Friday, 29 April 2016

Busana Muslim Masa Kini Yang Wajib Anda Miliki

16:11:00 6 Comments

Bara Dress Pattern Grey by Kami Idea

Dear Friends,
Trend busana muslim kini mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Salah satu alasannya sudah tentu karena mayoritas penduduk Indonesia adalah muslim. Alasan lainnya adalah karena fashion busana muslim disesuaikan dengan perkembangan fashion masa kini sehingga muslimah masa kini bisa tetap tampil gaya dengan busana muslimah yang menutup aurat. 

Wanita muslimah yang tetap ingin tampil trendi meskipun menggunakan busana tertutup bisa melihat-lihat di butik online. Butik hijab online hijup.com menghadirkan banyak referensi busana muslimah dengan koleksi terkini dari para desainer terbaik negeri ini. Salah satunya dari brand Kami Idea. Ada banyak model busana muslim yang bisa dipilih. Semuanya adalah hasil rancangan para desainer berbakat yang akan membuat kita tampil anggun dan fashionable. 

Beberapa contoh busana muslim trendi yang bisa dipilih, diataranya :
Bara Dress Pattern Grey
Bara Dress Pattern Grey merupakan salah satu busana muslim dari Kami Idea yang bisa dipilih. Busana muslim ini cocok dipakai untuk menghadiri pesta dengan bahan yang berkesan mewah sekaligus anggun dan syar'i. 

Karina Top Olive
Karina Top Olive merupakan busana muslim model atasan yang bisa dikenakan saat menghadiri acara casual. Bahannya membuat kita nyaman memakainya dan ukurannya yang longgar membuat kita bisa bergerak aktif. Untuk bawahannya, kita bisa memilih celana panjang dengan warna krem atau warna lain yang lembut.

Jati Outer
Outer atau baju luaran saat ini banyak dipilih para wanita muslimah yang selalu ingin tampil trendi namun tetap syar'i. Hal ini karena outer mudah dipadupadankan dengan berbagai jenis busana lain seperti blouse, kemeja, kaos panjang yang sesuai dengan keperluan kita.

Hara Pants Grey
Selain baju atasan, ada juga berbagai pilihan bawahan yang dapat kita pilih saat acara santai. Hara Pants Grey merupakan pilihan celana longgar yang cocok bagi hijabers. Kita juga bisa memadukan Hara Pants Grey ini dengan blouse, kemeja atau kaos yang sesuai dengan aktivitas yang akan kita lakukan. 

Ke empat jenis busana muslim diatas bisa ditemukan di Hijup.com


Monday, 25 April 2016

#SekotakPenuhKesan, Terukir dalam Ingatan

08:02:00 33 Comments
Dear Friends,

Sejak aktif menjadi blogger setahun belakangan ini, saya jadi sering menghadiri berbagai event. Baik itu event khusus seperti gathering, launching,  maupun event umum seperti seminar. Selama ini saya selalu ditemani si putih (sepeda motor saya) untuk mobilitas saya ke berbagai event tersebut. Tak tahu arah jalan, kesasar sampai berkilo-kilo jauhnya hingga kehujanan sudah jadi makanan saya. Yah.., meskipun saya sudah beberapa tahun tinggal di Semarang, masih saja sering salah alamat alias kesasar. Akibatnya bisa dipastikan saya datang terlambat. Nah, kalau sering terlambat lama-lama tengsin juga doong. *langsung ngapalin peta kota.  
Beberapa waktu yang lalu, saya dan beberapa teman menghadiri event yang diadakan di sebuah cafe. Sayangnya tak ada satupun diantara kami yang tahu dimana lokasi cafe itu berada. Akhirnya kami memutuskan untuk berangkat bersama naik taksi, supaya kalau telat datang juga bisa sama-sama. Saya yang biasanya memakai sepeda motor pun memutuskan untuk berangkat bersama teman-teman naik taksi. Padahal sih, alasan sebenarnya supaya saya nggak nyasar kemana-mana dan nggak kehujanan. Cuaca kota Semarang belakangan ini memang tak menentu.
Sebelum memesan taksi, seorang teman bertanya, “Eh, kita pesan taksi Blue Bird kan?”.
“Iya, memangnya kenapa?” jawab teman lain.
“Soalnya aku punya pengalaman buruk dengan taksi lain. Sudah nggak mau pake argo, eh ngemplang lagi”, tuturnya.
“Jangan kuatir, kita naik taksi yang dipercaya  kok. Aku pesan melalui aplikasi My Blue Bird,”sahut saya.
Saya sendiri termasuk orang yang suka pilih-pilih, salah satunya ketika harus memilih moda transportasi. Yang menjadi pertimbangan pertama ketika memilih adalah kenyamanan dan pelayanan. Armada bagus tapi pelayanan buruk, nggak bakal saya pilih. Saya yakin Blue Bird memiliki kualifikasi yang saya dan teman-teman inginkan, yaitu armada yang nyaman dan pelayanan yang memuaskan. 

