Mencari Peluang Melalui Blog


Kalau saja 2,5 tahun lalu saya tidak berhenti mengajar, mungkin saat ini saya masih berkutat dengan berbagai macam alat peraga, rencana pembelajaran, kurikulum dan segala yang berbau pendidikan, bukannya ngeblog. Awal pertama kenal blog sekitar tahun 2009 karena tertarik pada sosok Ninit Yunita si istri bawel yang ditulis di satu majalah wanita. Baca blognya bikin hati ini sedikit terhibur karena tulisan istri bawel yang mengalir, apa adanya tapi berisi *nggak kayak blog saya.. Saking seringnya ngintipin blognya istri bawel (padahal dulu saya musti ke warnet kalo pengen buka blog) hasrat saya untuk membuat blog sendiri makin menggebu *bosone rek.

Akhirnya, setelah bertanya pada simbah  (alias googling) dan coba-coba saya berhasil membuat blog sendiri. Blog-nya pun masih cupuuu... banget. Judulnya aja (eh..nama) White Jasmine. Isinya juga mirip buku harian...ala emak-emak. Tapi sayangnya, blog itu nggak bisa dibuka lagi gara-gara saya lupa pasword *butuh ginko biloba kayaknya. Berhubung blog yang pertama hilang, sayapun membuat blog kedua. Tapi kali ini isinya nggak melulu soal curhatan ala emak-emak. Blog kedua ini isinya lebih banyak tentang pendidikan anak usia dini dan parenting, nama blognya Gayuh Lintang. Tapi lagi-lagi blog kedua ini pun harus menyusul kakaknya yang pertama karena terbengkalai. Maklum lah, karena dulu selain mengajar, saya juga kuliah lagi dan punya bayi lagi, anak ketiga saya. Akhirnya impian memiliki blog seperti istri bawel, terkubur perlahan seiring makin menumpuknya tugas kuliah, tugas sekolah dan tugas rumah tangga.

Setelah benar-benar berhenti mengajar, saya mulai berbenah. Demi mengisi waktu luang, sayapun mulai menulis. Selain menulis fiksi, saya juga menulis di blog. Bersyukur sekarang ini saya tak perlu pergi ke warnet karena suami membelikan sebuah laptop berikut modemnya untuk saya. Kemudian saya mulai bergabung dengan beberapa komunitas sekaligus, baik komunitas menulis maupun komunitas blogger. Bergabung dengan komunitas membuat saya makin terpacu untuk rajin mengisi blog. Apalagi kalau liat teman-teman yang aktif ngeblog dapat hadiah-hadiah yang membuat saya mupeng bertubi-tubi itu. Duuuh...rasanya pengen banget bisa kayak gitu. Ya iya lah...mereka sudah bertahun-tahun malang melintang sebagai blogger. Awalnya sih...blog saya isinya kebanyakan postingan untuk lomba, dan belum pernah menang, eh pernah ding sekali...hihi *pedenya kebangetan ini... Etapi, meskipun jarang menang tapi saya masih pede ikutan blog contest, lho. Diam-diam saya rajin blogwalking ke blognya para blogger yang langganan menjadi juara. Buat saya, itu salah satu cara mengasah kemampuan menulis saya. Uhhuk..uhuk *sok banget

Kini, sedikit demi sedikit saya mulai merasakan hasil dari ngeblog. Nih ya..., dapat makan gratis (makan mulu, ah) dari beberapa event yang saya ikuti, dapat goodiebag yang isinya macem-macem (ndeso banget), dapat voucher (meskipun bingung cara makenya...hihi) dan yang paling berharga adalah dapat sahabat. Akhirnya saya bisa juga punya teman yang memiliki passion sama, yaitu ngeblog. Selain itu..perlahan namun pasti, mulai ada tawaran untuk menulis artikel. Honornya kecil? Nggak masalah buat saya. Meski kecil, itu peluang bagi saya untuk konsisten menulis. Saya masih ingat kata-kata seorang sahabat yang mengatakan "ciptakan peluangmu" melalui passionmu. Jangan cepat puas dan selalu memperbaiki diri dalam menulis, dari yang kecil lama-lama kita akan mendapatkan yang besar, *ceileee...sok beut ah. Siapa tahu, setelah membaca blog kita ada pembaca yang menawarkan kerjasama, terus tawaran job review berdatangan. Oh...asyiknya...

