Petak Umpet/ Hide and Seek
Dear Friends,
Petak umpet, permainan yang tak lekang oleh waktu. Kalau diminta mengingat permainan apa yang sering dilakukan ketika masih kecil, saya pasti menjawab semuanya pernah saya mainkan. Mulai dari Betengan, Boi-boian, Lompatan, Setinan (main gundu), Plinthengan (main ketapel), Jithungan (petak umpet/ hide and seek), Patil Lele, Jamuran, Sudamanda, Bekel sampai panjat pohon pernah saya mainkan. Dulu memang saya termasuk anak yang super sibuk (sibuk main). Teman main saya banyak, baik laki-laki maupun perempuan. Makanya pengalaman main saya juga banyak. Saya dan teman-teman main biasa bermain sepulang sekolah atau sore hari sebelum mengaji. Biasanya ada kesepakatan yang dibuat tentang permainan apa yang akan dimainkan. Permainan yang paling banyak dipilih, itulah yang akan dimainkan.

Saya sendiri paling suka dengan permainan petak umpet, hide and seek dalam bahasa Inggris atau Jithungan  dalam bahasa Jawa. Ada dua versi permainan Jithungan yang sering saya dan teman-teman mainkan. Versi perorangan (individu) dan versi kelompok. Kalau versi perorangan, tempat untuk bersembunyi tidak boleh terlalu jauh dari tempat pangkalan karena yang berjaga di pangkalan hanya satu orang. Tapi kalau versi kelompok, kami boleh bersembunyi di tempat yang jauh sekalipun karena yang akan mencari kelompok yang bersembunyi dan menjaga pangkalan lebih dari satu orang. Ini yang paling saya suka, karena biasanya saya mampir ke rumah untuk makan dan minum dulu. Hehe..curang, ya.
Sstt...jangan berisik, nanti ketahuan
Saat saya kecil, sekitar akhir tahun 80an listrik baru masuk desa. Saking senangnya, saya dan teman-teman bisa bermain juga di malam hari tanpa takut. Apalagi saat bulan purnama, malam haripun terang benderang. Malam Minggu adalah hari yang ditunggu-tunggu oleh saya dan teman-teman. Pasalnya hanya di malam Minggu lah, kami bebas bermain hingga malam. Saya dan teman-teman berkumpul di halaman rumah teman yang cukup luas selepas Isya. Kami berencana untuk bermain Jithungan. Jadilah kami dibagi menjadi dua kelompok. Masing-masing ketua kelompok (biasanya anak yang paling besar) melakukan suit dan siapa yang kalah akan mencari tempat persembuyian kelompok yang menang. Tetapi kalau kelompok yang menang bisa menyelinap dan berhasil memegang tempat pangkalan artinya kelompok itu bisa bersembunyi lagi. Dalam permainan ini, masing-masing kelompok juga mengatur strategi. Kelompok yang kalah, tentu membuat strategi bagaimana caranya menemukan tempat persembunyian kelompok yang menang. Begitupun sebaliknya, kelompok yang menang juga mengatur strategi agar tempat persembunyian kelompoknya tidak mudah ditemukan. Biasanya ketua kelompok akan menyembunyikan anggota kelompok yang kecil dan memilih beberapa orang untuk berpencar dan menyelinap agar bisa menyentuh pangkalan dan berteriak "Jithung". Kalau sudah ada yang berteriak Jithung, artinya kelompok tersebut menang lagi dan boleh bersembunyi lagi. Seru kan, permainannya.

Ada satu pengalaman unik dan tak akan pernah saya lupakan seumur hidup karena bermain petak umpet (Jithungan) ini. Sebagai anak yang masih tergolong kecil dibanding yang lain, saya dan dua teman lain selalu menjadi anggota yang disembunyikan agar tak tertangkap kelompok yang kalah. Kami pasrah saja ketika ketua kelompok menyembunyikan kami di sebuah lesung (tempat untuk menumbuk padi) yang ada di belakang rumah warga. Tempat untuk menumbuk padi itu memang terbilang aman untuk bersembunyi bagi anak-anak kecil seperti kami. Saya dan dua orang teman saya meringkuk di dalam lesungnya. Tapi..saking amannya, lama-lama kami bertiga sampai bosan dan mulai mengantuk karena tak kunjung ditemukan. Kami juga tak kunjung dijemput oleh kelompok kami yang lain. Akhirnya kami ketiduran dan terbangun ketika hari sudah gelap, itupun karena si embah pemilik lesung yang secara tak sengaja menemukan kami tertidur di dalam lesungnya. Akhirnya kami pulang ke rumah masing-masing dan disambut dengan omelan Ibu. Keesokan harinya kami bertiga protes pada ketua kelompok yang melupakan kami. Dengan entengnya si ketua bilang "Ngapurane yo, nyong lali nek siro melu jithungan (maaf ya, aku lupa kalau kamu ikut main petak umpet)." Huhh, enak saja. Meski begitu permainan masih selalu kami mainkan bahkan hingga kami remaja.

Permainan masa kecil sebenarnya memiliki banyak filosofi dan manfaat, yang bisa diterapkan dalam kehidupan. Diantaranya :
  • Melatih fisik motorik, permainan masa kecil (permainan tradisional) biasanya berhubungan dengan fisik, misalnya berlari, melompat, meloncat, memanjat hingga melempar. Coba bandingkan, kekuatan fisik motorik anak-anak jaman dulu dan sekarang. Beda, kan?
  • Melatih kecerdasan, permainan masa kecil kadang melibatkan aspek kognitif seperti mengatur strategi dan memecahkan masalah (problem solving).
  • Mendidik pribadi menjadi mandiri.
  • Mengembangkan sosial emosional, misalnya ketika harus bekerja sama dengan teman sepermainan, ringan tangan ketika teman yang lain membutuhkan bantuan, bersikap sabar ketika menunggu giliran main, dan sebagainya. 
Ternyata banyak juga manfaat permainan masa kecil atau permainan tradisional, ya. Semoga permainan masa kecil seperti ini tidak hilang tergerus modernisasi. Permainan petak umpet, permainan yang tak lekang oleh waktu.

"Tulisan ini diikutkan dalam Giveaway Permainan Masa Kecil yang diselenggarakan oleh Mama Calvin dan Bunda Salfa"