#Day 3 One Day One Post

Dear Friends,
Saya terlahir dari keluarga besar (bukan badannya yang besar, loh), baik dari pihak Ibu maupun Bapak. Ibu adalah anak ke 2 dari 8 bersaudara, sedangkan Bapak anak bungsu dari 3 bersaudara. Saya sendiri adalah sulung dari 5 bersaudara. Adik saya yang kedua meninggal ketika masih kecil, jadi kami tinggal berempat. Saya , Jefrri, Arinta (blogger juga loh) dan si bungsu Elia (Opik). Saudara sepupu saya banyak dan tersebar dari Jawa Barat, Jawa Timur sampai ke Lombok. Meski tinggal berpencar tapi tiap Lebaran atau ada acara keluarga, semuanya selalu berkumpul di rumah Purworejo. Maklum lah rumah kami di Purworejo adalah rumah pusaka, rumah peninggalan Eyang kami. Meski tinggal berpencar tapi kami merasa selalu dekat karena komunikasi tak pernah putus. Kebetulan ada keluarga besar kami yang berinisiatif membuat grup BBM, jadi setiap hari bisa saling bertegur sapa entah itu hanya berkirim gambar masakan, berbagi resep, saling mendoakan ketika ada yang ulang tahun atau hanya sekedar mengobrol ringan.

Ini belum semuanya ngumpul, loh
Keluarga besar kami juga seolah ada ikatan batin yang kuat. Meski sepupu-sepupu jarang bertemu, tapi begitu berkumpul tak ada rasa canggung satu sama lain. Pun ketika kami saling berkunjung, dekapan dan rengkuhan hangat yang akan diberikan. Selalu saja ada keseruan setiap kami berkumpul bersama. Entah itu jalan-jalan ke tempat wisata atau hanya jalan-jalan di sekitar kampung. 
Yang paling seneng sih ketika kami semua berbagi oleh-oleh khas daerah masing-masing. Yang dari Madura biasanya membawa rengginang lorjuk, keripik singkong, kerupuk udang dan ikan kering. Yang dari Cirebon membawa terasi, kerupuk udang, sumpia dan kerupuk melarat. Yang dari Bogor membawa roti unyil dan lapis Sangkuriang yang tersohor itu. Saya sendiri kadang *kadang membawa tahu bakso atau moci wijen.

Jalan-jalan di sawah sekitar kampung, Lebaran tahun 2011
Pantai Glagah, Lebaran tahun 2010
Saya, Jeffri, Bapak, Arinta & Opik
Meski keluarga besar hanya bertemu setahun sekali, tapi keluarga inti saya berusaha meluangkan waktu untuk bertemu. Setelah saya menikah dan kemudian dua adik saya yang lain susul menyusul menikah, intensitas pertemuan kami mulai berkurang. Kadang bisa berbulan-bulan tak bertemu, karena kesibukan kami masing-masing. Tapi kalau sedang ada waktu saya dan adik-adik janjian untuk berkumpul di rumah Bapak di Purworejo. Seperti Minggu (27/03/16) kemarin, saya dan anak-anak memberi kejutan pada Bapak dan adik-adik. Kebetulan saat itu, 3 adik saya juga sedang pulang di rumah Bapak. Mereka tak ada yang tahu kalau saya, suami dan anak-anak akan datang. Jadilah hari itu penuh kejutan dan hati kami dipenuhi bunga-bunga bahagia.

Seru-seruan berempat
Sedih itu kemudian muncul ketika kami harus meninggalkan Bapak sendiri. Apalagi sejak Opik kuliah di Solo, Bapak benar-benar sendiri. Makanya untuk menghibur Bapak, kadang saya atau adik-adik bergantian menelpon Bapak setiap hari agar Bapak tak merasa sepi. Meski didera sepi saya yakin Bapak bahagia karena saya dan adik-adik selalu saling menyayangi dan menjaga. Jangan khawatir Pak, kami akan selalu saling menjaga dan menyayangi seperti pesanmu.