Tak berapa lama, taksi Blue Bird yang kami pesanpun datang. Dengan ramah, pak sopir menyapa “Selamat siang Ibu, mau diantar kemana?”

Pak Ngatwanto, si sopir yang ramah
“Ke cafe S ya, pak. Tapi kami nggak ada yang tahu alamatnya di jalan apa. Bapak tahu nggak cafe S lokasinya dimana?”
“InsyaAllah tahu, Bu. Sepertinya cafe S ada di jalan T, daerah atas”, jawab pak sopir.
“Alhamdulillah”, kata kami serempak. 

Sempat wefie di dalam taksi
Tiba di cafe S hujan turun cukup deras. Teman saya sempat meminta pada pak sopir untuk parkir di dekat pintu masuk cafe supaya baju kami tak terlalu basah terkena air hujan.
“Nanti saya antar satu per satu saja, Bu. Daripada nanti bajunya basah”, kata pak sopir.
Saya dan teman-teman bernafas lega karena tak harus berlari dibawah hujan dan berbasah-basahan. Satu per satu saya dan teman-teman diantar sampai ke depan pintu cafe. 
Wah, salut banget nih sama pak sopir yang mau nganterin ibu-ibu satu per satu. Biasanya sih, banyak sopir yang cuek aja penumpangnya kehujanan kek, kerepotan kek. Yang penting dapat duit aja. Tapi hari ini kami terkesan sekali pada sopir taksi Blue Bird yang bersikap melayani penumpangnya ini. Ah ya, saya pikir inilah salah satu bentuk marketing yang baik. Dengan keramahan dan pelayanan sepenuh hati, maka penumpang akan memiliki kesan baik pada taksi Blue Bird. Karena kesan yang baik akan selalu terukir dalam ingatan.

Oh iya, kalian memiliki perjalanan berkesan dengan taksi Blue Bird?
Kalau punya, tulis saja perjalanan berkesan kalian dalam bentuk blog, dan kirimkan #SekotakPenuhKesan blog competition ke https://goo.gl/1BWiLP.
Hadiahnya GoPro Hero4, Samsung Gear S2 Smartwatch, Voucher MatahariMall.com @Rp1.000.000 . Aaaak. Tuuh, mupeng kan liat hadiahnya? Segera tulis pengalaman berkesan kalian bersama Blue Bird, karena tulisan kalian ditunggu hingga tanggal 2 Mei 2016 saja.
Info lengkapnya bisa cek website Blue Bird Blog Competition #SekotakPenuhKesan. Jangan sampai kelewatan, ya!