Blogger cupu *uhuk
Meski sekarang hanya mengurus rumah tangga, bukan berarti saya tidak bisa berbuat apa-apa. Saya membuat target dan memanfaatkan waktu luang untuk ngeblog juga menulis fiksi. Saya sedang menciptakan peluang bagi diri saya sendiri menuju blogger profesional. Yaa....menjadi blogger profesional itu memang tujuan saya. Wish that it will comes true. Aamiin..
Lalu, bagaimana denganmu sobat?  Ayo...ciptakan peluangmu!

Tulisan ini diikutsertakan dalam 
 Giveaway Cerita di Balik Blog


Berkah Dari Kenaikan PTKP

gambar dipinjam dari keuangan.lsm.com
Anjloknya nilai tukar rupiah terhadap dollar mau tidak mau berdampak pada kehidupan perekonomian masyarakat Indonesia. Harga-harga kebutuhan bahan pokok semakin melambung, bahkan sebagian hampir tak terbeli oleh masyarakat kelas menengah ke bawah. Beban masyarakat terasa semakin bertambah manakala  harus menunaikan kewajibannya membayar pajak, termasuk  para ibu rumah tangga seperti saya yang notabene hanya memiliki satu sumber pendapatan utama, yaitu gaji suami. Saya dan para ibu rumah tangga lain tentu harus pandai-pandai mengelola gaji dari suami. Kalau tidak, bisa-bisa besar pasak daripada tiang. Lama-lama, pailit deh....

Ssttt....tapi ada kabar gembira bagi para karyawan yang penghasilan bulanannya dikenai pajak, lho. Kabarnya, pemerintah telah menaikkan batasan PTKP. Pemerintah melalui Peraturan Menteri Keuangan nomor 122/PMK.010/2015 menaikkan batasan Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) per tanggal 29 Juni 2015 menjadi 36 juta setahun atau 3 juta per bulan bagi wajib pajak dengan status tidak kawin tanpa tanggungan dan 48 juta setahun bagi yang sudah menikah dan memiliki 3 anak (saya banget ini). Asyiiik....

Terus, apa dong keuntungannya bagi pegawai seperti suami saya?

Keuntungannya bagi pegawai dengan naiknya PTKP adalah gaji yang dipotong pajak lebih kecil sehingga gaji yang diterima lebih besar meski itu juga artinya pendapatan pemerintah dari sektor pajak akan berkurang. Dengan begitu, diharapkan perekonomian kembali bergairah karena ada kenaikan daya beli dari para pegawai/pekerja. Kita tahu bahwa dengan kenaikan beberapa kebutuhan pokok, BBM hingga kenaikan tarif dasar listrik membuat daya beli masyarakat semakin menurun sehingga pemerintah merasa perlu membuat kebijakan baru untuk menaikkan PTKP ini. Selain menaikkan daya beli masyarakat, berkah kenaikan PTKP ini bisa juga diinvestasikan dalam bentuk tabungan. Sungguh menguntungkan bukan?

