Dear friends,
Apa kabar kalian? Saya ternyata lama belum menulis di sini. Alhamdulillah Allah memberi saya rezeki kembali dan bisa menulis
Rasanya cukup lama saya nggak update blog. Hampir saja blog ini terbengkalai jika saya tidak membuka email dari penyedia domain yang memberitahu bahwa sudah waktunya saya harus membayar sewa domain. Untung saja saya segera membayar, karena kalau tidak nasib blog ini akan sama dengan blog jalan-jalan yang kembali ke setelan awal yaitu yang tidak berbayar. Sayang banget kan, padahal blog itu sudah mulai menghasilkan loh, meski sedikit-sedikit.
Setelah membayar domain, saya masih saja belum mulai menulis. Beberapa waktu belakangan, saya masih disibukkan dengan urusan sekolah anak saya yang nomor tiga. Mengurus kelulusan Sekolah Dasar, lanjut mendaftarkan ke sekolah lanjutan. Kebetulan anak saya ingin mencoba "mondok" atau sekarang istilah kerennya "boarding". Ada satu cita-cita yang sangat ingin diwujudkannya melalui "boarding" ini yaitu ingin mewujudkan impiannya menjdai seorang hafidzah. Semoga Allah meridhoi impiannya, aamiin.
Alhamdulillah, setelah mendaftar dan melalui beberapa kali tes masuk di MTSN 1 Semarang, akhirnya anak saya lolos dan jadi salah satu santriwati di sana. Akhirnya setelah berjuang dan bersaing dengan anak-anak yang datang dari kota dan daerah lain, belajar anak saya bisa masuk sekolah negeri sekaligus santriwati MTSN 1 Semarang.
Ternyata mengirim anak untuk sekolah sekaligus "boarding" butuh banyak keperluan yang dibutuhkan. Akhirnya tanggal 11 Juli lalu, saya bisa mengantarkan anak gadisku mondok. Awalnya saya merasa biasa saja, bahkan yakin dia akan terbiasa dengan situasi pondok.
![]() |
| dokpri. Nak wedok siap berangkat ke pondok |
Ternyata, melepas anak untuk sekolah dan belajar di pondok tu nggak semudah itu, Ferguzo. Setelah saya antar dia ke kamar, memasangkan sprei dan sarung bantal hingga menungguinya menata lemarinya, kami orangtuanya masih harus mengikuti pertemuan wali santri hingga menjelang sholat maghrib. Selepas sholat maghrib, kami sudah harus berpisah.
Air mata yang sudah sekuat tenaga saya tahan-tahan akhirnya pecah sudah. Saya harus menguatkan diri untuk melepas anak perempuan saya untuk belajar mandiri. Ternyata begini ya rasanya jauh dari anak-anak. Saya harus mulai belajar melepas anak-anak. Toh, ini juga buat bekal mereka menghadapi kehidupan mereka di masa depan. Beberapa tahun ke depan mungkin semua anak-anak kita akan keluar dari rumah untuk menlajutkan kuliah, bekerja aatau mungkin menikah.
Saat ini saya sedang dalam fase yang lebih sering berdiam diri. Tidak lagi hidup yang menggebu-gebu untuk meraih sesuatu, tidak berkompetisi dengan siapapun, tidak butuh validasi mengenai apapun. Saya lebih banyak merenung dan berdiam.
Saya











0 Komentar
Terima kasih sudah berkunjung dan tidak meninggalkan link hidup. Jangan lupa komentarnya yaaa.....
bundafinaufara.com