Friday, 15 April 2016

Melangkah Lebih Mudah dengan Aplikasi My Blue Bird

21:19:00 50 Comments
Dear Friends,

Pengalaman Menggunakan Aplikasi My Blue Bird

Pagi itu kesibukan di rumah, lain dari biasanya. Pasalnya si Ayah harus buru-buru berangkat ke kantor karena ada tugas yang harus diselesaikan. Padahal hari itu harusnya Ayah mengantar saya dan si kecil ke pool travel di Banyumanik. Saya harus segera berangkat ke Purworejo untuk menemani adik yang akan melahirkan. Kebetulan saya naik travel yang akan berangkat pukul 09.00 WIB. Mau tidak mau saya harus sampai di pool paling lambat setengah jam sebelum berangkat.
"Bunda berangkat sendiri ke pool travel, ya. Ayah nggak bisa anter, ada kapal yang sandar pagi ini. Ayah harus standby di pelabuhan," ujar si Ayah.
Saya hanya mengangguk meski sedikit kuatir membayangkan bagaimana repotnya naik turun angkot menuju ke Banyumanik. Maklum, setidaknya saya harus dua kali naik angkot untuk sampai kesana. Saya juga takut ketinggalan travel karena mengingat angkot sering ngetem dan berkali-kali berhenti. Kalau ketinggalan travel, artinya saya harus nunggu lebih lama lagi untuk jadwal keberangkatan selanjutnya.
"Nggak pa-pa ya berangkat sendiri? Naik taksi aja, jangan naik angkot. Biar cepat," kata si Ayah seolah tahu kekhawatiran saya.
Ya ampuun...kenapa nggak kepikiran dari tadi sih. Bukannya di tablet saya sudah terpasang aplikasi My Blue Bird.
"Ya udah, deh. Bunda pesen taksi aja. Ayah berangkat aja," ujar saya sambil mengantar si Ayah ke depan rumah.
Sembari menyiapkan barang bawaan, saya membuka aplikasi My Blue Bird di tablet saya dan mengorder taksi.


Setelah itu saya mengisi form dengan lengkap mulai dari nama, alamat lengkap, bila perlu beri keterangan tambahan untuk memudahkan pencarian alamat penjemputan. Bila isian dirasa sudah benar, klik Ok.


Nah, kalau sudah kita tinggal menunggu armada taksi menjemput di depan rumah. Kita juga bisa mengecek sampai dimana armada taksi yang akan menjemput melalui taxi trip tracking dan nama driver taksinya.  Tuuh, gampang kan.


Setelah melakukan order, tak berapa lama armada taksi yang saya pesanpun datang menjemput persis di depan rumah saya.

Si Princess siap masuk taksi
Dengan ramah Pak Anjar (nama sopir taksi) menanyakan nama saya dan tujuan saya. Setelah itu beliau dengan cekatan membantu memasukkan barang-barang bawaan saya ke dalam bagasi.

Melayani penumpang dengan ramah
Keselamatan dan kenyamanan penumpang sangat diutamakan
Tak perlu susah payah gonta-ganti angkot

Cepat, aman dan nyaman
Tak sampai setengah jam, akhirnya saya dan si kecil sampai juga di pool travel yang akan membawa saya ke Purworejo. Alhamdulillah saya tidak terlambat.

Mengenal Aplikasi My Blue Bird

Bergaya di photobooth My Blue Bird
Sebagai perusahaan taksi yang sudah beroperasi selama 40 tahun lebih, Blue Bird Grup terus berupaya melakukan inovasi-inovasi. Salah satunya dengan meluncurkan sebuah Aplikasi Pemesanan Taksi yang dinamakan My Blue Bird. Aplikasi pemesanan taksi secara online ini diluncurkan di berbagai kota di Indonesia termasuk  Semarang. Saya dan teman-teman blogger berkesempatan menghadiri acara pengenalan aplikasi ini di kantor Blue Bird Semarang, pada hari Sabtu (13/02/2016) lalu. Pada acara ini saya dan teman-teman juga menonton film yang menceritakan sejarah lahirnya bisnis taksi Blue Bird. Mutiara Djokosoetono, beliaulah sosok wanita dibalik kesuksesan Blue Bird Group saat ini. Melalui tangan dingin beliau, Blue Bird bisa berkembang dan merajai bisnis transportasi terutama taksi di Indonesia.

Aplikasi My Blue Bird ini diciptakan untuk memudahkan para pelanggan ketika memesan taksi. Kini pelanggan tak perlu menelpon apalagi menunggu taksi lewat di pinggir jalan jika ingin bepergian. Cukup memesan melalui aplikasi My Blue Bird. Nah, begini caranya :
  • Unduh aplikasi My Blue Bird di Google Play atau Playstore. Setelah itu isilah data yang diperlukan.
  • Pilih kota. Ada 6 kota yang saat ini bisa dipilih yaitu Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Bali dan Medan.
  • Masukkan nomor ponsel kita. Setelah itu kita akan mendapatkan kode verifikasi.
  • Masukkan data diri seperti nama, tanggal lahir, alamat dan email.
  • Sudah lengkap? Aplikasi My Blue Bird siap digunakan.

