Thursday, 2 August 2018

# Health # Life Story

Pengalaman Mengkhitankan Anak Menggunakan Laser

khitan-menggunakan-laser


Dear Friends,

Akhir bulan Juni lalu, mas Aufa anak kedua saya akhirnya khitan juga. Alhamdulillah, akhirnya  salah satu kewajiban saya dan suami sebagai orangtua tertunaikan juga. Ini juga untuk pertama kalinya punya pengalaman mengkhitankan anak menggunakan laser. Sebenarnya saya dan suami menawarkan pada si mas untuk khitan saat libur semesteran saja, tapi rupanya dia sudah nggak sabar untuk khitan. Ya sudah, mumpung liburnya masih agak lama akhirnya saya dan suami memenuhi permintaan si mas. 

Sunat atau khitan bertujuan mengangkat jaringan yang menutupi ujung penis. Jaringan penutup ini biasa dikenal dengan sebutan kulup. Sunat bisa dilakukan pada bayi laki-laki yang baru lahir, tetapi umumnya dilakukan kepada anak laki-laki yang beranjak remaja. Eh tapi ada juga sih, laki-laki yang melakukan sunat saat usia dewasa. 

Sebelum khitan, saya dan suami berdiskusi tentang medote khitan apa yang kiranya cocok buat Aufa. Suami lalu mencari tahu ke beberapa rumah sakit dan rumah khitan yang lokasinya nggak terlalu jauh dari rumah. Suami membawa beberapa brosur dari sebuah rumah rumah sakit. Rupanya beliau tertarik pada salah satu metode khitan yang sedang menjadi tren belakangan ini yaitu metode smart klamp.

Dokpri. Smart Klamp

Akhirnya suami mengajak Aufa untuk cek kesehatan dan melakukan pengukuran penis untuk menyesuaikan "klamp" nya. Setelah diperlihatkan alatnya, nyali Aufa langsung ciut. Rupanya dia sudah membayangkan bagaimana rasanya  dijepit langsung menolak khitan dengan metode smart klamp. Aufa memilih dikhitan menggunakan laser saja. Ya udah lah daripada anaknya nggak mau dikhitan, saya dan suami menuruti kemauan si mas aja.

Pengalaman Mengkhitankan Anak Menggunakan Laser

Sunat laser adalah istilah yang lazim digunakan untuk menyebutkan jenis sunat yang menggunakan gelombang elektromagnatik yang diamplikasi sebagai alat potong. Sebenarnya sih, disunatnya bukan pakai laser, tetapi pakai alat yang disebut electric cauter.

Electric cauter adalah alat bedah yang digunakan untuk memotong kulit atau pembuluh darah sehingga meminimalisir pendarahan. Alat ini sudah banyak digunakan di klinik bedah, namun ada yang dimodifikasi sedemikian rupa. Penggunaan alat ini seperti pisau bermata dua. Kalau tepat menggunakannya dipastikan tindakan sunat jadi lebih cepat, menjahit jadi lebih mudah dan risiko infeksi lebih rendah. 

Sunat laser ini punya kelebihan prosesnya lebih cepat, tidak banyak pendarahan dan kadang malah nggak perlu dijahit. Tapi kemarin Aufa dijahit sih, pake benang yang bisa lepas sendiri. 

Meski begitu, sunat laser juga punya kekurangan diantaranya hasil sunat sulit diprediksi, sunat laser bisa menimbulkan luka bakar yang bisa mengakibatkan pembengkakan, terasa panas pada di area yang terpotong dan adanya resiko penis terjepit dan glands terpotong tinggi. 

khitan-menggunakan-laser
Dokpri. Ini dia penampakan alatnya

Tanggal 29 Juni adalah hari yang dipilih untuk mengkhitankan Aufa. Sayangnya dokter yang dijadwalkan akan mengkhitan Aufa mendadak keluar kota dan akhirnya jadi digantikan dokter lain pada malam harinya. 

Saya dan suami sempat khawatir nantinya hasil khitan nggak sempurna karena ukuran "penis" Aufa yang kecil. Mengkhitan penis berukuran kecil rupanya berisiko tinggi lho. Bahkan kata dokter bisa berakibat pada pengulangan tindakan khitan kalau ada kesalahan dalam masa perawatan. Ukuran penis si mas yang kecil itu disebabkan karena  kekurangan protein. Saya bahkan sempat protes sama dokter karena setiap hari saya tak pernah absen menyediakan sayur atau lauk pauk yang mengandung protein buat anak-anak saya. 

Untunglah apa yang kami khawatirkan tidak terjadi. Hasil khitan Aufa baik-baik saja dan nggak ada masalah. Alhamdulillah.

