Dear friends,

Meski saat ini saya tidak dalam kondisi hamil, tapi mengingat masa-masa kehamilan sungguh suatu hal yang menyenangkan. Bahkan terbersit keinginan untuk bisa merasakan hamil lagi, tapi apa daya usia saya sudah tidak memungkinkan untuk hamil lagi (meskipun apa sih yang mustahil bagi Allah). 

Usia di atas 40 tahun merupakan usia yang berisiko tinggi bagi perempuan untuk hamil. Ya meskipun banyak juga perempuan berusia di atas 40 tahun masih bisa hamil. 

Sejak menikah 22 tahun lalu, saya memiliki 3 putra dan putri yang lahir pada tahun 2001, 2006 dan 2012. Hamil 3 anak dengan kondisi yang berbeda-beda juga. Sewaktu hamil pertama, usia saya masih sangat muda yaitu 21 tahun. Masih bingung dengan kondisi mood yang sering berubah. Hamil kedua, saya bekerja sebagai guru di sebuah Taman Kanak-Kanak. Kehamilan saat itu saya merasa sangat aktif, tetapi sering menderita sakit gigi. Tapi, alhamdulillah bayi saya lahir dengan sehat. 


kehamilan ketiga saya adalah kehamilan yang tidak terduga. Meski tidak KB, saya dan suami sangat berhati-hati menjaga agar saya tidak hamil. Awalnya saya sudah merasa cukup dengan sepasang anak saja, akan tetapi Allah memberikan rezeki pada saya untuk hamil lagi. Saat itu saya sedang studi S1 Pendidikan Guru Anak Usia Dini, semester 7. 

Saat itu, saya tetap kuliah dan tidak mengambil cuti hingga melahirkan. Sambil mengurus bayi, saya mengerjakan skripsi sekaligus KKN dan PKL. Saya rela berlelah-lelah, bersusah payah daripada harus cuti dan menunda wisuda. Akhirnya, setelah berjuang selama setahun lebih mengerjakan skripsi, KKN dan PKL  akhirnya saya lulus dengan predikat cumlaude. 

Selama hamil, saya sangat sibuk dengan urusan kuliah, namun tak lupa mempersiapkan hal-hal yang perlu dipersiapkan sebelum melahirkan. Karena waktu saya tinggal berjauhan dengan suami. Suami tinggal di Semarang, saya tinggal di Purworejo. Jadi, mau tidak mau saya harus nyicil menyiapkan semua keperluan sendiri. Perlengkapan bayi yang perlu ada, diantaranya pakaian bayi, selimut-selimut, bedong dan perlengkapan bayi lainnya. 

Nah, beberapa hal yang perlu dipersiapkan sebelum melahirkan, antara lain :

Menentukan Rumah Sakit atau Tempat Bersalin

Seperti dua kelahiran sebelumnya, saya dan suami memutuskan untuk melahirkan di rumah sakit bersalin tempat saya biasa memeriksakan kehamilan. Kebetulan, dokter yang membantu saya bersalin adalah dokter yang biasa memeriksa saya, jadi sudah paham kondisi kesehatan saya dan bayi. 

Mempersiapkan Barang yang Perlu Dibawa

Mempersiapkan barang-barang yang perlu dibawa ke rumah sakit saat melahirkan juga perlu dilakukan dari jauh-jauh hari, sehingga barang-barang tersebut tidak akan terlupa atau tertinggal.

Berikut adalah beberapa barang keperluan ibu dan adek bayi yang perlu dibawa ke rumah sakit menjelang kelahiran:

  • Pakaian yang nyaman untuk persalinan
  • Ikat atau jepit rambut
  • Peralatan mandi
  • Pakaian dalam ganti
  • Jam tangan, guna melihat seberapa sering kontraksi yang Bumil alami
  • Bra khusus menyusui
  • Pembalut khusus ibu melahirkan, setidaknya 2 atau 3 bungkus, untuk menyerap banyak darah yang keluar setelah melahirkan
  • Perlengkapan bayi, seperti baju, popok, selimut, sarung tangan, kaus kaki, dan keranjang bayi

Memilih Cara Melahirkan

Metode melahirkan ada beragam dan masing-masing metode tersebut bisa disesuaikan dengan kondisi ibu dan janin atau preferensi ibu, jika kehamilan yang dijalani tidak bermasalah. Untuk menentukan metode persalinan yang paling aman, ibu hamil bisa berkonsultasi ke dokter saat menjalani pemeriksaan kandungan. Saya memilih melahirkan dengan normal (pervaginal) karena saya merasa mampu dan dokter pun menyarankan demikian. 

Konsultasi dengan Dokter

Sebelum melahirkan ada baiknya ibu hamil berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter, untuk menentukan metode melahirkan yang tepat bagi ibu hamil dan memeriksakan kondisi calon bayi yang akan dilahirkan. 

Mempersiapkan segala sesuatunya sebelum melahirkan wajib sekali dilakukan, agar proses melahirkan berjalan dengan lancar.