Pengalaman beberapa kali bepergian menggunakan taksi Blue Bird menunjukkan bahwa kita bisa melangkah lebih mudah menggunakan aplikasi My Blue Bird.




Wednesday, 13 April 2016

Belajar Sabar dari Liza P. Arjanto

17:38:00 17 Comments
Dear Friends,
Setelah beberapa waktu yang lalu saya menulis tentang mbak Esti Sulistyawan, kali ini saya akan menulis tentang  mbak Liza P. Arjanto. Sebenarnya mbak Liza, lebih dulu dikenal sebagai penulis daripada blogger. Saya mengenal mbak Liza (di dunia maya) karena karya-karyanya sering dimuat di majalah. Dulu, saya juga belum begitu aktif ngeblog. Saat itu saya masih sering menulis fiksi. Sejak nama mbak Liza sering disebut-sebut oleh penulis lain, saya kemudian mengajaknya berteman di fesbuk. Meski jarang berinteraksi secara langsung, saya sering stalking tulisan-tulisan mbak Liza. Secara tidak langsung Mbak Liza dan teman-temannya yang tergabung di grup Penulis Tangguh menginspirasi saya untuk selalu kreatif dalam menulis, terutama ketika menulis fiksi.


Terus terang, saya kagum pada Ibu berputra 6 ini. Bagaimana tidak? Disela kesibukannya mengurus 6 anak, mbak Liza masih sempat berkarya. Tulisannya kerap dimuat di berbagai media seperti Femina, Gadis, Kompas, Tabloid dan sebagainya. Bahkan belakangan ini beliau menerbitkan sebuah buku Parenting. Tuh, produktif banget kan? Kapan nulisnya, coba? Apa kabar saya yang jumlah anaknya saja cuma separonya mbak Liza, tapi belum mampu membuat satu karyapun?

Melalui tulisannya di blog ataupun tulisan status-statusnya di fesbuk, saya bisa melihat bahwa mbak Liza adalah sosok Ibu yang cukup sabar menghadapi anak-anaknya. Apalagi menghadapi 6 anak dengan karakter yang berbeda-beda. Pantes saja, kalau mbak Liza bisa menghasilkan sebuah buku Parenting tahun lalu.

gambar dipinjam dari FB mbak Liza P. Arjanto
Diam-diam saya bersyukur mbak Liza akhirnya membuat blog. Bukan apa-apa, meski tampilan blognya sederhana tapi didalamnya berisi banyak tulisan yang menginspirasi dan bermanfaat. Terutama kisah-kisah yang berbau parenting. Saya jadi tahu, bagaimana cara mbak Liza menghadapi anak-anaknya yang berbeda karakter. Dari sini saya bisa belajar sabar dari mbak Liza.
Teruslah menginspirasi, mbak Liza.


Sunday, 10 April 2016

Liburan di Rumah, Ngapain Aja?

21:38:00 44 Comments
#Day 14 One Day One Post

Saya dan keluarga termasuk jarang pergi liburan ke luar rumah atau luar kota. Paling-paling kalau liburan ke luar kota ya ke tempat adik atau menengok Bapak di kampung. Intinya liburan di rumah lebih sering saya lakukan daripada liburan ke luar rumah. Hehe. Tapi liburan di rumah juga bisa tetep asyik kok.

Beberapa kegiatan yang biasanya saya lakukan bersama anak-anak dan suami ketika liburan di rumah, misalnya :

Berkebun
Di depan dan samping rumah saya ada tanah kosong yang hanya ditanami pohon pisang. Suami kadang mengajak anak-anak untuk ikut menyiangi rumput dan membersihkan semak belukar yang tumbuh diantara pohon pisang. Setelah selesai, biasanya dilanjutkan membersihkan rumput di halaman. 

Masak Makanan Favorit
Disaat suami dan anak-anak berkebun, saya menyibukkan diri di dapur. Biasanya saya masak makanan yang mereka inginkan. Meskipun kadang hanya menu sederhana tapi karena dimasak dengan penuh cinta, pasti akan habis di lahap mereka.