Dokpri. Saat tindakan 

Beruntung Aufa ini nggak pernah rewel kalo berurusan dengan rumah sakit. Tidak nampak sedikitpun rasa takut atau gugup di wajahnya. Santai banget anaknya (yang ada emaknya yang nervous). LOL. Setelah efek biusnya hilang, Aufa cuma meringis aja sih. Panas katanya. 

Perawatan Setelah Tindakan Khitan

Setelah khitan, tugas sebagai orangtua belum selesai. Saya dan suami musti memperhatikan beberapa hal saat melakukan perawatan pada luka di area penis Aufa agar lekas pulih. 

Nah, beberapa hal yang perlu diperhatikan saat merawat luka pasca khitan adalah :

  1. Membersihkan area penis. Setelah khitan, penis harus tetap dalam keadaan kering selama beberapa hari. Paling hanya ditetesi betadine saja supaya tidak infeksi. Setelah lepas perban, bersihkan penis dengan air hangat dan pastikan tidak ada sisa kotoran yang menempel tiap selesai buang air. Area sekitar penis juga musti diperhatikan supaya tidak ada kuman yang menempel di penis. 
  2. Memberikan obat sesuai dosis. Setelah khitan, dokter memberikan obat antibiotik dan obat pereda rasa nyeri. Aufa termasuk anak yang nggak susah saat harus minum obat. Kadang malah dia yang ngingetin kapan waktunya minum obat. 
  3. Membersihkan badannya dengan washlap
  4. Selama masa pemulihan, gunakan washlap untuk membersihkan tubuh.
  5. Tidak memberikan makanan yang menimbulkan alergi dan memicu gatal pada luka. Berikan makanan yang mengandung protein untuk mempercepat penyembuhan.
  6. Mengoleskan salep antibiotik (dengan resep dokter) atau petroleum jelly yang biasa kita pakai untuk melembapkan kulit. Ternyata semakin lembab kulit, maka luka sunat akan lebih cepat sembuh. Dan sebaliknya, bila kulitnya kering, maka luka sunat akan makin lama sembuh.

Selama masa perawatan, Aufa sangat kooperatif dan patuh pada apa yang dikatakan dokter. Normalnya masa pemulihan berlangsung sekitar 7-10 hari pasca khitan tapi nggak sampai 10 hari Aufa sudah bisa kembali aktif bermain dan naik sepeda. 

Mengkhitankan anak laki-laki merupakan salah satu kewajiban kita sebagai orangtua untuk mengantarkannya menjadi lelaki seutuhnya. 


11 comments:

  1. Mbak, aku baca ini kok jadi deg-degan mikirin nanti gimana kalo Faza khitan. Faza juga penisnya termasuk keciill. Huhu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mulai sekarang coba dibantu, dek. Bisa ditelateni kok.

      Delete
  2. selamat ya mas aufa udah disunat smoga jadi anak yg soleh....kayaknya aufa mmg udah siap ya mbak..jadi dia udah fine2 aja kala di rumah sakit

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih tante Ningrum, alhamdulillah memang Aufa sduah siap banget kemarin

      Delete
  3. Barokallah mas aufa, dulu mah belum jamn laser pas adikku sunat perawatan sama mamahku dan aku di rumah, suka kasian pas kesakitan, sekarang dengan laser udah gak sakit lagi, iya betul penis kecil enggaknya dari kodrat Illahi, soalnya keponakanku yang satu ibunya malah sering junk food besar, yang ibunya sering makan ikan malah kecil heuheu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih Tante Vita, iya kemarin sempat agak gimana gitu sama dokternya hihi

      Delete
  4. nah aku tadinya rencana mau sunatin rayi pas masih 1 bulan, ku juga uda nanya2 metodenya kalau anak bayi sebaiknya yang laser penasaran juga yang klamp gimana hehhe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo klamp ga dijahit lagi, Teh. Alatnya dipasang selama beberapa hari gitu. Nanti pas dilepas, udah jadi deh

      Delete
  5. wah jadi ikut deg2an hihihi..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihi...kalo punya anak cowok pasti ikut deg-degan deh

      Delete
  6. Selamat mas Aufa. Aku kok deg degan sih kalo kalo ada temenku yang cerita pas mereka disunat. Katanya sakit dan sembuhnya lama. Untungnya belum ada 10 hari mas Aufa udah pulih dan bisa beraktivitas lagi.

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung dan tidak meninggalkan link hidup. Jangan lupa komentarnya yaaa.....
bundafinaufara.com

Follow Me @ikapuspita1