Oud En Niuew by Toko Oen di Kota Lama Semarang

Dear friends,

Ketika mendengar Toko Oen, yang melekat di benak masyarakat Semarang adalah sebuah restoran dengan segala ornamen khas tempo dulu yang berada di Jalan Pemuda No. 52, Kota Semarang.

Tetapi, seiring waktu, kini Toko Oen berkolaborasi dengan Gabungan Koperasi Batik Indonesia (GKBI) Investments kembali membuka restorannya. Lokasinya di gedung tua nan eksotis milik GKBI, Jalan Empu Tantular No.29, Bandarharjo, Kecamatan Semarang Utara, Kota Lama Semarang.

Di gedung ini Toko Oen membuka sebuah kedai es krim. Kedai ini masih berada di salah satu sudut Kawasan Kota Lama yang jarang terjamah oleh masyarakat luas. Generasi ketiga pemilik Toko Oen, tante Yenni bercerita, ada alasan di balik pembukaan kedai es krim di gedung GKBI.

Salah satunya adalah untuk menyelamatkan sudut bangunan di kawasan Kota Lama yang jarang terjamah oleh masyarakat. Kedai es krim ini bertemakan Oud En Nieuw yang memiliki arti kuno, kini, dan nanti. Bahwa sejarah tidak untuk dilupakan, namun untuk dipertahankan. Awalnya, Yenni mengaku tidak gampang mengubah penampilan gedung tua yang dipenuhi semak belukar itu hingga menjadi sebuah bangunan baru tanpa merubah orisinalitasnya.

Sejak puluhan tahun, restorannya ini memang identik dengan cita rasa es krim yang lezat. Uniknya, cara pembuatan es krim yang memiliki 16 varian rasa ini masih menggunakan metode tradisional. Toko Oen dikenal bukan makanan besarnya, tapi orang kenal itu karena ada es krim. Es krimnya sendiri dimasaknya dengan cara kuno," kata Yenni. "Kami mau tunjukan kepada para Millennial kalau kita mampu jaga kualitas rasa es krim yang kita buat sejak 80 tahun lebih," lanjutnya. 

Lantas, bersama anaknya yang jadi generasi keempat, Yenni optimis Toko Oen mampu bersaing menggenjot bisnis es krimnya. Ia mengakui beberapa produsen es krim kini berlomba-lomba menggenjot penjualan dengan menyasar segmen Millennial. "Tapi kami sebagai yang tertua di Semarang tidak kalah soal cita rasa. Kalau sekarang lagi ramai es krim di setiap tempat, kita tentunya tetap pertahankan cara lama sambil mengembangkan varian rasa yang baru," kata Yenni. "Kami saat ini punya 16 pilihan rasa es krim dan beberapa di antaranya jadi unggulan," ungkapnya.

Yenni berujar, cita rasa yang khas dari es krim Toko Oen akan tetap bertahan dengan diproduksi menggunakan dua buah mesin berpendingin minus 20 derajat. Mesin yang khusus didatangkan dari Italia ini terbilang jadul dengan memakan waktu pembuatan yang sangat lama. "Putaran mesin esnya pelan sekali, dengan begitu kan tekstur rasanya lebih terasa. Yang kita pakai itu mesin pendingin minus 20 derajat. Mesinnya juga sudah berumur 80 tahun, dulunya kita impor dari Italia karena di Indonesia belum ada yang bikin," jelasnya. 

Toko Oen konsisten menjaga resep. Bahkan, menjaga alat masak. Utamanya khusus untuk es krim. Alat pembuat es krim yang dipakai di Toko Oen didatangkan langsung dari Italia sejak toko itu pertama kali dibuka. Alat itu didatangkan awal 1920-an. Saat ini, toko es krim yang masih mempertahankan menggunakan alat serupa hanya Es Krim Ragusa di Jakarta. 

Jenny enggan menggunakan mesin baru karena akan berpengaruh pada rasa dan tekstur yang dihasilkan. Untuk merawatnya, ia sengaja membeli sparepart rongsokan seharga puluhan juta. “Tidak apa-apa dibeli, daripada kami tidak produksi lagi sama sekali,” katanya.

Ia bahkan memiliki teknisi khusus untuk merawat alat es krim ini. Bagi Jenny, merawat Toko Oen bukan hanya upaya untuk melanggengkan bisnis keluarga, tapi juga menghidupkan sejarah masa lalu agar tidak mati. Sebab dari restoran ini, ia tidak hanya mengejar untung, tapi juga mengawetkan kenangan.

Yenni bercita-cita, dengan menempati Gedung GKBI ini, ke depan mampu menorehkan jejak sejarah baru di kawasan Kota Lama. Salah satunya memadukan sejarah panjang Toko Oen yang berdiri sejak 1936 dengan keunikan gedung tua di Kota Lama.

No comments

Terima kasih sudah berkunjung dan tidak meninggalkan link hidup. Jangan lupa komentarnya yaaa.....
bundafinaufara.com