Meski PTKP telah dinaikkan, masih ada saja perusahaan-perusahaan yang melakukan kecurangan dengan mengurangi laporan penghasilan para pegawainya agar tidak dipotong pajak. Dengan cara menurunkan penghasilan pegawainya tentu perusahaan tidak perlu menyetorkan PKP ke kantor pajak. Padahal cara ini justru membuat perusahaan malah merugi. Apa pasal?  Karena pada laporan keuangan yang digunakan sebagai dasar pembuatan laporan Surat Pemberitahuan Tahunan Badan-nya akan kecil juga, akibatnya untungnya makin besar dan pajak badannya makin tinggi. Nah...perusahaan bukannya untung malah buntung, kan. Itulah mengapa perusahaan membutuhkan seorang konsultan pajak. (baca: Disclosure) Konsultan pajak akan memberi pengarahan pada perusahaan-perusahaan ataupun seseorang untuk melaporkan pajak secara jujur dan benar. 
Bila pajak dilaporkan dan dibayarkan dengan jujur dan benar maka dampaknya positifnya akan dirasakan juga oleh kita sebagai warga negara. Mengedukasi masyarakat agar taat melaporkan dan membayar pajak aktif dilakukan oleh Zeti Arina. Wanita yang juga berprofesi konsultan pajak ini tak jarang melakukan sosialisasi perpajakan dari kampus hingga ke asosiasi-asosiasi seperti KADIN, Real Estate hingga pedagang emas.



Jangan Mencari Investor tapi Jadilah Investor

jangan-mencari-investor-tapi-jadilah-investor
gambar dipinjam dari news.ralali.com
Tahun ini bisa dikatakan sebagai tahun terberat bagi perekonomian bangsa kita. Hampir semua sektor perekonomian mengalami perlambatan meski belum benar-benar krisis. Nilai tukar rupiah yang anjlog, mau tidak mau berimbas pada semua bidang usaha. Terutama usaha kecil menengah yang memiliki modal kecil. Mereka yang kehabisan modal atau merugi harus menghentikan bisnisnya untuk sementara. Kondisi ini juga yang membuat orang takut untuk memulai berbisnis. Terutama ketika hendak memilih bisnis apa yang sekiranya cocok untuk dijalankan. 
Sebelum benar-benar mulai berbisnis, mungkin ada baiknya kita belajar dari sosok Aldi Ferdian. Pria kelahiran Bandung 36 tahun silam ini sudah mencicipi asam manisnya berbisnis. Mulai dari bisnis dengan  modal kecil hingga menjadi seorang Pengusaha  yang handal. Memiliki jiwa enterpreneur sejak kecil, jalan sukses Aldi begitu panjang dan berliku. Pernah menjadi sopir antar jemput sekolah, berjualan gambar bertali, bekerja di Mc Donald hingga menjadi marketing di sebuah bank membuatnya terbiasa bekerja keras. Semangatnya yang pantang menyerah membuatnya tertempa dan mampu melewati berbagai rintangan. 
Bersama seorang kawan lamanya Aldi kemudian mendirikan sebuah production house yang bernama Vizwerk. Persaingan yang sangat tinggi membuatnya fokus mengutamakan kecepatan dan kualitas dengan harga murah. Dan hasilnya, perusahaannya mulai berkembang pesat dan karyawan semakin bertambah. Sukses dengan perusahaannya Aldi tak mau berpuas diri. Sejak tahun 2013 pria yang sekarang dikenal sebagai Financial Engineering & Consultant ini juga menjadi investor di beberapa perusahaan sekaligus. Proyek-proyek yang didanainya merambah hampir di semua bidang bisnis. Mulai dari bidang property, energy, media digital, integrated media promotion, perkebunan jamur tiram, travel bahkan cabe pun di danainya.
Belajar dari seorang Aldi Ferdian memang selalu membuat kita berdecak kagum. Meski telah sukses, Aldi tak pernah lupa untuk terus berbagi pada sesama. Tak hanya mengejar keuntungan Aldi juga mendanai proyek yang bersifat sosial dan mencarikan jalan keluar bagi orang lain agar mereka juga berkembang.
Dari Aldi Ferdian kita bisa menyimpulkan bahwa untuk mulai berbisnis diperlukan mental dan tekad yang kuat. Kita harus siap menghadapi kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. Bila perlu, jangan mencari investor tetapi jadilah investor.