 
Mencuci Kendaraan
Kegiatan mencuci kendaraan ini mungkin salah satu kegiatan yang mengasyikkan bagi anak-anak. Ada kesempatan mereka bermain dengan air dan sabun. Jadilah dua sepeda motor kami bersih dan kinclong lagi. Selain itu juga lebih hemat karena tak perlu mencucikan motor di tempat cucian motor. 

Menata Rumah
Saya adalah tipe orang yang suka mindah-mindah perabot rumah, supaya tidak bosan. Minggu ini meja makan saya letakkan di sebelah sana, bisa jadi minggu depannya lagi saya letakkan di sebelah sini. Jadi, suasana rumah selalu baru meskipun rumah saya hanya rumah sederhana. 

Olahraga Bersama
Olahraga? Hehe..bukan saya sih, tapi suami dan anak-anak. Dari badan saya juga keliatan ya, kalau saya jarang olahraga. Paling hanya jalan atau lari-lari kecil, tapi jarang banget (perlu dikomporin nih, biar rajin olahraga). Setiap hari Minggu anak kedua saya les renang. Biasanya sih hanya ditemani suami. Tapi kalau anak-anak saya yang lain sedang ingin berenang juga, jadilah kami berlima pergi semua ke kolam renang. Sementara mereka berempat berenang, saya duduk santai sambil fesbukan. 




Mengerjakan Hobi Bersama
Suami dan anak-anak sama-sama memiliki hobi menggambar. Kalau sedang asyik menggambar, dunia serasa milik mereka. Emaknya ngontrak. Haha. Anak saya yang pertama mewarisi bakat melukis dari ayahnya. Lukisannya diatas kanvas sempat dipamerkan di sekolahnya. Di bawah ini contoh hasil lukisan si kakak.




Meski hanya liburan di rumah, tapi dengan kegiatan seperti ini juga tetep asyik lho. Selain hemat, bisa juga menambah kedekatan antara anak dengan orangtua. 

Bagaimana dengan liburanmu di rumah, temans?



Saturday, 9 April 2016

Siapa Anak Perempuan Itu?

23:17:00 20 Comments
#Day 13 One Day One Post

Dear Friends,
Tema odop kali ini menceritakan pengalaman horor atau mengerikan yang pernah dialami. Saya jadi ingat kejadian 12 tahun yang lalu saat saya masih mengajar di Sekolah Dasar. Hingga sekarang masih saja teringat kisah menakutkan itu.

Jadi begini ceritanya.

