#Day 4 One Day One Post
Dear Friends, 
Kalau ditanya tentang masa kecil saya, sudah pasti saya jawab seru banget. Bisa dibilang saya kecil adalah anak yang super aktif. Main kesana kemari bersama beberapa teman laki-laki. Mandi di sungai, main ketapel, memanjat pohon, main layangan sudah menjadi makanan sehari-hari. Jangan ditanya berapa kali sehari pantat saya kena cubit atau telinga yang kena jewer akibat kelakuan saya. Sudah dilarang main dan mandi di sungai, tetap saja ngeyel. Diam-diam saat Ibu lengah saya menyelinap pergi ke sungai dimana teman-teman saya sudah menunggu. Dulu, sungai itu masih cukup lebar dan dalam. Makanya kami senang karena bisa melompat dari tebing dan menyelam hingga dasar sungainya. Biasanya setelah ketahuan mandi di sungai, Ibu akan memandikan saya menggunakan daun randu yang diremas dengan sabun. Badan saya dari ujung kepala sampai ujung kaki di gosok sampai licin. Dalam hati saya menggerutu, cara Ibu memandikan saya seperti memandikan kerbau. Haha..
Senangnya mandi di sungai
Teman sepermainan saya memang kebanyakan laki-laki. Sholat di masjid juga di tempat laki-laki. Bahkan sampai kelas 2 SD saya masih sholat pakai sarung lho. Haha. Mungkin orangtua saya dulu berharap kalau anak pertamanya laki-laki, maka baju-baju saya kebanyakan model baju anak laki-laki. Saya lebih suka pakai celana pendek dan kaos daripada rok. 
Kenakalan saya saat kecil membuahkan beberapa tanda yang membekas hingga sekarang di badan saya. Suatu hari saya sedang asyik membonceng tetangga yang bersepeda dengan menghadap ke belakang. Waktu itu tangan kanan saya memegang pisau dapur yang sering saya bawa ketika bermain. Karena menghadap ke belakang, saya tak menyadari kalau kaki saya tersangkut di pagar . Akibatnya saya terjatuh terjembab dengan pisau yang merobek bibir dan menancap di pipi kanan saya. Pisau itu menancap seperti lidi yang disematkan di bungkusan lontong. Ya..persis seperti itu. Akibatnya bibir dan pipi kanan saya mendapat 9 jahitan yang membekas hingga kini. Saya ingat dulu Ibu sampai takut karena pipi saya cacat. Mungkin takut karena saya perempuan. Ibu takut nggak ada laki-laki yang mau sama saya. Padahal ketakutan Ibu itu terlalu berlebihan. Nyatanya banyak juga kok, laki-laki yang suka pada saya *over pede.  LOL. 
Belum lagi jahitan di pipi kanan saya kering, saya sudah berulah lagi. Memanjat pohon melinjo sore-sore. Saya tidak tahu kalau pohon melinjo itu "getas" atau mudah patah ketika sore hari. Bisa ditebak, saya langsung jatuh dari pohon melinjo setinggi 3 meteran. Dahan yang saya pegang dan saya jadikan pijakan patah. Untunglah dibawah pohon melinjo ada tumbuhan teh-tehan yang cukup perdu. Tubuh kecil saya mendarat disana. Adik saya Jefrri waktu itu baru berumur 3 tahun hanya memandang saya yang meringis kesakitan. Herannya meskipun kesakitan karena jatuh, saya masih sempat membersihkan dahan-dahan yang patah karena takut dimarahi Mbah. Pohon melinjo yang saya panjat adalah milik Mbah (ibu dari Bapak). Rasa sakit itu makin menjadi ketika saya hendak mandi. Tangan kiri saya tidak bisa diangkat saat melepaskan baju. Kontan Ibu saya curiga, lalu mencecar saya dengan pertanyaan bertubi-tubi. Akhirnya saya mengaku kalau habis jatuh dari pohon. Herannya saya tidak menangis meskipun sakit sekali rasanya waktu itu. Malamnya saya dibawa ke tukang urut. Tangan kiri saya patah. Makanya tangan kiri saya agak bengkok sekarang. Sepulang dari tukang urut, Ibu menyuruh saya bercermin. 
"Kae ngoco! Jal, deloken. Pipimu diperban, tanganmu digendong. Siro kuwe cah lanang po cah wedok, kok polahmu ra ketulungan" .
Tuh liat, pipimu di perban, tanganmu digendong. Kamu itu anak laki-laki atau anak perempuan. Ulahmu kok nggak ketulungan".
Setelah peristiwa itu, kenakalan saya mulai berkurang. Saya mulai mau memakai rok, meski masih sering memakai celana. Masih memanjat pohon meski tak sesering dan setinggi dulu. Sampai sekarang kenangan itu masih melekat kuat di hati dan benak saya. Selamanya akan jadi kenangan yang penuh warna bagi saya.