Dear friends,

Merawat anak-anak dengan tangan sendiri memang sangat melelahkan, apalagi kalau memiliki lebih dari satu anak. Kebayang lelahnya sungguh luar biasa, bukan hanya fisik semata, tapi juga pikiran dan perasaan. Terlebih ketika ada anak yang sedang butuh perhatian lebih, misalnya ketika sakit. Rasanya ingin sekali kita menggantikannya. Namun, rasa lelah itu sekejap terbayar kala melihat senyum anak-anak merekah, nggak?

Pengalaman Kekurangan Zat Besi

Seorang Ibu, pasti akan selalu memberikan yang terbaik bagi anak-anaknya. Begitu pun saya. Asupan gizi dan nutrisi selalu saya perhatikan untuk menunjang tumbuh kembang mereka. Meski begitu, kadang ada saja yang terlewat dan membuat saya kecolongan. Apa yang saya berikan ternyata belum cukup untuk memenuhi kebutuhan gizi dan nutrisinya.  

Seperti kejadian yang belum lama ini menimpa anak kedua saya. Dia yang biasanya selalu aktif dan sehat tiba-tiba saja lemas tak berdaya ketika beraktivitas di sekolahnya. Takut terjadi hal-hal yang tak diinginkan, saya dan suami membawanya ke IGD. Saya dan suami sempat khawatir akan kondisinya karena waktu itu sedang banyak kasus demam berdarah. Tapi, kami harus bersabar menunggu hasil laboratorium untuk mendapat kepastian, apa sebenarnya yang terjadi pada anak saya.

Selang sehari kemudian, hasil laboratorium diberikan. Hasilnya diluar dugaan karena ternyata anak saya tidak sakit demam berdarah tetapi kekurangan zat besi dan kalium. Alhasil anak saya terkena Anemia. Saya kaget, dong.

Tak pernah terbersit sedikitpun bahwa anak saya akan terkena Anemia. Saya pikir, saya telah memberikan semua gizi dan nutrisi yang anak saya butuhkan. Saya pikir, saya telah memberikan semua yang terbaik untuknya. Nyatanya, saya kecolongan. Betapa "kudet" nya saya karena tak tahu bahwa Anemia bisa menimpa siapa saja, mulai dari usia bayi hingga dewasa.

Setelah hampir seminggu dirawat di rumah sakit, akhirnya anak saya diperbolehkan pulang. Dokter yang merawatnya berpesan agar saya lebih memperhatikan asupan makanan dan minumannya. Tentu saja harus cukup juga gizi dan nutrisinya. Tak lupa Dokter meresepkan suplemen zat besi untuk anak saya yaitu Maltofer. Dokter meresepkan Maltofer karena dari pengalaman sebelumnya anak saya selalu mual ketika mengonsumsi suplemen zat besi biasa. Ternyata ketika mengonsumsi Maltofer anak saya langsung suka karena rasanya tidak seperti suplemen zat besi biasanya. Alhamdulillah.


Pengalaman inilah yang membuat saya hadir di acara Maltofer Woman Community Yogyakarta pada  hari Sabtu tanggal 30 Maret 2019 lalu. Acara keren yang diprakarsai oleh Maltofer ini dihadiri oleh  sekitar 70 perempuan dari berbagai komunitas seperti Eping dan Blogger.

Maltofer Woman Community Yogyakarta

Maltofer Woman Community Yogyakarta ini menghadirkan narasumber yang expert di bidang tumbuh kembang dan kesehatan anak yaitu dr. Ristantio Soekarno, SPA, yang akan membahas tentang Pentingnya Zat Besi pada 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Tema ini diambil sebagai bentuk kepedulian Combiphar terutama Maltofer terhadap tumbuh kembang anak-anak sebagai generasi penerus bangsa.