Ketika Nama Menjadi Do'a

ketika-nama-menjadi-doa
Gambar diambil dari koran.jakarta.com
Bagi sebagian besar orang, nama adalah doa. Begitu besarnya kekuatan nama, hingga dapat  mempengaruhi hidup orang yang menyandangnya. Masih ingat kah beberapa waktu lalu media kita dihebohkan dengan munculnya beberapa nama orang yang tidak biasa. Sebut saja diantaranya nama Satria Baja Hitam, Anti Dandruf, Saiton dan yang paling membuat kontroversi adalah Tuhan. Tentu masyarakat bertanya-tanya, bagaimana bisa orangtua mereka memberi nama demikian. Tidakkah para orangtua dari orang-orang itu tahu apa konsekuensi atau efek yang dapat ditimbulkan dari nama mereka?  Lalu bagaimana bila di dalam nama kita terdapat unsur-unsur yang bisa memberi pengaruh negatif pada diri kita?

Banyak orang yang belum menyadari bahwa susunan nama yang harmonis menyimpan kekuatan luar biasa bagi pemiliknya. Ni Kadek Hellen Kristy Winatasari mengatakan bahwa "Sejak dulu, orang sudah mengenal pentingnya memberi nama terbaik pada anak-anak mereka. Sebab nama tidak sekedar menjadi identitas pengenal. Di dalamnya ada unsur doa, harapan serta keinginan positif. Dan itu meresap ke dalam alam bawah sadar manusia." Bagi orang yang memiliki nama tidak biasa mungkin tidak menyadari bahwa nama yang diberikan oleh orangtua mereka bisa saja berpengaruh buruk bagi kehidupannya. Wanita yang akrab disapa Hellen ini menjelaskan tentang hasil penelitian David E. Kalist  dari Shippersburg University mengenai pengaruh nama awal. Kalist menemukan adanya korelasi antara nama awal dengan kecenderungan orang melakukan tindak kejahatan. "Ada sejumlah nama awal yang terasosiasi dengan perilaku kriminal, status ekonomi bawah serta yang cenderung mendapat gaji rendah. Jadi dari nama orang saja orang lain sudah membuat persepsi tertentu mengenai kita. Bisa negatif bisa positif, tergantung dari susunan nama yang kita miliki ," ujar wanita berparas ayu ini.

Lalu bagaimana dengan orang yang terlanjur memiliki nama dengan arti yang tidak baik?

Salah satu upaya yang bisa dilakukan adalah  dengan cara Restruktur Nama. Restruktur Nama adalah bagian dari warisan kearifan masa lampau (ancient wisdom) yang digunakan untuk mencapai keharmonisan diri serta kesuksesan dalam hidup, namun banyak dilupakan orang. Hellen memadukan metode Restruktur Nama dengan terapi Self-Empowerment bagi klien-kliennya. Untuk membantu kliennya mencapai hasil yang optimal, Hellen yang juga seorang Empowerment Coach ini menyertakan terapi untuk mengubah mindset lama yang kadung melekat di bawah sadar melalui beragam teknik Self-Empowerment seperti afirmasi, hypnosis, neuro language program (NLP) dan pendekatan psikologi transpersonal. Tiap orang memiliki waktu dan hasil yang berbeda-beda, tergantung dari kesadaran orang tersebut dalam mengenali problemnya. Agar terapi ini sukses, terapi ini harus dilakukan secara menyeluruh dan total. Setelah menjalani program Restruktur Nama dan pendampingan, rata-rata kliennya merasakan perubahan positif dalam dirinya.