gambar pinjam dari www.sigambar.com

Baturaden, Juni 2004
Hari pertama di asrama
Mendung bergelayut diatas langit mengiringi langkahku menuju Panti Sosial Petirah Anak di  Baturaden. Selama empat hari kedepan aku akan mengampu murid-muridku untuk petirah menggantikan guru yang bertugas sebelumnya. Entah kenapa, bulu kudukku langsung berdiri ketika memasuki halaman panti. Gedung panti ini masih tergolong baru. Berlatar belakang bukit dengan area yang sangat luas, asrama-asrama di panti ini terlihat seperti villa. Indah sekali. Indah namun seperti menyimpan misteri di dalamnya. Ah, semoga itu hanya perasaanku saja.
Seorang petugas panti mengantarku ke asrama putri yang akan menjadi tempat tinggalku selama empat hari. Di depan pintu asrama, Bu Lastri dan beberapa murid menyambutku. Beliau adalah guru pendamping yang aku gantikan tugasnya.
“Akhirnya datang juga Bu Ita..” kata Bu Lastri.
Setelah berbasa-basi sejenak, Bu Lastri mengantarku ke kamar. Sebuah kamar yang lumayan bagus, dengan tempat tidur yang lebar dan empuk. Di depannya ada sebuah lemari kayu yang cukup besar dan sebuah meja rias. Kamar mandinya pun bersih dan wangi. Mirip kamar hotel.
“Semoga betah disini ya, Bu” ujar Bu Lastri seraya merapikan tas pakaiannya.
“Kamarnya bagus, ya. Tapi ngeri juga kalau harus tidur sendirian di kamar ini. Disini aman kan, Bu”. Aku mulai khawatir.  
Bu Lastri hanya tersenyum mendengar pertanyaanku. Entah apa arti senyumannya itu.
“Aman kok. Banyak petugas yang berjaga disini”, Bu Lastri mencoba menghapus kekhawatiranku.
“Kalau masih takut, minta satu atau dua anak untuk menemani” lanjut Bu Lastri sambil berpamitan.
Aku hanya mengangguk. Dalam hati berharap, semoga tidak terjadi hal-hal yang tak kuinginkan.
Bbrrr. Hawa dingin mulai merasuk ketika matahari telah kembali ke peraduan. Setelah sholat maghrib dan makan malam, kegiatan malam ini adalah menonton film pendidikan di aula. Anak-anak asrama putri sudah berada di aula. Aku mengambil jaket dan bersiap menuju aula menyusul anak-anak.
Tok! Tok! Tok! Terdengar suara ketukan di pintu asrama. Bergegas kubuka. Seorang anak perempuan membawa nampan berisi gelas dan teko tersenyum padaku.
“Bu, ini teh hangat untuk Ibu” ujarnya lirih. Wajahnya cantik, namun sedikit pucat.
“Terima kasih ya, dik. Sebenarnya tadi saya sudah minum teh di ruang makan. Tolong, letakkan saja di meja tamu ya. Saya mau ke aula”.
Anak perempuan itu hanya mengangguk kemudian keluar setelah meletakkan nampannya. Aku hendak menyusulnya setelah menutup pintu. Lho, kemana anak itu. Cepat sekali jalannya. Tadinya aku mau mengajaknya ikut menonton film bersama anak-anak. Ya sudahlah, mungkin anak itu sudah kembali ke dapur.
Aula telah penuh dengan anak-anak, guru pendamping dan pembimbing. Tak henti mereka bersorak dan bertepuk tangan melihat film yang diputar hingga selesai sekitar pukul 21.30. Anak-anak kembali ke asrama dengan pendamping masing-masing. Begitu pula denganku. Aku mengampu dua puluh anak perempuan di asrama putri melati. Asrama putri melati terdiri dari tiga kamar. Satu kamar untuk pendamping dan dua kamar untuk anak-anak panti.
Aku sempat tertegun ketika memasuki asrama. Kemana nampan yang dibawa anak perempuan tadi? Bukankah tadi kusuruh meletakkannya di meja? Apakah tadi sudah diambil lagi? Bukankah kunci asrama aku yang bawa? Kepalaku dipenuhi pertanyaan-pertanyaan. Tiba-tiba bulu kudukku meremang. Malam ini aku minta tiga murid menemaniku.