Sebelum acara dimulai, para peserta mendapatkan kesempatan untuk cek HB secara gratis. Kenapa sih harus cek kadar hemoglobin secara rutin? Hal ini dikarenakan berkaitan dengan kondisi kesehatan kita. Kadar hemoglobin pada wanita mulai usia 18 hingga dewasa normalnya adalah 12-15 g/dl. Sedangkan pada pria, normalnya mulai 13-17 g/dl. Kadar hemoglobin yang rendah bisa menimbulkan Anemia atau kurang darah.

Peserta cek kadar HB di booth yang disediakan Maltofer

Saat Dokter mulai menjelaskan mengenai pentingnya zat besi bagi anak pada 1000 hari pertama kehidupannya, saya hanya bisa menyesali, kenapa saya tidak aware ketika itu. Saya merasa kebutuhan gizi dan nutrisi mereka tercukupi, termasuk kebutuhan zat besi. Sepanjang kehamilan saya lebih sering melewatkan pil tambah darah (yang mengandung zat besi) yang selalu diberikan oleh SPOG tiap kali kontrol. Tahu sendiri kan bagaimana rasa pil tambah darah yang biasa diberikan kepada ibu-ibu hamil? Bikin mual dan rasanya seperti menelan besi berkarat.

Padahal zat besi adalah nutrisi yang memiliki peran dalam memproduksi hemoglobin, komponen penting dalam sel darah merah yang bertugas menyalurkan oksigen ke seluruh tubuh. Tanpa zat besi yang cukup, pembentukan sel darah merah akan terhambat. Alhasil, organ-organ dalam tubuh anak pun tidak bisa mendapatkan oksigen yang dibutuhkan.

Kekurangan zat besi dapat memengaruhi perkembangan balita, terutama pada perilaku dan kemampuan belajarnya. Selain itu, kekurangan zat besi dapat membuat anak-anak lebih berisiko terkena Anemia. Penyebabnya adalah karena terganggunya produksi sel darah merah atau Hemoglobin yang penting bagi tubuh.

Gejala umum anemia adalah lesu, lemah, cepat letih, pucat lama, pusing, dan mudah mengantuk. Biasanya juga disertai dengan kulit kering, kuku kusam, dan kulit berwarna kuning.

Dokter Ristantio juga menjelaskan beberapa dampak buruk akibat anemia pada anak, diantaranya :
  • Gangguan tumbuh kembang anak
  • Menurunkan sistem kekebalan tubuh,
  • Gangguan pertumbuhan organ tubuh,
  • Gangguan perilaku.
  • Gangguan perkembangan otak
  • Simpul syaraf terganggu,
  • Penurunan konsentrasi,
  • Daya ingat rendah

Huhuhu...ternyata anemia bisa menimbulkan dampak yang cukup berbahaya bagi anak-anak, ya.

dr. Ristantio Soekarno sedang menjelaskan tentang pentingnya zat besi terhadap tumbuh kembang anak

Lalu, bagaimana caranya agar anak-anak tidak kekurangan zat besi?

Untuk mencegah agar anak tidak menderita Anemia Defisiensi Besi, maka kita perlu melakukan :
  • Pemberian suplementasi zat besi, disarankan saat atau setelah makan, selama dua hingga tiga bulan, hingga kadar Hb normal. Dengan pemberian yang teratur, kadar Hb akan meningkat 1g/dl tiap 1-2 minggu. Maltofer bisa jadi pilihan karena di setiap 5 ml, mengandung 50 mg zat besi sebagai Kompleks Besi (III)-hidroksi polimaltosa. Selain sebagai pengobatan defisiensi zat besi dan anemia (gejala defisiensi zat besi), Maltofer juga dapat menjadi terapi pencegahan defisiensi zat besi untuk memenuhi angka kecukupan gizi (AKG)
  • Agar penyerapan zat besi optimal, berikan anak vitamin C. Sebaliknya, hindari zat-zat yang dapat menghambat penyerapan zat besi, seperti susu, teh, telur, fitat, dan fosfat yang terdapat dalam tepung gandum.
  • Atur pola makan anak dengan memberikan makanan yang zat besinya mudah diserap, seperti daging, ikan, ayam, hati dan asam askorbat (makanan yang mengandung vitamin C).
  • Hindari minum susu sapi segar secara berlebihan.

