Jadwal Harian Ibu Rumah Tangga, Perlukah?

Dear friends,

Selama 2 dekade berumah tangga, saya terbiasa beraktivitas tanpa jadwal alias tak terencana. Rutinitas harian berjalan begitu saja, setiap hari setiap waktu. Seperti hafal di luar kepala, apa yang musti dikerjakan sesuai prioritas. Nggak selalu berhasil dikerjakan semua sih, ya karena nggak terjadwal. Sempat kepikiran untuk membuat jadwal harian, tetapi adaa saja halangannya. 

Apa sih kesulitan yang menghalangi kita untuk membuat jadwal harian? Kalau saya, utamanya adalah kondisi fisik dan kesehatan. Maklum lah ya, kondisi fisik saya bukan lagi seperti ketika awal-awal menikah dulu. Saya menikah di usia awal 20an dan sekarang saya sudah 2 dekade menikah (bisa ditebak lah ya, umur saya sekarang berapah? LOL). Selain soal kondisi fisik, persoalan lainnya adalah kami sekeluarga punya aktivitas yang berbeda tiap harinya (berdasarkan mood). Hal inilah yang membuat saya jadi ngikut aja 

Tetapi setelah dipikir-pikir, saya perlu juga membuat jadwal harian. Apalagi saat ini saya sedang menjalankan program diet yang mengharuskan saya membuat jadwal makan secara teratur. Mungkin bisa juga sekalian buat mengatur aktivitas harian saya yang lain. 

Saya ini type orang yang susah bangun pagi-pagi. Biasanya suami saya yang  bangun paling awal. Setelah itu beliau baru membangunkan saya. Saya sih, kadang bisa bangun pagi juga, dalam kondisi tertentu, misalnya ketika hasrat ingin buang hajat yang tak bisa dikendalikan. Ooopss. Hihi..

Setelah bangun biasanya saya memang langsung menuju ke kamar mandi untuk menuntaskan panggilan alam sekalian bersih-bersih. Setelah itu, saya sholat subuh dan bangunin anak-anak. Kemudian, saya memasak air untuk menyeduh kopi buat saya dan suami lalu menyetel televisi. Saya biasa beraktivitas sambil mendengarkan ceramah ustadz di televisi. 

Biasanya saya menikmati kopi ditemani cakwe dan odading (tapi bukan odading mang Oleh) yang dibeli di dekat rumah. 

Saya dan suami berbagi tugas. Suami biasanya bersih-bersih di halaman dan sekitar rumah, sedangkan saya di dapur menyiapkan makanan. Bahkan, suami saya terkadang juga membantu saya dalam urusan memasak. 

Kadang, ketika saya bangun tidur nasinya sudah matang. Hihi. Ini bukan karena saya yang nyuruh, ya. Tapi karena suami saya tahu, bahwa urusan rumah itu ya urusan bersama, bukan kewajiban istri semata. Begitu pun saya, tanpa diminta saya juga akan menggantikan pekerjaannya mengurusi kebersihan rumah dan sekitarnya. 

Biasanya waktu saya sedikit lega ketika suami sudah berangkat kerja. Pada saat inilah saya menyalakan komputer kesayangan saya dan sarapan sambil cek timeline. Kadang juga cek email, siapa tahu ada tawaran pekerjaan. Hihi. 

Waktu antara pukul 08.00-10.00 saya pergunakan semaksimal mungkin untuk menyelesaikan pekerjaan online. Kadang saya juga menyempatkan untuk dhuha. Lalu pukul 10.00 saya akan berhenti sejenak untuk beristirahat. Biasanya saya tidur hingga pukul 11.00. 

Setelah itu, biasanya saya menyiapkan makan siang untuk si bungsu. Anak saya yang bungsu memang butuh perhatian khusus dalam hal makan. Kalau nggak disiapkan, biasanya nggak akan makan. 

Setelah selesai urusan makan si bungsu, sudah masuk waktu dhuhur, biasanya saya ajak sekalian sholat dhuhur. Selepas dhuhur, saya akan kembali ke meja komputer dan menyelesaikan pekerjaan saya. Kalau sedang nggak ada job sih, biasanya saya ngedraft atau baca-baca blog teman-teman. Cari referensi tulisan dan bikin list dan tema tulisan yang akan ditulis beberapa waktu ke depan. 

Sekitar pukul 14.00, biasanya saya menemani si bungsu tidur siang hingga pukul 15.00. Setelah bangun dari tidur siang dan sholat ashar, saya beraktivitas di dapur untuk menyiapkan makan malam. Tetapi kalau masakan pagi masih ada, saya hanya memanaskan sayur atau hanya menambah lauk saja. Kalau sudah tidak ada yang bisa dimasak (bahan masakan habis), biasanya saya akan membeli makanan. 

