Sebenarnya saya dan suami tak pernah berencana memiliki anak ketiga. Cukuplah dua anak saja, pikir kami. Selain sudah memiliki dua anak, kebetulan kegiatan saya juga cukup padat ketika itu. Selain mengajar, aktif di kegiatan desa, saya juga masih kuliah. Benar-benar sedang sibuk-sibuknya kuliah karena waktu itu masih semester 5 di PG PAUD. Alasan lain adalah karena saya dan suami tinggal terpisah, dan hanya bertemu sebulan dua kali. Jadi akan sangat repot ketika harus mengajar, mengurus anak, mengisi kegiatan desa, dan hamil lagi.
Bulan Desember hingga Januari adalah bulan tersibuk buat saya. Sibuk di sekolah karena bulan Desember adalah waktunya membagi raport dan persiapan libur semester. Sedangkan tugas kuliah sangat menumpuk. Dari membuat film hingga outbond di bukit Tidar. Akibatnya anak-anak jadi lebih sering saya tinggal. Tapi saya bersyukur, di karuniai anak-anak yang mandiri. Mereka sudah tahu, apa yang harus mereka lakukan ketika saya tidak ada.
Akhir bulan Januari, saya tiba di rumah sehabis maghrib dari kampus. Malam itu, saya merasa seperti masuk angin. Mual, kepala pusing...rasanya nggak karuan. Karena jarang mengonsumsi obat, saya minum teh hangat yang dibuatkan si kakak (anak saya yang pertama) dan tertidur sampai keesokan paginya. Saya pikir setelah istirahat, kondisi saya membaik. Ternyata tidak. Kepala masih kliyengan, badan juga masih sakit. Tapi semua itu tak menghentikan aktivitas saya. Saya tetap mengajar dan meneruskan proyek film bersama kelompok saya.
Semakin hari rasanya semakin aneh. Saya yang biasanya pemakan segala, mendadak mual kalau makan nasi. Bakso yang biasanya menu favorit, mendadak jadi musuh. Saya belum curiga kalau saya hamil, karena pengalaman dua kehamilan terdahulu. Saya tidak subur (haid sangat tidak teratur) jadi saya harus mengikuti promil dulu untuk bisa hamil. Makanya tanpa KB saya bisa mengatur jarak antara anak pertama dan kedua yang selisih 6 tahun. Karena itulah saya tidak yakin kalau saya hamil. Apa mungkin saya bisa hamil tanpa di suburkan terlebih dahulu?
Tapi suami yang curiga dengan kondisi saya akhirnya membelikan dua testpack dan memaksa saya untuk test. Daaan....ternyata benar firasatnya. Saya hamil. Saya dan suami terkejut sekaligus heran. Kok saya bisa hamil tanpa disuburkan terlebih dulu, ya. Untuk memastikan kondisi si janin, sayapun pergi ke dokter kandungan. Ternyata setelah di periksa, umur kehamilan saya sudah berjalan 11 minggu. Itu artinya sudah hampir 3 bulan usia kehamilan saya. Dan itu artinya, saya sudah hamil ketika mengikuti kegiatan outbond di bukit Tidar. Pantesan, anak saya juga suka manjat-manjat..hehe.
Selama hamil, saya juga tetap aktif baik mengajar, kuliah dan kegiatan di desa. Saya juga tetap naik sepeda motor kemana-mana. Dan tak lupa saya aplikasikan semua ilmu yang saya dapat dari perkuliahan pada calon bayi saya. Alhamdulillah, meski pola makan berubah (tidak makan nasi) tapi saya dan bayi sehat. Bahkan sehari sebelum melahirkan saya masih ke pasar, memasak untuk keluarga besar dan kegiatan yang lain.
Alhamdulillah, akhirnya anak ketiga saya lahir dengan sehat dan selamat tanggal 25 Agustus 2012 yang lalu.
Kini, dia tumbuh jadi anak yang aktif dan cerdas. Sehat terus, anak-anakku...

Rara, usia 2 bulan

Rara, usia 6 bulan
Rara, usia 2 tahun


Tulisan ini diikutsertakan pada Pregnancy Story Writing Compettion