Dear Friends,
Tak ada alasan untuk malu bertanya. Pernah nggak sih, punya pengalaman yang memalukan sekaligus merugikan hanya karena malu bertanya? Saya sering banget. Tapi entah kenapa, saya masih saja merasa malu, takut, sok tahu dan gengsi untuk bertanya. Saya takut, orang yang saya tanyai tidak suka bila saya tanya. Saya gengsi kalau orang yang saya tanyai menganggap saya bodoh. Saya malu kalau orang yang saya tanyai tidak menjawab pertanyaan saya. Ternyata sebegitu parno nya saya, ya.  Ah, entahlah. Padahal gara-gara sifat ini saya berkali-kali dirundung kerugian.

credit. liporlara.blogspot.com

Pengalaman pertama karena malu bertanya, nilai jeblok

Saat masih duduk di bangku sekolah, saya paling tidak suka dengan pelajaran Fisika. Menurut saya, pelajaran paling susah itu ya Fisika. Dijelaskan seperti apapun saya tetap saja nggak ngerti. Kalau Guru bertanya, apakah ada yang kurang mengerti pada penjelasannya, saya malah tak pernah bertanya sedikitpun. Padahal, saya sama sekali tidak paham pada apa yang telah disampaikan. Akibatnya bisa ditebak, nilai Fisika saya selalu jeblok. Nilai yang saya dapat nggak pernah melebihi 6, bahkan lebih sering dibawahnya. Itupun karena mungkin Guru Fisika kasihan pada saya *duh, maluunya. Padahal kalau saya mau bertanya pasti Guru juga mau menjelaskan sampai saya bisa.

Pengalaman kedua karena malu bertanya, salah masuk kelas

Pengalaman ini terjadi sekitar tujuh tahun yang lalu, saat saya mendaftar kuliah S1. Ketika melakukan pendaftaran, saya diminta untuk mengisi formulir pendaftaran sendiri di komputer. Waktu itu saya belum terlalu mahir mengoperasikan komputer, apalagi dengan format isian yang ribet bin njlimet seperti itu. Meski bingung saya gengsi untuk bertanya pada petugas. Dengan percaya diri saya isi semua data. Kesalahan saya terlihat ketika nama saya tak pernah tercantum di absen mahasiswa paralel. Nilai-nilai tugas dan ujian juga tak pernah saya terima. Karena takut, saya melapor ke bagian pengajaran fakultas. Setelah ditelusuri, ternyata kesalahan itu ada pada saya. Karena saya bekerja, harusnya saya memilih masuk  di kelas paralel bukan kelas reguler. Kalau paralel hanya kuliah di akhir pekan saja, sedangkan kelas reguler harus masuk setiap hari. Rupanya pada kolom pilihan pendaftaran yang seharusnya diisi dengan kelas paralel tidak saya isi, sehingga secara otomatis saya masuk pada kelas reguler. Parah kan?

Pengalaman ketiga karena malu bertanya, uang belanja kurang

Menurut saya inilah peristiwa paling memalukan karena malu bertanya. Kejadian ini baru terjadi beberapa waktu yang lalu, saat saya belanja kebutuhan harian di minimarket. Seperti biasa, saya langsung mengambil barang-barang seperti sabun mandi, deterjen, shampo hingga minyak goreng. Biasanya setiap hari tertentu di minimarket tersebut ada promo minyak goreng ukuran 2 liter murah. Langsung saja saya ambil 2 pouch minyak. Mumpung promo, pikir saya. Setelah dihitung di kasir, jumlah yang harus saya bayarkan melebihi jumlah uang yang saya bawa. Ternyata promo untuk minyak goreng hanya berlaku di akhir pekan saja. Akhirnya belanjaan harus ditinggal dulu sementara saya mengambil uang. Ah, andai saja tadi saya tanya pada SPG dulu, pasti tak akan semalu ini.

Sebenarnya masih banyak pengalaman tak menyenangkan gegara malu bertanya ini. Sampai-sampai suami menegur, kenapa saya tidak belajar dari pengalaman. Berkali-kali melakukan kesalahan hanya karena malu dan malas bertanya.
"Makanya Bunda, kalau nggak tahu itu tanya. Nggak ada salahnya bertanya sama orang. Yang penting bertanya dengan santun, pasti yang ditanya juga menjawab dengan santun juga," kata suami dengan nada sedikit kesal. "Masak kalah sama anak-anak," lanjutnya.
Betul juga ya apa yang dikatakan suami saya. Nggak ada salahnya untuk bertanya. Nggak ada juga alasan untuk malu bertanya. Mungkin ada baiknya juga saya belajar bertanya dari anak-anak. Anak-anak tak pernah malu untuk bertanya. Ada saja yang selalu mereka tanyakan.
Mengapa begini, mengapa begitu?
Kok bisa begini, kok bisa begitu?
Ini namanya apa, itu namanya apa?
Ditambah lagi dengan rasa ingin tahunya yang tinggi, anak-anak tak akan berhenti bertanya hingga mendapatkan jawaban. Sebagai orangtua, tentu harus bisa menjadi sumber informasi bagi anak-anak kita, kan.

Seperti halnya yang dilakukan oleh BNI. Baru-baru ini BNI menyediakan fitur #AskBNI sebagai wadah bagi para nasabah untuk bertanya tentang apapun yang memungkinkan kita mendapatkan informasi yang tepat dan lengkap tentang BNI. Langkah ini merupakan realisasi terhadap kebutuhan nasabah akan informasi dan layanan BNI dengan cepat, tepat dan akurat melalui twitter.

foto credit. Peluncuran BNI Twitter Hashtag
dok.pri follow @BNI46
Untuk menggunakan BNI twitter hashtag ini cukup mudah. Pertama kita harus memiliki akun twitter dan menjadi follower dari @BNI46dan menuliskan pertanyaan dengan hashtag #AskBNI melalui Direct Message (DM). Nanti kita akan mendapatkan informasi tentang cara menggunakan fitur #AskBNI. Selain itu kita juga bisa mendapatkan berbagai informasi seperti informasi tentang produk dan layanan BNI, Taplus, Debit Card, Taplus Muda, Chelsea FC Payment Cards hingga informasi promo travel, hotel dan restoran.

credit. Cara menggunakan twitter hashtag #AskBNI
Dengan hadirnya fitur #AskBNI ini tentunya para nasabah semakin terbantu terutama ketika membutuhkan informasi yang lengkap dan akurat tentang berbagai layanan BNI. Apalagi layanan #AskBNI ini juga fast respon, sehingga nasabah tak perlu menunggu lama untuk mendapatkan jawaban dan mengambil keputusan. Selain itu mudahnya fitur #AskBNI ini juga mengajarkan kita untuk tidak malu-malu lagi bertanya. Karena tak malu, kita jadi tahu. Jangan lupa, budayakan bertanya dengan santun.

Jadi, tak ada alasan untuk malu bertanya, kan?