Solusi Jitu untuk Alergi dan Flu

Alergi dan flu melanda, tersiksa  rasanya. Pasti sangat tidak nyaman ketika mengalaminya, ya kan?
Saya punya solusi untuk mengatasinya tanpa obat.  Alat dan bahannya sangat mudah didapat.

Bahan  : Lobak putih dan madu 500 g
Alat      : Mangkuk bersih dan plastik

solusi flu
Gambar diambil dari sini


solusi flu
Gambar diambil dari sini
Cara    :
1.      Kupas kulit lobak, iris-iris tipis
2.      Letakkan lobak dalam mangkuk, tambahkan madu lalu tutup rapat dengan plastik
3.      Diamkan selama 3 hari
4.      Tambahkan air terlebih dahulu, diminum sesuai kadar kemanisan yang diinginkan. Lobak yang ada dalam larutan madu boleh di makan. Tidak perlu disimpan dalam kulkas.

solusi flu
Gambar diambil dari sini
 
solusi flu
Gambar diambil dari sini

Tips : 
·         Semua peralatan yang digunakan harus dicuci menggunakan air panas terlebih dahulu.
·         Keringkan mangkuk yang akan dijadikan tempat.
·         Belilah lobak yang masih ada akar dan kepalanya.
·         Sebelum dikupas, cuci bersih lobak. Setelah dikupas, jangan sampai lobak terkena air.


Mudah bukan? Selamat mencoba, ya....

Sumber : www.cerpen.co.id

My Life on Words: Tips Membersihkan Wajan Gosong

My Life on Words: Tips Membersihkan Wajan Gosong: Sebel wajannya gosong lagi? Pasti bingung cara membersihkannya kan? Eiits...tunggu dulu. Sebelum di kiloin di tukang rongsok, ada baiknya si...

Cara Membersihkan Wajan Gosong

Sebel wajannya gosong lagi? Pasti bingung cara membersihkannya kan? Eiits...tunggu dulu. Sebelum di kiloin di tukang rongsok, ada baiknya simak dulu tips berikut ini. Saya punya cara membersihkan wajan yang gosong dengan bahan yang mudah didapat disini.


Gambar diambil dari sini


Cara membersihkannya :
1.      Taburkan garam dan cuka di dalam wajan. Campurkan, setelah bercampur taburkan lagi garam ke dalamnya. Diamkan selama 15 menit.
2.      Setelah 15 menit, bersihkan menggunakan kain atau spons halus. Setelah itu bilas dengan air bersih. 
Dan...taraaaaaaa....lihat hasilnya.


Gambar diambil dari sini


Mudah bukan cara membersihkannya? Kita hanya membutuhkan dua bahan saja untuk membersihkannya.
Tips berikutnya, jangan meninggalkan wajan terlalu lama. nanti bisa gosong lagi, lho...

Informasi : dari berbagai sumber

Cernak - Rahasia Sebongkah Batu



Suatu pagi, seorang wanita tua berjalan menyusuri jalan setapak di pegunungan. Dia akan pergi ke tempat penggilingan beras di lembah. Dia membawa sebuah karung besar karena akan membeli beras disana. Kemudian, dia akan menjual sebagian berasnya di kota dan menyimpan sisanya untuk keperluan sendiri.
       Setelah berjalan agak lama, wanita tua itu berhenti tiba - tiba. Di depannya, sebongkah batu besar menutupi jalan. “Bagaimana bisa batu sebesar ini ada di tengah jalan?” gumam wanita tua itu heran. “Ah sudahlah….Nanti juga ada orang yang menyingkirkannnya.” Wanita tua itu pun mengitari batu itu tersebut dan melanjutkan perjalanannya. 
       Waktu terus berjalan. Sepanjang pagi, batu besar itu tetap berada di tengah jalan. Menjelang siang, seorang penunggang kuda tiba di tempat itu. Kudanya segera berhenti ketika melihat rintangan di hadapannya. “Astaga! Batu besar ini tidak seharusnya ada di tengah jalan,” kata si penunggang kuda. Namun, si penunggang kuda tidak turun untuk menyingkirkan batu itu. Dia malah menyuruh kudanya untuk berjalan mengitarinya. Demikianlah, sampai lewat tengah hari, batu itu tetap berada di tengah jalan.
       Sekarang, hari telah menjelang senja. Seorang anak laki - laki bernama Didi sedang dalam perjalanan pulang dari tempat penggilingan padi. Dia bekerja disana. Dia sangat lelah. Itu sebabnya dia berjalan lambat walaupun hari hampir gelap.
        Didi mengambil jalan pintas, melewati jalan setapak yang di lalui oleh si wanita tua dan penunggang kuda. Dia tidak tahu kalau sebongkah batu besar menutupi jalan itu.
        Tidak lama kemudian, Didi terkejut melihat batu besar di tengah jalan. Dia berhenti dan berkata, “Aku akan menyingkirkan batu besar ini dari tengah jalan agar orang - orang yang lewat di sini tidak terganggu.”
         Kemudian, dengan susah payah, Didi mendorong batu itu ke tepi jalan. Dia tidak menghiraukan badannya yang lemas bekerja seharian. Saat itu, binatang - binatang hutan yang sudah masuk sarang, keluar lagi karena mendengar suara benda didorong.
         Binatang - binatang itu melihat Didi sedang bersusah payah menggeser sebongkah batu ke tepi jalan. Mereka pun menonton dan memberinya semangat.
         Ketika batu bergulir ke tepi jalan, Didi melihat sebuah kotak kecil di bawah batu tersebut. Didi pun mengambil kotak dan membukanya.
        “Emas!” seru Didi heran bercampur cemas. Kemudian, Didi membaca sepucuk surat yang ada di dasar kotak itu.
       “Ambillah emas ini! Emas ini untuk orang yang menyingkirkan batu itu dari tengah jalan.”
       “Alhamdulillah! Semoga aku dapat memanfaatkan pemberian ini di jalan yang benar,” kata Didi bersyukur kepada Allah, Sang Pemberi Rezeki.
             