Tips Bisnis Tak Biasa Menjadi Luar Biasa

gambar dipinjam dari www.indscriptcreative.com
Setelah saya benar-benar berhenti dari aktivitas mengajar, saya total hanya mengurusi rumah tangga saja. Aktivitas saya hanya seputar memasak, mengantar jemput anak, menemani anak-anak belajar dan seabreg rutinitas rumah tangga lainnya. Untuk mengisi waktu luang, saya berbisnis mukena yang saya jual secara online. Tapi usaha tersebut tak berjalan lancar mengingat begitu banyaknya orang yang menjalankan bisnis serupa. Saya sempat putus asa untuk memulai bisnis lagi.
Sembari memikirkan cara untuk menambah penghasilan, saya mulai menulis. Bergabung dengan komunitas yang beranggotakan ibu-ibu yang memiliki passion menulis membuat saya terpacu untuk meniru. Adalah Indari Mastuti yang merupakan founder Komunitas Ibu-ibu Doyan Nulis dan Ibu-ibu Doyan Bisnis yang selalu memotivasi anggotanya untuk selalu berkarya melalui tulisan. Sebab, menulis juga bisa menjadi bisnis. Apa iya? Indari Mastuti telah membuktikannya. Wah, saya jadi semakin tertarik untuk berkecimpung didalamnya.
Indari Mastuti mengawali bisnisnya di bidang penulisan 8 tahun lalu. Saat itu bisnis penulisan belum begitu populer seperti sekarang. Bahkan bisnisnya ini termasuk bisnis yang tak biasa. Wanita yang sejak kecil bercita-cita menjadi penulis ini yakin bahwa bisnis yang dibangun karena passion akan berjalan lancar. Minimnya pesaing bukan berarti bisnis ini tanpa kendala. Indscript dibawah kendalinya harus bekerja lebih keras untuk mendapatkan kepercayaan klien. Pernah mengalami titik terendah dimana omzet perusahaan jeblok dengan biaya operasional tinggi.

Lalu, bagaimana caranya membangkitkan lagi bisnis yang hampir kolaps? 

Langkah pertama yang dilakukannya adalah menyempurnakan kembali business plan perusahaan untuk menggali potensi yang bisa menjadi market dan bisa menghasilkan uang. Perusahaan yang awalnya hanya agensi naskah mengubah diri menjadi jasa copywriting sehingga banyak peluang yang dapat diambil, misalnya jasa penulisan biografi dan promo tools perusahaan. Perlahan, masalah perusahaan tertangani. Selain itu, Indscript juga sering mengikuti kompetisi bisnis dan menargetkan untuk menang. Tujuannya adalah selain mendapatkan materi sebagai pemasukan juga agar brand Indscript semakin dikenal masyarakat luas. Dengan begitu masyarakat akan menaruh kepercayaan pada Indscript. Sekarang bisa  kita lihat bahwa Indari Mastuti telah menjadi Writer Business Specialist.

Ada beberapa tips tentang bagaimana menjalankan bisnis yang tidak biasa menjadi luar biasa  yang bisa kita lakukan, antara lain :
  • Siapkan mental  kuat dan sabar yang berlipat karena kedepannya pasti akan menggerus emosi
  • Bentuklah tim kemudian bekali mereka dengan ilmu dan spirit yang memadai
  • Perkuat manajemen keuangan agar tidak terjadi kebocoran
  • Marketing adalah ujung tombak perusahaan, maka perkuat lini ini dengan tim yang tangguh
  • Cari dan praktikkan inovasi-inovasi yang bisa menjadi sumber penghasilan
  • Lakukan bisnis atas dasar berbagi, dengan demikian ilmu dan link kita akan semakin bertambah
Siap untuk berbisnis?