Sekilas Tentang Maltofer 



Maltofer adalah suplementasi zat besi oral untuk mencukupi kebutuhan zat besi pada anak-anak, remaja, dan dewasa. Banyak orang mengalami defisiensi zat besi karena tidak mendapatkan zat besi yang cukup dari asupan makanan yang dikonsumsi, sehingga kadar zat besi dalam tubuh menjadi rendah.

Tak seperti suplementasi zat besi pada umumnya, Maltofer memiliki rasa coklat yang enak sehingga bisa dikonsumsi langsung. Zat besi yang terkandung dalam Maltofer, yaitu Iron Polymaltosa Complex (IPC) merupakan senyawa larut air yang terdiri dari inti besi (III)-hidroksida dengan polymaltosa shell yang menyerupai ferritin.

IPC diserap secara aktif dan terkontrol sehingga tubuh hanya menyerap zat besi sesuai kebutuhan masing-masing individu sehingga penyerapan zat besi menjadi efektif. Efek samping yang disebabkan karena adanya kelebihan zat besi seperti konstipasi dan mual jarang terjadi dan minimal dibandingkan dengan suplemen zat besi lainnya.



Ada empat varian Maltofer yang kini tersedia, yaitu :

  1. Maltofer Fol, tablet kunyah yang diperkaya dengan asam folat. Ini cocok banget untuk ibu hamil.
  2. Maltofer Chew, tablet kunyah IPC pertama di Indonesia untuk segala usia. Ini favorit saya, nih
  3. Maltofer Syrup, kemasan sirup isi 150 ml dengan kandungan 1 ml=10 mg Fe untuk anak dan dewasa. Kalo yang ini favorit anak-anak saya.
  4. Maltofer Drops, kemasan drop isi 30 ml, ini untuk bayi dan anak

Penyerapan yang aktif dan terkontrol memiliki beberapa manfaat dan telah terbukti secara klinis. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa mereka yang mengonsumsi Maltofer mengalami:
  • Efek samping yang minimal seperti konstipasi dan rasa mual.
  • Koreksi kadar zat besi dalam tubuh yang tepat.
  • Rasa nyaman dalam mengonsumsi suplemen zat besi bersamaan dengan makanan dan minuman lainnya.
  • Tidak ada interaksi jika diminum bersamaan dengan obat-obatan 
Zat besi merupakan salah satu nutrisi penting bagi tubuh yang diserap dari makanan yang kita konsumsi. Zat besi ini dibutuhkan untuk fungsi organ dan sel dalam tubuh karena zat besi membawa oksigen ke seluruh tubuh melalui hemoglobin (Hb) yang terdapat dalam sel darah merah.

Defisiensi zat besi terjadi ketika penyerapan zat besi kurang dari jumlah yang dibutuhkan oleh tubuh. Hal ini dapat disebabkan karena tidak tercukupinya zat besi yang diserap melalui makanan yang kita konsumsi.

Agar tidak terjadi defisiensi zat besi pada keluarga kita, saatnya kita lebih memperhatikan kondisi kesehatan diri kita dan buah hati kita tercinta, ya. Jangan sampai terlambat mendeteksi gejalanya, agar bisa segera ditangani dengan baik untuk menghindari terjadinya hal-hal yang tak diinginkan.

Oh iya, buat teman-teman yang ingin mencari tahu lebih lanjut mengenai informasi seputar zat besi dan info kesehatan lainnya, sila buka website nya Maltofer ya. Banyak sekali informasi yang akan kalian dapatkan di sana.

Selalu jaga kesehatan, ya!