            Menyingkirkan gangguan dari tengah jalan adalah sebagian dari iman.
                                                           



Diceritakan kembali oleh Bassama Jamila

Cernak - Bejo



Hari ini adalah hari paling menyebalkan bagi Bejo. Bagaimana tidak, hari ini untuk kesekian kalinya Aldi dan teman-teman satu gengnya itu mengejeknya. Panasnya siang ini tak sepanas hatinya yang sedang diliputi kemarahan. Bruk!! Tas sekolah dilemparnya ke atas kasur. Tanpa melepas seragam, Bejo langsung menemui Ibu yang sedang menyiapkan makanan di dapur.
“Eh, anak Ibu sudah pulang rupanya..” sapa Ibu.
“Bu, kenapa sih namaku Bejo. Kenapa bukan Rendy, Alfin, Tony atau yang lain..” tanya Bejo tiba-tiba.
Ibu tersenyum. “Di ejek lagi?” tanya Ibu.  Bejo mengangguk.
 “Sudah, biarkan saja. Nanti mereka juga bosan sendiri..” lanjut Ibu seraya mengusap kepala Bejo.
“Tapi tiap hari Aldi dan teman-temannya mengejek terus. Katanya namaku kampungan, namaku jadul, namaku nggak keren. Aku bosan diejek terus, Bu.” Mata Bejo mulai berkaca-kaca.
“Lalu Ibu harus bagaimana? Apa kamu ingin berganti nama?”
“Boleh kan Bu, aku ganti nama?” pinta Bejo. Ibu tersenyum dan duduk di sebelah Bejo.
 “Ibu mau cerita, tentang namamu. Kamu mau dengar?”.  Bejo mengangguk perlahan.
“Ayah dan Ibu memberimu nama Bejo Raharjo, sama seperti nama Kakek Buyutmu. Beliau dulu adalah seorang pejuang kemerdekaan. Kakek Buyut masih seusiamu ketika ikut berjuang melawan penjajah.”
“Apa kakek tidak takut, Bu? Kakek kan masih kecil”.
“Kakek Buyutmu itu seorang pemberani, nak. Beliau dengan gesit dan lincah berlari menghindari musuh. Dulu, kakek diberi tugas memata-matai musuh. Beliau sering tertangkap, namun selalu bisa meloloskan diri. Makanya Kakek Buyut dijuluki Bejo”. 

Bejo mendengar cerita Ibu dengan seksama. “Jadi nama kakek buyut bukan Bejo?”
“Sebenarnya nama Kakek Buyut adalah Raharjo. Karena sering lolos dari sergapan musuh dan lolos dari maut, para pejuang yang lain memberi nama Bejo. Nama Kakek Buyut menjadi Bejo Raharjo” lanjut Ibu.
“Kenapa Ayah dan Ibu memberi nama Bejo seperti nama Kakek Buyut? Apa tidak ada nama lain yang lebih keren?”
Ibu tersenyum. “Ayah dan Ibu ingin memberi nama yang mengandung makna, karena nama adalah doa. Ayah dan Ibu ingin kamu menjadi anak pemberani, memiliki sikap kesatria dan menjadi anak yang beruntung seperti halnya Kakek Buyutmu”.   
“Tapi Bu, bagaimana kalau Aldi dan yang lain masih mengejekku?” tanya Bejo dengan nada khawatir.
“Kalau mereka masih mengejekmu, ceritakan saja asal usul namamu itu. Ceritakan bagaimana hebatnya Kakek Buyut berjuang mengusir penjajah” ujar Ibu meyakinkan Bejo.

*****
Bejo tidak murung lagi sejak Ibu menceritakan asal usul namanya. Selalu terulas senyum di wajahnya. Apalagi kalau teman-temannya ingin mendengar cerita tentang asal usul namanya. Aldi dan gengnya sudah tidak pernah mengejeknya lagi. Bahkan mereka ikut bangga pada Kakek Buyut Bejo yang ikut berjuang melawan penjajah. Dalam hati Bejo berjanji, akan menjaga nama baik kakek buyutnya dengan rajin belajar agar bisa meraih cita-citanya menjadi tentara.

Semarang, November 2013