Sewindu Indscript Creative : Aktif, Kreatif, Produktif

gambar dipinjam dari www.indscriptcreative.com
Tiga tahun lalu, sesaat setelah saya lulus kuliah saya harus menerima kenyataan bahwa saya harus pindah ke Semarang untuk mengikuti suami. Artinya, saya harus meninggalkan semua aktivitas saya di dunia pendidikan anak usia dini. Saya harus meninggalkan pekerjaan saya sebagai praktisi paud. Padahal sewaktu memutuskan untuk kuliah lagi, tujuan saya adalah agar ilmu yang saya miliki bisa saya berikan pada anak-anak didik saya. Meski berat, saya memilih untuk berada di samping suami saya. 
Kembali menjadi ibu rumah tangga seutuhnya tidak lantas membuat saya berhenti untuk beraktivitas diluar rutinitas rumah tangga. Saat itulah, adik saya merekomendasikan sebuah komunitas yang mewadahi para ibu yang memiliki passion dalam menulis. Memang, menulis adalah salah satu hobi lama saya. Akhirnya saya bergabung dengan komunitas Ibu-Ibu Doyan Nulis. Komunitas ini adalah satu binaan dari Indscript Creative.  
Indscript Creative adalah sebuah agensi naskah yang menjembatani penulis dan penerbit atau sebaliknya, dan juga sebagai solusi bagi penerbit yang memerlukan naskah sesuai dengan kebutuhan pasar. Seiring berjalannya waktu Indscript Creative merambah berbagai lini bisnis, antara lain :
  • Indscript Copywriting, yaitu lini bisnis yang khusus menangani kebutuhan seputar penulisan naskah, artikel, konten website, media release, advertising, penulisan biografi hingga penulisan konten sosial media. 
  • Indscript Direct Selling yaitu lini bisnis produk-produk yang dihasilkan lini bisnis Indscript lainnya seperti buku-buku  yang ditulis oleh penulis Indscript, produk-produk dari anggota komunitas binaan Indscript seperti komunitas Ibu-Ibu Doyan Bisnis. Produk unggulan Indscript adalah Simple Modules yang mampu mengubah lifestyle dan menanamkan kedisiplinan antara lain Metrik Pencapaian, The Must List, Training Notes, Mom's Daily Activities dan Kid's Daily Activities. 
  • Indscript Training Center, yaitu lini bisnis yang khusus mengadakan berbagai pelatihan dengan tema seputar Penulisan dan Bisnis. Para alumni akan  tergabung dalam sebuah grup sehingga memungkinkan terjadinya kolaborasi antara alumni maupun dengan Indscript Creative. Para alumni ini menjadi elemen penguat bisnis Indscript Creative secara keseluruhan.
Pada awalnya Indscript merupakan bisnis di bidang penulisan. Indscript membuktikan bahwa penulisan adalah bisnis yang sangat menjanjikan apabila dikelola dengan baik dan bisa menjadi bisnis yang menguntungkan. Nulis dan Bisnis bila bersinergi akan memberikan dampak yang luar biasa. Ini sesuai dengan slogan Indscript bahwa Penulis harus bisa berbisnis dan Pebisnis harus bisa menulis. Artinya, menulis dan bisnis bisa berpotensi menciptakan perubahan besar.
Saat ini Indscript menjadi payung bagi komunitas Ibu-ibu Doyan Nulis dan Ibu-ibu Doyan Bisnis yang memiliki anggota lebih dari 30 ribu orang yang tersebar hingga ke mancanegara. Dengan jumlah anggota yang terus bertambah bukan tidak mungkin akan menjadi potensi untuk berkolaborasi sehingga akan terjadi simbiosis mutualisme dari semua elemen baik Indscript Creative, anggota maupun klien Indscript.
Tak terasa tahun ini sewindu sudah Indscript Creative berkarya. Kiprah Indscript Creative di dunia Menulis maupun Bisnis tak perlu diragukan lagi. Dalam 8 tahun perjalanannya Indscript telah melahirkan ribuan karya dan ratusan klien. Berbagai pengalaman berharga mengiringi perjalanan Indscript Creative menjadi sebuah perusahaan yang unggul dan memberi banyak manfaat bagi seluruh elemen baik secara langsung maupun tidak langsung. Pengalaman berharga ini menjadi bekal untuk terus bertumbuh dan melakukan perbaikan-perbaikan menuju perusahaan yang unggul.
Sebagai rencana, kedepannya Indscript ngin menjadi perusahaan yang dikenal sebagai perusahaan copywriting nomor 1 di Indonesia dan dikenal dalam kancah bisnis Internasional dan melebarkan sayapnya ke luar negeri.