Bersyukur banget, di sekitar rumah banyak penjual makanan seperti pecel lele, nasi goreng dan bakmi jawa. Tinggal pilih aja mau makan malam dengan menu apa. 

Yaah, begitulah hari-hari saya. Keliatan banget kalau saya punya banyak waktu luang, ya. Hihi. Sebenarnya sih, nggak juga. Masih banyak pekerjaan-pekerjaan kecil yang tidak saya tuliskan. Tapi bisa dilihat, meski tanpa jadwal ternyata saya juga bisa beraktivitas dengan teratur. 

Jadi gimana? membuat jadwal harian penting nggak sih buat ibu rumah tangga. Tergantung kepada pribadi masing-masing, sih. Buat orang yang kurang bisa disiplin terhadap jadwal seperti saya, pastilah penting punya aktivitas terjadwal. Tetapi bagi yang sudah terbiasa melakukan aktivitas dengan teratur, mungkin nggak perlu ya. 

Lalu, apa manfaatnya punya jadwal kegiatan harian buat ibu rumah tangga? Yang pasti tugas utama dan hal-hal yang menjadi kewajiban nggak bakal ada yang tertinggal atau terlewat. Semua hal yang menjadi prioritas bisa lebih diutamakan, sedangkan yang tidak penting bisa dikerjakan belakangan. Jika semua aktivitas terselesaikan pada satu hari itu, pastilah ada rasa puas karena bisa menyelesaikan sesuatu. 

Nah, sekarang tinggal pilih, kita mau semua aktivitas terjadwal atau tidak? Sila dipertimbangkan berdasar kemauan dan kebutuhan kalian sendiri ya, friends. Di saat  hari berakhir, kalian bisa flashback kembali apa saja kegiatan yang sudah kalian lakukan seharian itu. Apakah sesuai dengan jadwal, atau banyak melencengnya? Jangan-jangan banyakan rebahannya *kayak saia. LOL





7 comments

  1. iya mbak, penting menurutku punya to do list untuk biu rumah tangga karena aku juga merasa, setiap hari terus berganti hari tapi banyak hal yang gak aku kerjaan, maksudnya monoton dan gak ada hal yang beneran greget gitu. kalau terjadwal kan jadinya ketauan udah ngerjain apa dan apa. dan bisa dievaluasi juga

    ReplyDelete
  2. Pentiiiing banget. Dulu pas masih kerja kantoran, aku slalu ada jdwal dari pagi Ampe sore itu ngapain aja mba. Setelah resign,walopun dirumah aja, dan ada asisten, ttp aku hrs bikin jadwalku seharian itu ngapain. Mulai dari pagi yg biasanya membaca 2-3 jam, trus sarapan, trus nemenin anak2 belajar online sampe siang. Aku pernah coba, ngejalanin by flow aja... Hasilnya, aku bingung, dan ngerasa hari jni aku udah ngapain aja sih... Kok kayaknya ga produktif. Ga enak samasekali.

    Akhirnya balik lagi, bikin jadwal. So, kerjaan2 bisa selesai sesuai targetnya. :)

    ReplyDelete
  3. Aku pakai jadwal harian mbak, bikin to do list untuk mengecek apa saja yang harus kulakukan hari itu soalnya suka lupa hehe..terus kalau habis centang list tuh jadi semangat hehe

    ReplyDelete
  4. Aku nggak pernah bikin bund, tapi kalo bikin jadi kita terkonsep ya.
    Kalau ada yang lupa jadi diingatkan lagi, pengen coba ah heheh seru kayaknya. Makasih tipsnya bund

    ReplyDelete
  5. Kalau aku terjadwal tapi ga tercatat sih cuma biasanya harus ada bayangan aja mau ngapain gitu udah biasa dr zaman gadis haris serba terencana hehe

    ReplyDelete
  6. Jadwal memang bikin Kita terkontrol saat melakukan aktivitas harian, sehingga gak ada yang terlewatkan.

    Aku sering banget kalo ga nulis jadwal, suka bablaaass...aja.
    Tapi bikin jadwal ini juga perlu memaksakan diri.

    ReplyDelete
  7. Saya lebih vantak terbiasa dengan aktivitas yang terjadwal meski ada bolong2 sih sedikit, dapat pasangan juga yang disiplin banget sama jadwal sehari2, jadi banyakan semuanya teratur

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung dan tidak meninggalkan link hidup. Jangan lupa komentarnya yaaa.....
bundafinaufara.com