*****

Hari kedua
Pukul 04.00 aku dikejutkan dengan suara gedoran pintu asrama. Rupanya begini caranya kami dibangunkan. Anak-anak yang sudah terbangun bergegas menuju kamar mandi dan bersiap ke masjid panti untuk sholat shubuh berjamaah. Menggigil rasanya begitu kusiramkan air ke wajah dan leherku. Setelah mengambil wudhu, aku segera menuju masjid panti yang ada di seberang asrama putri. Tiba-tiba semerbak melati menusuk hidungku. Siapa yang pagi-pagi begini memakai parfum? Sekelebat nampak sesosok anak perempuan yang semalam mengantar teh untukku. Ah, nanti saja kutanyakan padanya soal teh semalam yang tiba-tiba menghilang dari meja.
*****
Menjadi guru pendamping bagi anak-anak selama menjalani petirah ternyata tidak semudah yang kubayangkan. Kegiatan yang dilakukan telah terjadwal dan dijalankan dengan penuh disiplin dan tanggung jawab. Sambil istirahat dan menunggu jadwal kegiatan berikutnya, aku duduk di ruang tamu asrama sambil membaca-baca buku.
Baru beberapa lembar membaca, tiba-tiba aku dikejutkan dengan suara TV yang sangat keras. Bukankah hanya ada aku di ruangan ini? Lalu, siapa yang menyalakan TV dengan suara yang begitu keras? Tanpa pikir panjang lagi, aku berlari keluar asrama putri hingga hampir saja menabrak Pak Budi, rekan guru pendamping putra.
“Lho...Bu Ita, kok lari-lari. Kenapa, kok sepertinya ketakutan? “ Pak Budi keheranan.
“Itu Pak. TV di asrama putri tiba-tiba nyala sendiri. Suaranya keras sekali”. Jantungku berdegup kencang. Nafasku tersengal.
“Bu Ita duduk dulu disini”.
Beberapa petugas panti datang menghampiriku. “Kenapa Bu” tanya mereka.
Dengan nafas tersengal kuceritakan kejadian yang baru saja kualami pada mereka. Beberapa dari mereka saling berpandangan. Sepertinya kejadian ini sudah sering terjadi. Salah seorang dari mereka memberiku segelas air untuk menenangkanku.
Pak Budi kembali menghampiriku setelah mengecek asrama putri. “Tidak ada siapa-siapa kok, Bu. TV nya juga tidak nyala”.
“Tapi, tadi TV nya benar-benar nyala sendiri Pak. Suaranya bahkan keras sekali”.
“Ya sudah Bu, mungkin sebaiknya Bu Ita istirahat dulu. Nanti saya minta Mbak Imel untuk menemani Bu Ita” tutur Pak Bandi, petugas panti.
*****
Aku benar-benar tidak menyangka akan mengalami kejadian ini. Aku sedikit tenang ketika Pak Bandi benar-benar memberiku seseorang untuk menemaniku. Seperti yang dijanjikan, Mbak Imel akan menemaniku selama aku mendampingi murid-muridku. Aku sedikit lega.
“Mbak Imel sudah lama bekerja disini? “ tanyaku untuk mencairkan suasana.
“Saya bekerja disini sejak panti ini berdiri, Bu” jawabnya.
Aku jadi ingat anak perempuan yang mengantarkan minuman untukku semalam.
“Tadi malam ada seorang anak perempuan mengantar minuman, katanya teh hangat ke asrama putri. Siapa dia ya? Apakah putri ibu kantin? “.
Mbak Imel mengernyitkan dahi “Anak perempuan yang mana ya, Bu? Disini petugas yang berjaga malam hanya petugas laki-laki”.
“Anaknya tidak terlalu tinggi tapi cantik. Rambutnya sebahu. Tadi pagi waktu saya mau jamaah shubuh saya juga lihat dia” ujarku.
“Tapi ibu kantin juga tidak punya anak perempuan  yang masih kecil. Setahu saya, anak ibu kantin sudah besar dan sudah bekerja di kota” ,Mbak Imel ngotot. “Kalau Ibu tidak percaya, kita bisa menanyakannya langsung pada ibu kantin” lanjutnya.
*****
Aku seperti tidak percaya ketika ibu kantin memberi penjelasan padaku mengenai anak perempuan cantik dengan rambut sebahu.
“Anak-anak perempuan saya sudah besar dan bekerja di kota, Bu. Saya sudah tidak punya anak kecil lagi” . “Lagian, saya juga tidak pernah menyuruh anak-anak untuk mengantar makanan ataupun minuman untuk tamu” lanjut ibu kantin.
Aku hanya terduduk dan termangu. Aku merasa diselimuti ketakutan. Lalu, siapa dia?
Akhirnya rasa penasaranku terjawab sudah. Pak Bandi bercerita, bahwa anak perempuan cantik dengan rambut sebahu itu mungkin adalah Sari. Sari adalah gelandangan yang dibina di dinas sosial ini. Sebelum menjadi panti petirah anak, tempat ini adalah tempat untuk menampung gepeng dan pekerja seks komersial. Sari ditemukan meninggal di penampungan ini. Penyebab kematiannya masih misterius dan tak pernah diusut secara tuntas. Sari dimakamkan dibelakang panti ini.
Dua kejadian yang kualami membuatku memutuskan untuk pulang lebih cepat. Aku benar-benar dicekam ketakutan. Sampai-sampai petugas panti dan murid-muridku yang membereskan pakaianku karena aku tak berani masuk ke asrama. Penyebabku pulang lebih cepat dari jadwal juga dirahasiakan demi menjaga suasana petirah bagi anak-anak tetap kondusif hingga selesai.
Sepuluh tahun telah berlalu, namun kejadian itu masih kuingat hingga kini. Masih kuingat senyum manis Sari dengan suara lirihnya” Ini teh untuk Ibu”.


Follow Me @ikapuspita1