sumber : Indscript Creative


Bon Jovi is Back, Saya Suka bukan Ngefans

bon-jovi-is-back
Selalu memesona meski menua
Siapa yang tak kenal Bon Jovi? Grup Band satu ini telah menjadi idola para remaja (maksudnya remaja pada jamannya..hihi ) di seantero dunia. Termasuk saya *ketahuan deh berapa umurnya..hihi. Tapi nggak hanya lagu-lagu Bon Jovi aja sih yang saya suka. Beberapa Band dengan genre rock atau slow rock seperti Europe, Guns n Roses atau Steal Heart saya suka. Maklum lah...jelek-jelek begini saya dulu pernah jadi penyanyi. Anak Band...Hehe..
Bagi remaja tahun 90an....pasti hafal deh semua lagu-lagunya. Coba sebutin ...apa saja lagu-lagu Bon Jovi yang jadi hits tahun itu. Buat yang suka galau pastinya suka banget sama lagu Always, I'll Be There For You, Born to Be My  Baby, dan Never Say Goodbye. Hayooo, ngakuuu?
Bon Jovi termasuk salah satu grup band legendaris dunia. Band ini dibentuk pada tahun 1983 di New Jersey, Amerika Serikat. Tahu nggak, ternyata nama band ini sebenarnya diambil dari nama vokalisnya loh. Ya, si Jon ituuh. Nama Jon sebenarnya adalah John Francis Bongiovi, Jr. Tak disangka Band yang digawangi Jon Bon Jovi (vokalis sekaligus gitaris), Richie Sambora (gitaris), Alex John Such (drum) dan David Bryan (keyboard) ini kemudian mendunia. Banyak yang menyuki lagu-lagu mereka. Selama 32 tahun Bon Jovi berkiprah di dunia musik rock sudah menghasilkan 13 album, 3 album kompilasi dan 1 album live. Hebatnya lagi, sudah 130 juta copy yang terjual di seluruh dunia. 

Gambar ini dipinjam dari https://id.wikipedia.org

Bon Jovi pertama kali konser di Indonesia pada tahun 1995, waktu itu saya masih kelas 2 SMA euy. Masih remaja yang sukanya galau...hihi. Masih jamannya kirim-kirim lagu buat gebetan. Dan yang paling sering di request waktu itu lagu Always. Pokoknya ngehits banget waktu itu. Hampir semua teman-teman sekolah saya hafal lagu-lagunya. Padahal kalau disuruh ngafalin rumus-rumus fisika dan matematika susahnya minta ampun. Eh...giliran lagu-lagunya Bon Jovi...hafaaal semua. Hihi..
20 tahun berlalu, kini Bon Jovi kembali menggelar konser di Jakarta. Sebagai remaja pada masa itu...*itung sendiri umurnya,  tentunya nggak tahan juga untuk nggak nonton konsernya. Apalagi yang punya kenangan sama lagu-lagunya Bon Jovi. Meski dollar tengah meroket, krisis melanda di mana-mana, tetep aja 40 ribu tiket dengan kisaran harga 500 ribu sampai 3,5 juta ludes terjual. Woww...
Etapi...jangan-jangan habis nonton konser Bon Jovi, pada nggak makan sebulan...hehe becanda. Kalau saya sih, meski suka lagu-lagunya saya bukan termasuk orang yang akan bersusah payah melakukan segala cara dan mengorbankan segala rupa untuk datang menonton konsernya. Sekarang cukup mendengarkan saja lagunya sesekali sambil mengenang masa-masa sekolah dulu. 
Lah...katanya ngefans? 
Saya suka, bukan ngefans loh. *beda kan?