Dear Friends,

Saya dan keluarga termasuk jarang banget melakukan liburan. Rasanya iri tiap ada teman-teman memosting foto-foto liburan keluarga mereka di sosmed. Pengen deh, kayak mereka yang bisa liburan kapan saja. Rencana untuk liburan sih sering, tapi rencana tinggallah rencana. Adaa saja yang membuat rencana liburan keluarga kami gagal. Semua ini karena kesibukan suami yang luar biasa. Bahkan saat weekend pun kadang beliau tetap bekerja. Padahal harusnya saat libur itulah waktu untuk keluarga.

Pekerjaan suami memang menuntut beliau harus siap setiap saat. Kalaupun ada waktu libur, suami memilih istirahat untuk memulihkan staminanya. Sering juga suami bisa libur agak panjang tapi waktunya nggak pas dengan waktu libur anak-anak. Atau kalau pas suami dan anak-anak bisa, eh pas kantong lagi bokek. Kalau kayak gini, nyebelin kan.

Pernah juga kami menyusun rencana untuk pergi ke pantai di daerah Gunung Kidul. Rencananya kami akan pergi bersama-sama dengan keluarga adik saya dan menginap di sana. Persiapan sudah cukup matang, keperluan selama liburan juga sudah dipersiapkan. Ibaratnya sudah tinggal berangkat saja, tetapi akhirnya batal karena suami ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan. Rencana tinggallah rencana. Kecewa? Tentu saja. Liburan ke pantai yang sudah diidam-idamkan akhirnya batal.
Setelah berkali-kali batal liburan, akhirnya beberapa waktu yang lalu suami mengajak kami pergi. "Mumpung ada waktu," ujar suami saya. Anak-anak termasuk saya langsung bersemangat begitu mendengar kata liburan. Tetapi sempat dilema juga, karena hari itu mas Aufa (anak kedua saya) demam. Suhu badannya cukup tinggi akibat kehujanan saat pulang sekolah. Khawatir terjadi apa-apa, Aufa langsung saya beri paracetamol untuk meredakan demamnya. Sempat terpikir untuk membatalkan rencana kami tapi rasanya tak tega kalau harus berkali-kali urung liburan.
Tempra, harus selalu ada di kotak  P3K
Akhirnya kami berangkat juga, hanya saja ada perubahan destinasi wisata. "Kita ke Masjid Agung Demak saja, ya. Besok kalau mas Aufa sehat, nggak demam lagi, kita bisa pergi pantai," kata suami. Kami sepakat untuk pergi ke tempat wisata yang tidak terlalu jauh mengingat kondisi Aufa yang masih demam. Sebenarnya saya agak  khawatir, karena takut anak-anak tidak menikmati saat liburan mereka. 

Untunglah saya selalu menyediakan Tempra di rumah. Dari anak pertama hingga ketiga, saya selalu percaya bahwa tempra cepat menurunkan demam pada anak. Tempra ini mengandung paracetamol dan  bekerja langsung di pusat panas, jadi langsung terasa efeknya. Selain diberi obat, saya juga memberikan  air putih dan buah-buahan untuk membantu pemulihan Aufa. Tidak lupa, selalu cek suhu tubuhnya agar  tahu sampai dimana paracetamol bekerja. Tempra ini juga tidak mengandung alkohol jadi saya yakin kalau obat ini sangat aman untuk anak. Nggak cuma meredakan demam saja, Tempra ini juga mampu meredakan rasa sakit dan nyeri, sakit kepala, sakit gigi hingga demam setelah imunisasi. Tentunya dengan petunjuk dokter, ya. 

Aufa masih demam, di depan Masjid Agung Demak

Akhirnya bisa liburan juga
Meski demam dan pucat, Aufa tetap semangat
Beberapa benda peninggalan sejarah
Al-Qur'an kuno tulisan tangan
Meski hanya mengunjungi satu destinasi wisata, liburan hari itu terasa bermakna. Karena selain berlibur, pengetahuan anak-anak tentang sejarah Islam makin bertambah. Kekhawatiran saya akan kondisi Aufa pupus begitu melihat keceriaan mereka selama berada di lokasi Masjid Agung Demak. Bersyukur sekali bahwa pada hari itu anak-anak  menikmati suasana liburan dengan ceria, meski hanya sebentar saja.

Catatan penting buat para orangtua, jangan pernah sepelekan demam pada anak karena apabila tidak segera ditangani bisa berbahaya.