Berkali-kali sudah anak-anak mengajak Ayahnya jalan-jalan, tapi berkali-kali pula mereka harus kecewa karena waktu si Ayah yang tak ada. Pekerjaan si Ayah di perusahaan pelayaran membuat saya dan anak-anak harus memaklumi bahwa "family time" di keluarga kami hampir-hampir tidak ada. Hal inilah yang menyebabkan saya dan anak-anak merasa ada yang kurang dalam keluarga kami. Bosan, karena tiap hari libur saya dan anak-anak hanya berdiam diri di rumah, menonton televisi, membaca buku atau hanya sekedar bermain saja.

Kurang piknik? Iya..., saya dan anak-anak memang kurang piknik dalam arti sebenarnya. Kadang ada rasa iri ketika melihat keluarga teman-teman yang mengupload foto ketika bergembira bersama di satu tempat wisata. Kadang ada sedih ketika anak-anak bercerita bahwa teman-temannya pergi bersama keluarganya ke tempat wisata, sedangkan mereka hanya di rumah saja *curcol banget ini mah...hehehe. 

Ternyata kondisi ini membuat dampak yang cukup signifikan pada diri anak-anak saya. Mereka terlihat seperti kurang percaya diri. Pernah suatu hari anak  kedua  saya mas Aufa (waktu itu masih kelas 2 SD) pulang sekolah dengan wajah murung. 
"Lho, pulang sekolah kok ditekuk gitu wajahnya? Kenapa?" tanya saya.
"Tadi sama bu Guru di suruh cerita soal piknik sama keluarga. Aku kan belum pernah piknik," tutur Aufa terbata-bata. Wajahnya tampak memerah menahan tangis.
"Lho, dulu kan kamu pernah piknik ke kebun binatang, ke museum dirgantara, ke taman pintar. Kenapa nggak cerita yang itu aja,"kata saya.
"Tapi kan itu piknik sama bu Guru, bukan pergi sama Ayah, Bunda, Kakak, Rara," mas Aufa ngotot.
Deg. Saya pun terdiam.
Lain lagi ceritanya pada kak Fina (anak pertama saya). Usianya yang menginjak remaja membuatnya lebih sering protes pada si Ayah.
"Bun, memangnya Ayah itu nggak bisa ya libur sehariii..ii aja buat pergi-pergi sama kita?"protesnya.
"Belum bisa, kak. Nanti kalau sudah longgar jadwalnya, pasti juga Ayah akan ajak kalian jalan-jalan," ujar saya.
"Ayahnya temanku aja bisa libur. Kemarin temanku diajak ke Umbul Sidomukti (tempat wisata di daerah Bandungan, Kab. Semarang). Kalau ditanya teman-temanku pernah diajak pergi kemana, aku nggak bisa jawab jadinya," kak Fina merengut.
Saya hanya bisa menghela nafas. Mulai mikir. Jangan-jangan saya juga butuh piknik, nih. Hehe..
Ternyata segitu besarnya ya pengaruh "family time" buat anak-anak. Sediiih...benar rasanya. Memang benar sih, piknik tak perlu jauh-jauh sampai ke ujung dunia, tapi bukan piknik namanya kalau tidak pergi kemana-mana *apa pula ini...;))

Kejadian itu saya ceritakan pada si Ayah, dengan harapan beliau bisa menyediakan waktu barang sehari dua hari untuk mengajak anak-anak pergi. Dan seperti biasa, permintaan saya itu dijawab dengan janji. Ya sudah lah....saya dan anak-anak berharap janji itu bisa segera ditepati. 

Saya dan anak-anak hampir tak percaya ketika tiba-tiba si Ayah menelpon dan meminta saya bersiap-siap. Padahal beberapa hari yang lalu si Ayah bilang kalau belum ada waktu mengajak anak-anak pergi. Beliau mengabari kalau ada rekan kerjanya dari luar Jawa yang ingin sekali pergi ke pantai di daerah Gunung Kidul. Karena rekan si Ayah hanya sendiri, beliau mengajak kami turut serta. Yeaah...meski nebeng tapi saya dan anak-anak cukup senang karena akhirnya kami bisa PIKNIK juga. Mereka lebih excited lagi setelah tahu bahwa tujuan pikniknya adalah ke pantai.

