menerka-nerka.
Maka pantaslah nenek Ranti dijuluki sebagai nenek kucing. Nenek Ranti memang seperti nenek para kucing. Suatu hari, ketika saya mengantar kue apem untuk si kucing beliau memanggil saya.
“Ini buat kamu..,” nenek Ranti mengulurkan sebuah kotak. “Bukalah..,” ujar beliau lagi.
Setelah mengucapkan terima kasih, saya buka kotak itu. Ternyata sebuah kalung dengan liontin berbentuk seekor kucing. Kalung itu kemudian saya pakai. Dan anehnya setelah saya memakai kalung itu, saya mulai suka pada kucing. Mulai terbersit di benak saya untuk memelihara kucing. Bahkan, setiap malam menjelang tidur saya seperti di nina bobokan dengan suara kucing. Sayup-sayup saya seperti mendengar suara kucing yang mengeong. Meeooonngg……meeooongg…

Gimana tulisanku menurut sahabat? Biasa saja atau terlalu biasa? Hihi...namanya juga sedang dalam tahap belajar.  Dengan dimuatnya tulisan ini, saya semakin terpacu untuk terus menulis. Seperti yang dikatakan mb Nurhayati Pujiastuti "Menulis, Kirim, Lupakan".
Seperti tulisan ini, saya mengirimya sekitar bulan Oktober tahun lalu. Tak disangka, bisa dimuat bulan ini. Sungguh sebuah kepuasan tersendiri bagi saya. Saya pun berjanji pada diri saya sendiri untuk terus menulis.

Nah, kalo teman-teman mau mengirim cerita ke rubrik Gado-gado seperti saya, berikut ini caranya  :
  • Panjang tulisan 700-800an kata atau kurang lebih 3 halaman folio.
  • Ditulis dengan font Times New Roman atau Arial ukuran 12 pt dengan spasi ganda.
  • Beri judul yang menarik atau eye catching .
  • Gaya penulisan santai dan tidak kaku, namun tetap sesuai dengan EYD yaa.
  • Sebisa mungkin ada pesan moral didalamnya.
  • Kirim dalam format RTF (rich text format)
  • Sertakan data diri, nomor rekening dan kontak yang bisa dihubungi.
  • Kirim ke email majalah Femina di kontak@femina.co.id

Setelah itu sabarlah menunggu sembari menulis lagi. Bila tulisan kita layak untuk dimuat, biasanya akan dihubungi pihak redaksi via telepon dan email. Jadi tunggu apa lagi?

Nulis lagi, yuuuk.