Perjalanan dari Semarang ke Gunung Kidul memakan waktu yang cukup lama, sekitar 5 jam bila jalanan lancar. Alhamdulillah, perjalanan kami cukup lancar meskipun hari itu adalah hari libur. Deretan pantai dari ujung barat hingga timur membuat kami sedikit bingung untuk memilih. Mulai dari pantai Baron, Kukup, Sepanjang, Drini, Krakal, Sadranan hingga Indrayanti. Setelah beberapa kali masuk ke pantai-pantai tadi, akhirnya kami memilih pantai Indrayanti. Suasananya cukup ramai. Para wisatawan (kebanyakan lokal) nampak asyik bermain air. Namun banyak juga yang hanya duduk-duduk di pinggir pantai seraya menikmati es kelapa muda dan memandang deburan ombak dari kejauhan. Di sepanjang pinggiran pantai Indrayanti, banyak cafe yang meyediakan berbagai minuman  dan hidangan laut. Tinggal pilih saja, apa yang disuka.

kurang-piknik-ke-laut-aja
dok.pri  Pantai Indrayanti, Wonosari, Gunung Kidul
Saya dan anak-anak senang, meski hanya melihat-lihat dan duduk-duduk di atas pasir putih. Pemandangan di sekitar pantai sangat indah. Karang-karang yang berdiri kokoh di pinggiran pantai serta bukit-bukit hijau di seberangnya membuat saya merasa refresh. Pun dengan anak-anak. Terlihat dari senyum mereka yang mengembang dan wajah mereka yang cerah. Ah...seandainya saja bisa sering-sering piknik seperti ini.

kurang-piknik-ke-laut-aja
dok.pri  Mas Aufa menangkap kepompong

kurang-piknik-ke-laut-aja
dok.pri Kak Fina mengumpulkan kerang
kurang-piknik-ke-laut-aja
dok.pri  Memandang ombak di kejauhan
Anak-anak cukup antusias piknik ke pantai Indrayanti, meski tak seheboh orang-orang yang basah-basahan bermain air. Meski hanya menangkap kepompong, mengumpulkan kulit kerang yang berserakan dan mengulik bulu babi sudah membuat mereka senang. 
Enaknya piknik ke pantai Indrayanti ini adalah ketika perut mulai keroncongan, kita bisa memilih cafe atau warung makan yang berjajar dengan berjalan beberapa langkah saja dari bibir pantai. Asyik, kan. Beberapa lapak juga menyediakan udang goreng, ikan goreng dengan beragam jenis sampai rempeyek undur-undur. Sayangnya nggak sempat foto-foto. 
Puas bermain di pantai dan makan, tak terasa waktu sudah sore dan kamipun bersiap untuk pulang. Perjalanan yang memakan waktu cukup lama membuat kami harus bergegas kalau tak ingin kemalaman. Rasa lelah pun hilang seketika begitu melihat wajah anak-anak yang ceria. Mereka pun kembali meminta si Ayah untuk mengajak piknik ke tempat wisata lainnya suatu hari. 

Mendengar permintaan anak-anak, saya jadi ingat kalau pernah berjanji mengajak mereka ke Bogor. Kebetulan tante saya dan keluarganya sudah bertahun-tahun tinggal disana, tepatnya di daerah Cilebut. Saya sendiri pernah tinggal dan bekerja di daerah Leuwiliang selama hampir satu tahun. Rasanya pas sekali kalau saya mengajak anak-anak untuk liburan di Bogor  akhir tahun nanti. Selain menengok saudara, saya bisa sekalian mengajak anak-anak ke Kebun Raya Bogor, Taman Safari atau museum. Selain Zoologi, ternyata Bogor juga memiliki museum Herbarium, museum Perjuangan dan museum PETA, lho. Sambil liburan, tentunya anak-anak juga bisa belajar disana. Rasanya saya harus mengeluarkan jurus rayuan pulau kelapa, agar si Ayah mengambil cuti agak lama. Jadi bisa kembali jalan-jalan dan piknik lagi, deh. 
PIKNIK itu PENTING, lho. Inga'! Inga'!

Tulisan ini diikutsertakan dalam 
"Lomba Blog Piknik itu Penting"